IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Serangan AS-Iran Makin Menjadi, Harga Minyak Brent Tembus US$ 90 per Barel!

By Aurelia 21 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ maintenanceandcure.com
SHARE

[Medan | 20 Juli 2026] Harga minyak mentah dunia kembali melonjak setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas sepanjang akhir pekan. Kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global mendorong minyak Brent menembus level US$90 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juni.

Brent tercatat naik lebih dari 3% ke level US$90,99 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat hampir 3% ke kisaran US$84,82 per barel.

Lonjakan harga terjadi setelah Iran menyatakan gencatan senjata dengan Amerika Serikat telah berakhir. Situasi semakin memburuk setelah kedua negara kembali meningkatkan aksi militer, mulai dari penyergapan kapal di Selat Hormuz hingga serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk.

Infrastruktur Energi Mulai Menjadi Sasaran

Ketegangan kali ini tidak lagi hanya menyasar instalasi militer. Iran dilaporkan menyerang salah satu fasilitas minyak milik Kuwait Petroleum Corporation yang mengakibatkan kerusakan cukup besar. Di saat yang sama, Angkatan Laut Iran menghentikan beberapa kapal yang melintas di Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat kembali memperketat blokade terhadap jalur pelayaran tersebut.

Risiko terhadap distribusi minyak dunia pun semakin meningkat mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Analis energi MST Marquee, Saul Kavonic, menilai eskalasi terbaru menunjukkan konflik berpotensi berlangsung lebih lama. Menurutnya, apabila serangan mulai menargetkan infrastruktur minyak atau kelompok Houthi kembali mengganggu jalur Laut Merah, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi lagi.

Brent di Atas US$90, Apa Dampaknya?

Kenaikan Brent ke atas US$90 per barel menjadi perhatian pasar karena level tersebut mulai meningkatkan tekanan inflasi global. Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, harga energi yang lebih tinggi berpotensi memperbesar impor migas, meningkatkan permintaan dolar AS, serta kembali memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang cukup lama, pemerintah maupun Pertamina berpotensi melakukan penyesuaian harga BBM. Kondisi tersebut dapat mendorong inflasi domestik kembali meningkat setelah sebelumnya mulai menunjukkan tren yang lebih stabil.

Ruang Kenaikan Suku Bunga Kembali Terbuka

Lonjakan harga minyak juga berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral. Beberapa hari sebelumnya, pelaku pasar mulai memperkirakan Federal Reserve memiliki ruang untuk menahan suku bunga setelah inflasi AS melandai. Namun, kenaikan harga energi dapat kembali mendorong inflasi dalam beberapa bulan mendatang sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas.

Di Indonesia, kondisi tersebut juga menjadi perhatian menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan ini. Meskipun mayoritas ekonom masih memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%, kenaikan harga minyak membuat peluang pengetatan lanjutan belum sepenuhnya tertutup. Jika tekanan terhadap rupiah maupun inflasi kembali meningkat, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Pasar Berpotensi Tetap Volatil

Dalam jangka pendek, pergerakan pasar keuangan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Selama belum ada tanda-tanda deeskalasi, harga minyak diperkirakan tetap bertahan tinggi sehingga volatilitas pada pasar obligasi, nilai tukar rupiah, maupun pasar saham masih berpotensi berlanjut.

Bagi investor, fokus tidak lagi hanya tertuju pada konflik itu sendiri, tetapi juga bagaimana lonjakan harga energi tersebut akan memengaruhi arah inflasi dan kebijakan suku bunga bank-bank sentral dalam beberapa bulan ke depan.

 

 

You Might Also Like

Gagal Bayar Sukuk, Fitch Ratings Downgrade Peringkat Utang Pos Indonesia

AS-China Panas Lagi, Trump Tuduh China Intervensi Pemilu 2020

Siap-siap! Ada Rapat Suku Bunga Bank Indonesia Hari Rabu Ini

Penjualan Ritel AS Naik Tipis di Juni 2026

Klaim Pengangguran AS Turun, Pasar Tenaga Kerja Tetap Kuat

TAGGED: harga minyak, perang AS-Iran
Aurelia July 20, 2026 July 20, 2026
Previous Article Siap-siap! Ada Rapat Suku Bunga Bank Indonesia Hari Rabu Ini
Next Article AS-China Panas Lagi, Trump Tuduh China Intervensi Pemilu 2020
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?