IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

AS-Iran Balik Negosiasi, Harga Minyak Turun

By Aurelia 4 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ news.detik.com
SHARE

[Medan | 3 November 2026] Harga minyak dunia mencatat penurunan harian terdalam dalam tiga bulan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengisyaratkan keterbukaan untuk kembali berunding guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Harapan meredanya ketegangan tersebut mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga energi.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) anjlok 7,4% dan ditutup di kisaran US$96,50 per barel. Penurunan ini sekaligus membawa harga minyak acuan AS kembali ke bawah level psikologis US$100 per barel. Sentimen positif datang setelah Pemimpin Tertinggi Iran menyetujui langkah pemerintah untuk mengupayakan perundingan dengan Washington, menurut laporan kantor berita pemerintah Iran, IRNA.

Perkembangan tersebut memperkuat optimisme pasar setelah sebelumnya muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu keinginannya untuk memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi dengan Iran.

Premi Risiko Geopolitik Mulai Berkurang

Harapan tercapainya perundingan membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak dan gas. Premi risiko merupakan tambahan harga yang muncul karena pasar memperhitungkan potensi gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.

Tekanan penurunan tidak hanya terjadi pada minyak mentah. Kontrak berjangka gas alam acuan Eropa sempat turun hampir 11%, sementara minyak pemanas AS mencatatkan penurunan terdalam dalam enam bulan. “Sejumlah besar premi risiko mulai tergerus dari harga minyak mentah maupun gas alam Eropa,” kata Darrell Fletcher, managing director bidang komoditas di Bannockburn Capital Markets.

Sebelumnya, terbatasnya pasokan dari kawasan Teluk Persia serta meningkatnya serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dalam beberapa bulan terakhir.

Penurunan harga minyak juga terjadi menjelang pemilihan paruh waktu AS pada Selasa (3/11/2026). Tingginya harga bahan bakar telah menjadi salah satu tekanan ekonomi bagi masyarakat AS, sehingga perkembangan harga energi turut menjadi perhatian menjelang pemungutan suara.

Trump menyoroti penurunan harga minyak dalam pernyataannya pada Senin. Ketika ditanya apakah AS akan kembali menyerang Iran setelah pemilihan, Trump menjawab, “tidak”, menurut laporan kelompok wartawan yang mendampinginya.

Risiko Gangguan Selat Hormuz Belum Hilang

Meski harga minyak turun tajam, pasar belum sepenuhnya yakin konflik akan segera berakhir. Proses diplomasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi ketidakpastian, terutama karena kedua pihak belum mencapai kesepakatan mengenai persyaratan pembukaan kembali jalur energi strategis secara penuh.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Risiko serangan terhadap kapal-kapal yang melintas masih membayangi industri pelayaran, meskipun negara-negara produsen di kawasan Teluk Persia telah meningkatkan volume pengiriman minyak hingga pada beberapa kesempatan mendekati tingkat sebelum perang.

Dengan demikian, keterbukaan untuk berunding belum otomatis menghilangkan risiko gangguan pasokan. Perubahan sikap politik atau kegagalan negosiasi masih berpotensi memicu kenaikan harga minyak kembali.

Aksi Jual Diperkuat Faktor Teknikal

Tekanan jual di pasar minyak juga diperbesar oleh faktor teknikal. Data Bridgeton Research Group milik Kpler menunjukkan bahwa penasihat perdagangan komoditas berbasis tren (trend-following commodity trading advisers/CTA) memangkas posisi beli pada kontrak Brent menjadi 91%, dari sebelumnya 100% pada awal sesi perdagangan.

Strategi perdagangan otomatis seperti ini dapat memperbesar pergerakan harga ketika sejumlah sistem secara bersamaan mengurangi posisi beli. Sebelumnya, harga minyak sempat menguat sepanjang Oktober dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan, meskipun arus pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz kembali meningkat.

Di sisi lain, risiko geopolitik juga masih muncul dari luar Timur Tengah. Kazakhstan untuk sementara menghentikan aliran minyak mentah menuju Rusia melalui jaringan pipa Atyrau-Samara setelah terjadi serangan pesawat nirawak. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama ekspor minyak Kazakhstan. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, volume pengiriman melalui jalur tersebut mencapai sekitar 7,5 juta ton atau sedikit di atas 200.000 barel per hari.

Dampak terhadap Inflasi dan Pasar Keuangan

Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi global apabila bertahan dalam beberapa waktu ke depan. Harga energi yang lebih rendah dapat menekan biaya transportasi dan produksi, sekaligus mengurangi beban subsidi energi bagi negara yang mengimpor minyak.

Bagi Indonesia, perkembangan ini perlu diperhatikan karena harga minyak berpengaruh terhadap biaya impor energi, inflasi, nilai tukar, serta kondisi fiskal pemerintah. Jika harga minyak turun secara berkelanjutan, tekanan terhadap biaya energi dan kebutuhan subsidi berpotensi berkurang.

Dari sisi pasar keuangan, meredanya kekhawatiran inflasi dapat memberikan ruang bagi penurunan imbal hasil obligasi global, termasuk US Treasury. Kondisi tersebut berpotensi mendukung aset berisiko dan pasar negara berkembang, meskipun pergerakan rupiah dan obligasi pemerintah Indonesia tetap dipengaruhi faktor lain, seperti arah suku bunga AS, kebijakan Bank Indonesia, dan arus modal asing.

Namun, pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran dan keamanan Selat Hormuz. Jika perundingan gagal atau ketegangan kembali meningkat, premi risiko geopolitik dapat muncul kembali dan mendorong harga minyak naik. Dengan demikian, penurunan harga minyak saat ini mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap risiko pasokan, bukan kepastian bahwa gangguan energi global telah berakhir.

You Might Also Like

Jaga Daya Beli, Pemerintah Siapkan Diskon Nataru dan Bansos Rp 30T

Pemilu Sela AS 2026, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Inflasi PCE AS Naik dan PDB Kuat, The Fed Bakalan Higher for Longer?

Gubernur ECB Lagarde Bakal Mundur 7 Februari 2027, Ada Apa?

Hashim Sebut Rupiah Berpotensi ke Rp 22.000/US$, Ini Tanggapan Gubernur BI!

Aurelia November 3, 2026 November 3, 2026
Previous Article Jaga Daya Beli, Pemerintah Siapkan Diskon Nataru dan Bansos Rp 30T
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?