IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Pemilu Sela AS 2026, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

By Aurelia 1 day ago Ekonomi
SHARE

[Medan | 3 November 2026] Amerika Serikat menggelar pemilihan umum sela atau US Midterm Elections pada Selasa (3/11/2026) waktu setempat, atau mulai Rabu (4/11/2026) dini hari WIB. Hasil pemilu ini akan menentukan komposisi kekuatan politik di Kongres AS dan memengaruhi ruang gerak Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda pemerintahannya.

 

Berbeda dengan pemilihan presiden, masyarakat AS tidak memilih presiden dalam pemilu sela. Donald Trump tetap menjabat sebagai Presiden hingga akhir masa jabatannya. Namun, hasil pemilu dapat mengubah keseimbangan kekuasaan antara Partai Republik dan Partai Demokrat di Kongres.

Apa yang Dipilih dalam Midterm Elections?

Dalam pemilu sela kali ini, pemilih akan menentukan:

– 435 anggota House of Representatives (DPR AS): seluruh kursi diperebutkan.

– 35 dari 100 anggota Senate (Senat AS): hanya sebagian kursi yang diperebutkan.

Kedua lembaga tersebut memiliki peran penting dalam menyetujui undang-undang, anggaran pemerintah, kebijakan perpajakan, hingga berbagai regulasi ekonomi. Dengan demikian, partai yang menguasai Kongres memiliki pengaruh besar terhadap kelanjutan agenda pemerintahan AS.

Apa Dampaknya bagi Donald Trump?

Saat ini, Partai Republik menguasai House of Representatives dan Senate. Hasil pemilu dapat mengubah keseimbangan kekuasaan tersebut.

– Jika Partai Republik mempertahankan mayoritas: Trump akan memiliki dukungan politik yang lebih besar di Kongres untuk melanjutkan agenda pemerintahannya, termasuk kebijakan pajak, anggaran, dan perdagangan.

– Jika Partai Demokrat mengambil alih salah satu atau kedua kamar Kongres: sejumlah kebijakan Trump berpotensi menghadapi hambatan lebih besar. Pengawasan Kongres terhadap pemerintahan juga dapat meningkat.

Meski demikian, perubahan mayoritas Kongres tidak otomatis membatalkan seluruh kebijakan pemerintah. Proses legislasi tetap membutuhkan mekanisme persetujuan yang berlaku, sementara Presiden masih memiliki kewenangan eksekutif dan hak veto.

Peta Skenario JPMorgan: Bagaimana Pasar Membaca Hasil Pemilu?

Berdasarkan data Bloomberg Prediction Markets per 1 November 2026, terdapat empat kemungkinan komposisi kekuasaan Kongres. JPMorgan juga menyusun proyeksi mengenai potensi respons pasar saham AS terhadap masing-masing skenario.

  1. Blue Wave – 66%

Demokrat menguasai House dan Senate.

– Belanja defisit pemerintah AS berpotensi lebih terkendali.

– Yield obligasi jangka panjang AS diperkirakan sedikit turun.

– S&P 500 diproyeksikan bergerak dalam rentang -0,25% hingga +0,50%.

– Saham teknologi dan AI berpotensi menghadapi kekhawatiran terkait pengetatan regulasi.

  1. Split Congress – 26%

Demokrat menguasai House, sedangkan Republik mempertahankan Senate.

– Pengurangan belanja defisit berpotensi menekan yield obligasi jangka panjang AS.

– S&P 500 diproyeksikan naik 0,50%–1,00%.

– Perbedaan kendali Kongres dapat membuat pembahasan anggaran 2027 lebih sulit.

  1. Red Wave – 7%

Republik menguasai House dan Senate.

– Kebijakan pemerintahan Trump berpotensi lebih mudah dilanjutkan.

– Belanja defisit yang tetap tinggi berpotensi mendorong yield obligasi jangka panjang AS naik.

– S&P 500 diproyeksikan naik 1,00%–1,25%.

  1. Other Split – 1%

Republik menguasai House, sedangkan Demokrat menguasai Senate.

– Perbedaan kendali Kongres berpotensi memicu perdebatan dalam pembahasan anggaran.

– S&P 500 diproyeksikan naik 0,25%–0,75%.

Catatan: Probabilitas berdasarkan Bloomberg Prediction Markets per 1 November 2026. Proyeksi pergerakan S&P 500 merupakan estimasi JPMorgan, bukan jaminan hasil pasar.

Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Dampak pemilu AS terhadap Indonesia terutama akan terasa melalui pergerakan yield US Treasury, dolar AS, dan arus modal asing. Ketiganya merupakan faktor penting yang dapat memengaruhi pasar saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah.

  1. Rupiah

Jika ketidakpastian politik meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, dolar AS berpotensi menguat dan memberikan tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, jika hasil pemilu mendorong penurunan yield obligasi AS dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi berkurang.

  1. Surat Berharga Negara (SBN)

Yield US Treasury menjadi salah satu acuan investor global dalam menentukan imbal hasil yang diminta dari obligasi negara berkembang. Jika yield US Treasury turun, tekanan terhadap yield SBN berpotensi berkurang sehingga harga obligasi Indonesia dapat memperoleh dukungan. Sebaliknya, kenaikan yield Treasury dapat membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang SBN. Kondisi ini berpotensi menekan harga obligasi domestik.

  1. IHSG

Jika hasil pemilu meningkatkan optimisme pasar global, minat investor terhadap aset berisiko dapat meningkat dan membuka peluang masuknya dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, jika ketidakpastian meningkat dan investor memilih mengurangi risiko, pasar saham Indonesia berpotensi ikut mengalami tekanan jual.

Key Takeaway

Pasar saat ini menempatkan skenario Blue Wave sebagai kemungkinan dengan probabilitas tertinggi sebesar 66%, berdasarkan Bloomberg Prediction Markets per 1 November 2026. Jika skenario tersebut terjadi, pengurangan belanja defisit AS berpotensi menekan yield obligasi jangka panjang. Namun, sektor teknologi dan AI dapat menghadapi kekhawatiran terkait regulasi yang lebih ketat.

Bagi investor Indonesia, perhatian utama bukan hanya siapa yang menguasai Kongres AS, melainkan bagaimana hasil pemilu memengaruhi yield US Treasury, dolar AS, dan arus modal global. Pergerakan ketiga faktor tersebut dapat memberikan dampak lanjutan terhadap rupiah, harga SBN, dan IHSG.

 

You Might Also Like

AS-Iran Balik Negosiasi, Harga Minyak Turun

Jaga Daya Beli, Pemerintah Siapkan Diskon Nataru dan Bansos Rp 30T

Inflasi PCE AS Naik dan PDB Kuat, The Fed Bakalan Higher for Longer?

Gubernur ECB Lagarde Bakal Mundur 7 Februari 2027, Ada Apa?

Hashim Sebut Rupiah Berpotensi ke Rp 22.000/US$, Ini Tanggapan Gubernur BI!

Aurelia November 3, 2026 November 3, 2026
Previous Article BEI Akan Delisting 18 Saham Pekan Depan, Apa Aja?
Next Article Jaga Daya Beli, Pemerintah Siapkan Diskon Nataru dan Bansos Rp 30T
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?