IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Rapat Suku Bunga Hari Ini, BI Bakal Tahan atau Naikkan Suku Bunga?

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ unair.ac.id
SHARE

[Medan | 22 Juli 2026] Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 Juli 2026. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya risiko inflasi menjadi alasan utama di balik ekspektasi tersebut.

Berdasarkan polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi keuangan dan lembaga riset, delapan responden memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%, sementara enam responden lainnya memprediksi suku bunga akan dipertahankan di level 5,75%.

Apabila proyeksi mayoritas tersebut terealisasi, maka ini akan menjadi kenaikan suku bunga keempat sepanjang 2026, setelah BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei lalu.

Rupiah Masih Menjadi Fokus Utama

Stabilitas rupiah diperkirakan tetap menjadi prioritas utama Bank Indonesia. Hingga perdagangan Senin (21/7/2026), rupiah ditutup di Rp17.930 per dolar AS, atau melemah sekitar 7,5% sejak awal tahun. Meski telah berhasil menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap rupiah masih cukup besar seiring menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

Konflik yang kembali memanas di Timur Tengah juga mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga kembali menembus US$90 per barel, sehingga meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sekaligus memperbesar tekanan terhadap nilai tukar. Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga dinilai dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan membantu menahan arus keluar modal asing.

Namun Pasar Mulai Terbelah

Meski mayoritas ekonom masih memperkirakan kenaikan suku bunga, pandangan pasar mulai terbelah. Kelompok yang memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga menilai tekanan terhadap rupiah, meningkatnya risiko inflasi akibat kenaikan harga energi, serta potensi pengetatan lanjutan The Fed membuat BI perlu memperkuat stabilitas makroekonomi sejak dini.

Di sisi lain, kelompok yang memperkirakan BI akan menahan suku bunga berpendapat bahwa kenaikan kumulatif 100 basis poin sejak Mei belum sepenuhnya bekerja terhadap perekonomian. Selain itu, aktivitas manufaktur masih melemah dan biaya pinjaman domestik mulai meningkat sehingga ruang pengetatan dinilai semakin terbatas.

Inflasi Masih Dalam Target, Tapi Risikonya Meningkat

Inflasi Indonesia pada Juni tercatat 3,34% secara tahunan, masih berada dalam target BI sebesar 2,5% ±1%, namun sudah semakin mendekati batas atas target. Yang menjadi perhatian bukan hanya inflasi saat ini, melainkan potensi kenaikan inflasi beberapa bulan ke depan.

Harga minyak Brent yang kembali berada di atas US$90 per barel meningkatkan risiko kenaikan biaya impor energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut dan bukan tidak mungkin pemerintah maupun Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga BBM. Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi yang lebih tinggi pada semester II-2026.

Artinya, bahkan jika BI memutuskan menahan suku bunga pada Juli, ruang untuk kembali menaikkan BI Rate pada pertemuan berikutnya masih terbuka apabila tekanan inflasi dan pelemahan rupiah semakin besar.

Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Bagi pelaku pasar, keputusan hari ini kemungkinan bukan menjadi faktor yang paling menentukan. Yang jauh lebih penting adalah pernyataan Gubernur Bank Indonesia mengenai arah kebijakan selanjutnya.

Apabila BI menaikkan suku bunga menjadi 6,00% namun mengindikasikan bahwa siklus pengetatan hampir selesai, pasar berpotensi merespons positif. Sebaliknya, apabila BI mempertahankan suku bunga tetapi memberikan sinyal bahwa kenaikan masih sangat mungkin dilakukan pada RDG berikutnya, pasar kemungkinan akan tetap bersikap wait and see.

Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, harga minyak yang kembali meningkat, dan The Fed yang juga belum menutup peluang kenaikan suku bunga, investor disarankan tetap selektif. Fokus pasar dalam beberapa pekan ke depan akan bergeser pada perkembangan harga energi, pergerakan rupiah, serta komunikasi lanjutan Bank Indonesia mengenai arah kebijakan moneter pada semester kedua tahun ini.

 

You Might Also Like

Yen Tembus 163 per Dolar AS, Bank Sentral Jepang Siap Intervensi?

AS-Iran Masih Panas, Harga Minyak Tembus US$ 90 Lagi

Nanik Sudaryati Mundur dari Kepala BGN, Ada Apa?

IHSG Hijau 10 Hari Berturut-turut, Badai Sudah Berlalu?

Houthi Blokir Laut Merah, Tutup Akses Arab Saudi

TAGGED: Bank Indonesia, BI, BI suku bunga
Aurelia July 22, 2026 July 22, 2026
Previous Article IHSG Hijau 10 Hari Berturut-turut, Badai Sudah Berlalu?
Next Article Nanik Sudaryati Mundur dari Kepala BGN, Ada Apa?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?