[Medan | 22 Juli 2026] INilai tukar yen Jepang kembali tertekan hingga menembus level 163 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Pelemahan tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), serta menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Selasa di New York, yen sempat menyentuh 163,24 per dolar AS, level terlemah sejak 1986. Memasuki sesi perdagangan Asia pada Rabu pagi, mata uang Jepang diperdagangkan di kisaran 163,21 per dolar AS.
Dolar Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah
Penguatan dolar AS terjadi setelah militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut, meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Analis Commonwealth Bank of Australia, Samara Hammoud, menilai konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah berpotensi mempertahankan penguatan dolar karena mata uang AS masih menjadi aset lindung nilai utama ketika ketidakpastian global meningkat.
Di pasar mata uang lainnya, euro diperdagangkan di sekitar US$1,14, sementara pound sterling melemah ke US$1,3385. Dolar Australia bertahan di kisaran US$0,70, sedangkan dolar Selandia Baru berada di sekitar US$0,5825.
Harga Minyak dan Yield Treasury Jadi Tekanan Tambahan
Selain sentimen geopolitik, pelemahan yen juga dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh US$91,99 per barel, tertinggi dalam sekitar enam pekan. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat. Yield Treasury tenor 30 tahun naik hingga 5,15%, tertinggi dalam dua bulan, sementara yield obligasi tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,64%, level tertinggi sejak Mei. Kenaikan yield tersebut memperlebar selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang, sehingga semakin meningkatkan daya tarik dolar AS dibandingkan yen.
Pasar Mulai Berspekulasi Soal Intervensi Jepang
Pelemahan yen yang kembali menembus level 163 memunculkan spekulasi bahwa pemerintah Jepang dapat kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing. Sebelumnya, otoritas Jepang sempat melakukan intervensi besar-besaran pada April dan Mei ketika kurs dolar AS menembus level 160 yen. Namun, dampak kebijakan tersebut hanya mampu menahan pelemahan yen untuk sementara.
Belakangan, pemerintah Jepang dinilai lebih memilih menggunakan strategi intervensi yang tidak mudah diprediksi agar pasar tetap waspada, dibandingkan memberikan sinyal terbuka seperti sebelumnya.
Intervensi Dinilai Hanya Efektif Sementara
Meski peluang intervensi kembali meningkat, sejumlah analis menilai langkah tersebut belum tentu mampu membalikkan tren pelemahan yen dalam jangka panjang.
HSBC memperkirakan pasangan dolar AS terhadap yen masih berpotensi bergerak di kisaran 160–165 yen per dolar AS. Menurut mereka, intervensi pemerintah kemungkinan hanya akan memperlambat pelemahan yen apabila tidak disertai perubahan fundamental, seperti kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh Bank of Japan (BOJ), penurunan suku bunga Federal Reserve, atau membaiknya kondisi fiskal Jepang.
Selama perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang masih lebar serta ketidakpastian global tetap tinggi, tekanan terhadap yen diperkirakan masih akan berlanjut meski otoritas Jepang kembali masuk ke pasar valuta asing.

