IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75%!

By Aurelia 2 months ago Ekonomi
Image source: AP/ cnbcindonesia.com
SHARE

[Medan | 22 Juli 2026] Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 21-22 Juli 2026. Selain itu, BI juga memutuskan untuk menahan suku bunga deposit facility di level 4,75% dan lending facility di level 6,50%.

Keputusan mempertahankan BI-Rate mencerminkan kehati-hatian bank sentral dalam menilai efektivitas pengetatan moneter yang telah dilakukan sejak Mei 2026. Dalam tiga kali pertemuan terakhir, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin, dari 4,75% menjadi 5,75%, guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, kenaikan tersebut masih memerlukan waktu untuk ditransmisikan ke pasar uang, obligasi, nilai tukar, penyaluran kredit, hingga ekspektasi inflasi. Karena itu, tambahan kenaikan suku bunga saat ini dinilai belum mendesak. “Keputusan menahan suku bunga dengan komunikasi yang tetap tegas lebih sehat dibandingkan menaikkan suku bunga hanya untuk mengejar sentimen jangka pendek,” ujar Josua.

Harga Minyak dan Rupiah Masih Menjadi Risiko

Meski mempertahankan suku bunga, BI masih menghadapi tekanan eksternal yang cukup besar. Harga minyak Brent kembali menembus level US$90 per barel akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan imported inflation.

Di sisi lain, ketidakpastian global serta potensi arus keluar modal masih berisiko menekan nilai tukar rupiah. Menurut Josua, BI diperkirakan tetap mempertahankan sikap hawkish dan siap menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat secara signifikan.

Suku Bunga Bukan Satu-satunya Instrumen

Josua menilai stabilitas rupiah tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan suku bunga. BI juga perlu mengoptimalkan berbagai instrumen lain, seperti intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), operasi pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga pasokan devisa hasil ekspor.

Pemerintah juga dinilai perlu mendukung melalui kebijakan fiskal, stabilisasi harga pangan dan energi, serta menjaga kepastian kebijakan ekonomi agar beban menjaga stabilitas rupiah tidak hanya bertumpu pada BI.

Level 5,75% Dinilai Sudah Cukup Ketat

Menurut Josua, level BI-Rate saat ini telah berada pada tingkat yang cukup restriktif. Dampaknya mulai terlihat pada meningkatnya biaya pendanaan perbankan, penyesuaian suku bunga kredit, hingga perlambatan aktivitas manufaktur.

Data PMI Manufaktur Juni menunjukkan penurunan pesanan baru, produksi, pembelian bahan baku, dan tenaga kerja, sementara tekanan biaya kembali meningkat. Tambahan kenaikan suku bunga dikhawatirkan justru memperbesar tekanan terhadap investasi, modal kerja perusahaan, dan konsumsi masyarakat.

BI Diperkirakan Tetap Hawkish

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya juga menilai prospek ekonomi global masih dibayangi perlambatan permintaan dunia, melemahnya ekonomi Tiongkok, serta potensi suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama. Di sisi domestik, surplus perdagangan mulai menyempit dan cadangan devisa mengalami penurunan.

Dengan berbagai risiko tersebut, BI diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan moneter dalam fase netral-ketat. Artinya, meski suku bunga ditahan pada RDG Juli, peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih relatif kecil, sementara ruang untuk kembali menaikkan suku bunga tetap terbuka apabila tekanan terhadap rupiah maupun inflasi kembali meningkat.

You Might Also Like

Intervensi Yen, Cadangan Devisa Jepang Anjlok Terendah Dalam 4 Tahun

Harga Minyak Tembus US$ 97 Usai AS dan Iran Saling Serang Lagi

Data Tenaga Kerja AS Kuat, The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga?

BI dan Kemenkeu Kini Sudah Punya Jadwal Penempatan SAL di Himbara

Dolar AS Jatuh ke Level Terendah Sejak Mei, Yen Balik Menguat

TAGGED: RDG Juni BI, suku bunga BI
Aurelia July 22, 2026 July 22, 2026
Previous Article Yen Tembus 163 per Dolar AS, Bank Sentral Jepang Siap Intervensi?
Next Article BI Tahan Suku Bunga, Pilih Insentif Baru Untuk Jaga Rupiah
1 Comment
  • WillisFaugh says:
    September 1, 2026 at 9:55 PM

    Раздел «Производство» подтверждает статус завода, а не просто перекупщика
    https://redmetsplav.ru/store/magniy-i-ego-splavy/zarubezhnye-splavy-2/magniy-mt1—jis-h-4202/izdeliya-iz-magniya-mt1—jis-h-4202/

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?