[Medan | 22 Juli 2026] Harga minyak dunia kembali menguat pada awal perdagangan Rabu (22/7/2026) setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkat. Aksi saling serang yang masih berlangsung memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, terutama dari kawasan Timur Tengah.
Hingga awal perdagangan Rabu, minyak mentah Brent naik 0,55% menjadi US$91,51 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,36% ke US$84,64 per barel.
Serangan Berlanjut, Pasar Khawatir Pasokan Terganggu
Penguatan harga minyak terjadi setelah Brent pada perdagangan sebelumnya ditutup di level tertinggi dalam sekitar lima pekan. Sentimen utama datang dari meningkatnya konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer di wilayah selatan dan barat Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Militer AS juga mengonfirmasi telah memasuki gelombang serangan malam ke-11 secara berturut-turut terhadap target-target militer Iran. Serangan tersebut berlangsung tidak lama setelah Kuwait mengumumkan berhasil mencegat sejumlah drone yang diluncurkan Iran.
Laut Merah Jadi Titik Risiko Baru
Selain Selat Hormuz, perhatian pasar kini mulai bergeser ke Selat Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Kelompok tersebut juga mengancam akan menyerang kapal-kapal yang mengangkut minyak Saudi, meningkatkan risiko gangguan pada salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Peran Bab el-Mandeb semakin vital dalam beberapa pekan terakhir karena sebagian arus ekspor minyak Teluk dialihkan ke Laut Merah setelah aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz menurun akibat memburuknya situasi keamanan.
Investor Menunggu Data Persediaan Minyak AS
Di luar faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan fundamental pasar energi. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah dan produk distilat Amerika Serikat meningkat pada pekan lalu, sementara stok bensin justru mengalami penurunan.
Investor kini menunggu laporan resmi Energy Information Administration (EIA) yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi pasokan dan permintaan minyak di Amerika Serikat sebagai konsumen energi terbesar di dunia.
Harga Minyak Berpotensi Tetap Tinggi
Selama konflik AS-Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, harga minyak diperkirakan masih akan bertahan pada level tinggi. Kombinasi serangan militer yang terus berlanjut, ancaman terhadap dua jalur distribusi energi utama dunia, Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, serta meningkatnya risiko gangguan pasokan menjadi faktor utama yang menopang harga minyak.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi melalui kenaikan biaya impor energi, memperlemah rupiah, serta memperbesar peluang Bank Indonesia mempertahankan kebijakan moneter yang ketat hingga tekanan harga mulai mereda.

