[Medan | 12 Agustus 2026] Bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC), meningkatkan pembelian emas pada Juli 2026 dengan menambah sekitar 20 ton ke dalam cadangan devisanya. Penambahan tersebut menjadi yang terbesar sejak Oktober 2023 sekaligus memperpanjang tren akumulasi emas PBOC yang telah berlangsung selama 21 bulan berturut-turut.
Berdasarkan data PBOC yang dirilis Jumat, cadangan emas China bertambah 640.000 troy ons atau sekitar 20 ton pada Juli. Angka tersebut meningkat dibandingkan penambahan sekitar 15 ton pada Juni. Akumulasi tersebut dilakukan ketika harga emas masih bertahan di atas US$4.000 per troy ons, menunjukkan bahwa PBOC tetap meningkatkan eksposur terhadap emas meskipun harga logam mulia berada pada level yang tinggi.
PBOC Perpanjang Akumulasi Emas
Pembelian pada Juli memperpanjang tren pembelian emas PBOC menjadi 21 bulan berturut-turut. Langkah tersebut menunjukkan bahwa emas tetap menjadi bagian penting dalam strategi diversifikasi cadangan devisa China. Selain menambah cadangan emas secara keseluruhan, PBOC juga dilaporkan meningkatkan kepemilikan emasnya di Hong Kong dalam beberapa bulan terakhir. Menurut sumber yang mengetahui perkembangan tersebut, langkah itu turut mendukung ambisi Hong Kong untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas batangan.
PBOC juga disebut telah memindahkan sebagian cadangan emasnya dari London kembali ke China. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa strategi China bukan hanya meningkatkan jumlah cadangan emas, tetapi juga memperkuat penyimpanan dan infrastruktur perdagangan emas di dalam negeri.
Harga Emas Kembali Cetak Level Tinggi
Akumulasi PBOC memberikan sentimen positif tambahan bagi pasar emas. Harga emas spot sempat melonjak hingga 1,8% ke US$4.316 per troy ons setelah data pembelian PBOC dirilis, sekaligus menjadi level tertinggi sejak pertengahan Juni. Harga emas juga mendapatkan dukungan dari ekspektasi bahwa perkembangan terkait Selat Hormuz dapat memengaruhi inflasi energi dan arah kebijakan moneter. Jika ketegangan AS-Iran mereda dan harga energi turun, tekanan inflasi dapat berkurang sehingga peluang pelonggaran kebijakan moneter kembali terbuka.
Namun, kenaikan emas tidak hanya ditentukan oleh geopolitik dan suku bunga. Pembelian bank sentral juga menjadi salah satu sumber permintaan struktural yang semakin penting bagi pasar emas. Secara global, bank sentral membeli sekitar 289 metrik ton emas pada kuartal II berdasarkan estimasi World Gold Council. Meskipun pembelian sektor resmi pulih dibandingkan kuartal sebelumnya, total pembelian bank sentral diperkirakan masih menurun sepanjang tahun ini.
China Perkuat Diversifikasi Cadangan
Aksi PBOC menunjukkan bahwa China masih melihat emas sebagai instrumen strategis dalam pengelolaan cadangan devisa. Ketika harga emas sudah berada di atas US$4.000 per troy ons, keputusan untuk tetap membeli dalam jumlah besar menunjukkan bahwa pertimbangan PBOC tidak semata-mata berorientasi pada harga jangka pendek.
Akumulasi emas dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi cadangan dan mengurangi ketergantungan terhadap aset tertentu. Bagi pasar global, pembelian berkelanjutan dari bank sentral juga menciptakan sumber permintaan yang lebih bersifat struktural dibandingkan permintaan investor ritel atau spekulatif. Jika tren pembelian bank sentral berlanjut, level harga emas yang tinggi berpotensi tetap mendapatkan dukungan meskipun terjadi koreksi jangka pendek.
Dampak ke Pasar
Bagi emas, perkembangan ini menjadi sentimen positif. Pembelian PBOC yang mencapai 20 ton pada Juli menunjukkan permintaan resmi tetap kuat meskipun harga emas telah berada di level tinggi. Jika bank sentral lain mengikuti pola serupa, koreksi harga emas berpotensi lebih terbatas karena terdapat permintaan struktural di bawah pasar.
Untuk dolar AS, peningkatan akumulasi emas oleh China dapat menjadi sinyal diversifikasi cadangan jangka panjang. Namun, dampaknya terhadap dolar dalam jangka pendek relatif terbatas karena pergerakan greenback tetap lebih sensitif terhadap kebijakan The Fed, yield Treasury AS, dan data ekonomi AS.
Bagi obligasi, hubungan dengan emas terutama berasal dari ekspektasi suku bunga. Jika inflasi AS melandai dan The Fed memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga, yield UST dapat turun dan kondisi tersebut umumnya mendukung emas sekaligus obligasi. Sebaliknya, jika inflasi kembali tinggi dan yield AS naik, emas dapat menghadapi tekanan meskipun permintaan bank sentral tetap memberikan bantalan.
Untuk pasar saham, kenaikan emas dapat menjadi sentimen positif bagi emiten pertambangan emas karena harga jual produk meningkat. Namun, bagi IHSG secara keseluruhan, dampaknya relatif terbatas dan lebih bergantung pada arah suku bunga global, rupiah, serta arus dana asing.
Prospek dan Strategi
Dalam jangka menengah, prospek emas masih mendapatkan dukungan dari dua faktor utama, yakni pembelian bank sentral dan ketidakpastian geopolitik. Aksi PBOC menunjukkan bahwa permintaan resmi belum kehilangan momentum, sementara konflik global membuat emas tetap menarik sebagai aset lindung nilai.
Namun, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas karena emas telah berada di level harga yang sangat tinggi. Jika ketegangan geopolitik mereda secara signifikan, harga energi turun, inflasi terkendali, dan ekspektasi suku bunga global berubah, emas dapat mengalami koreksi setelah kenaikan yang panjang.
Bagi investor, emas masih menarik sebagai aset diversifikasi dan lindung nilai, tetapi pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak semata-mata mengejar kenaikan harga. Selama pembelian bank sentral tetap kuat dan ketidakpastian global masih tinggi, tren jangka menengah emas tetap konstruktif, dengan level suku bunga AS, dolar, dan perkembangan geopolitik menjadi katalis utama yang perlu diperhatikan.

