[Medan | 25 September 2026] Likuiditas bank-bank milik negara atau Himbara berpotensi kembali mendapat tekanan ketika dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah mulai ditarik secara bertahap. Berdasarkan riset UOB Kay Hian, penempatan SAL di perbankan saat ini mencapai sekitar Rp299 triliun, setara dengan 2,9% dari total dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan.
Pemerintah memang telah memperpanjang penempatan sekitar Rp200 triliun hingga Juli 2027. Namun, sebagian dana di atas jumlah tersebut berpotensi ditarik lebih dahulu, sehingga bank perlu menyiapkan sumber pendanaan pengganti.
SAL Membuat Posisi Likuiditas Himbara Terlihat Lebih Longgar
Dari total dana tersebut, sekitar Rp104 triliun ditempatkan di Bank Mandiri dan Rp95,6 triliun di Bank Negara Indonesia (BNI) hingga Agustus 2026. Menurut analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan, keberadaan SAL memberikan dampak signifikan terhadap struktur pendanaan bank. Tanpa memperhitungkan dana pemerintah tersebut, loan to deposit ratio (LDR) Bank Mandiri diperkirakan mencapai 101,1%, sedangkan BNI sekitar 95%.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan LDR yang tercatat dalam laporan bulanan Agustus, masing-masing 94,4% untuk Bank Mandiri dan 86,9% untuk BNI. Dengan kata lain, pertumbuhan kredit Himbara saat ini tidak sepenuhnya ditopang oleh pertumbuhan dana murah dan dana nasabah. Likuiditas pemerintah ikut memberikan bantalan terhadap struktur pendanaan bank.
Pertumbuhan Deposito Juga Terlihat Tinggi
Pengaruh SAL juga terlihat pada pertumbuhan deposito. Deposito Bank Mandiri tercatat tumbuh sekitar 47,8% secara tahunan, sementara deposito BNI meningkat sekitar 64,7% yoy. Namun, setelah dana SAL dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan deposito keduanya jauh lebih rendah. UOB Kay Hian memperkirakan pertumbuhan deposito Bank Mandiri hanya sekitar 17%, sedangkan BNI sekitar 24%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa angka pertumbuhan deposito yang tinggi perlu dilihat bersama komposisi sumber dananya. Ketika sebagian pertumbuhan berasal dari penempatan dana pemerintah, kemampuan bank mempertahankan pertumbuhan kredit setelah dana tersebut ditarik menjadi perhatian tersendiri.
Sekitar Rp200 Triliun Bertahan hingga Juli 2027
Pemerintah sebelumnya memastikan sekitar Rp200 triliun dana SAL akan tetap ditempatkan di Himbara hingga Juli 2027. Kementerian Keuangan menyebut penempatan tersebut bersifat dinamis dan dapat ditarik apabila pemerintah membutuhkan dana, dengan koordinasi bersama perbankan agar tidak menimbulkan kesenjangan likuiditas.
Namun, berdasarkan diskusi UOB Kay Hian dengan BNI, sebagian dana di luar Rp200 triliun tersebut diperkirakan ditarik secara bertahap hingga kuartal IV 2026. Di BNI, sekitar Rp40,6 triliun dari saldo SAL Rp95,6 triliun diperkirakan ditarik secara bertahap. Dengan demikian, saldo SAL BNI pada akhir tahun diperkirakan tersisa sekitar Rp55 triliun.
Sementara itu, Bank Mandiri telah mengalami penarikan sekitar Rp19 triliun dari saldo Rp104 triliun pada akhir Agustus. Dengan demikian, saldo SAL Bank Mandiri diperkirakan tersisa sekitar Rp85 triliun.
Pertumbuhan Kredit Mulai Perlu Dikendalikan
Persoalan utama bagi Himbara adalah pertumbuhan kredit yang saat ini jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana murah. Kredit BNI tumbuh 27,1% yoy, sementara Bank Mandiri tumbuh 17,6% yoy. Di sisi lain, pertumbuhan dana murah atau CASA hanya sekitar 16,4% di BNI dan 8,2% di Bank Mandiri.
Kesenjangan tersebut membuat bank membutuhkan sumber pendanaan tambahan, baik melalui deposito berjangka maupun wholesale funding. Jika SAL berkurang, kebutuhan untuk mencari sumber pendanaan pengganti akan semakin besar apabila pertumbuhan kredit tetap tinggi.
Karena itu, UOB Kay Hian melihat perlambatan pertumbuhan kredit justru dapat membantu bank memperbaiki struktur pendanaan. BNI, misalnya, diperkirakan mulai lebih memperhatikan pricing kredit dan net interest margin (NIM) dibandingkan sekadar mengejar pertumbuhan volume kredit. Meski demikian, target pertumbuhan kredit BNI masih berada di kisaran 8%–10% yoy, sehingga penyesuaian yang dilakukan lebih diarahkan pada kualitas pertumbuhan dan tingkat imbal hasil kredit.
Dampaknya terhadap Biaya Dana Bank
Penarikan SAL tidak otomatis berarti Himbara akan mengalami kekurangan likuiditas. Bank masih memiliki berbagai sumber pendanaan lain, termasuk deposito, repo, pinjaman, liabilitas kepada bank lain, serta penerbitan surat berharga. Namun, sebagian sumber pendanaan tersebut memiliki biaya yang lebih tinggi dibandingkan dana murah. Bank Mandiri, misalnya, hingga Agustus memiliki sekitar Rp341 triliun pendanaan non-deposito, yang setara sekitar 21% dari total kredit.
Artinya, ketika SAL berkurang dan pertumbuhan CASA belum mampu mengejar pertumbuhan kredit, bank berpotensi semakin bergantung pada pendanaan yang lebih mahal. Kondisi ini dapat menjadi faktor yang memengaruhi margin bunga bersih apabila tidak diimbangi dengan pricing kredit yang memadai.
Likuiditas Menjadi Kunci Memasuki 2027
Penempatan SAL pemerintah memang masih memberikan bantalan bagi Himbara hingga sebagian dana bertahan sampai Juli 2027. Namun, penarikan bertahap atas dana di luar Rp200 triliun membuat bank perlu mulai menyesuaikan struktur pendanaannya sejak sekarang. Bagi perbankan, tantangannya bukan hanya mempertahankan pertumbuhan kredit, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut didukung sumber pendanaan yang berkelanjutan dan menghasilkan imbal hasil yang cukup.
Dengan demikian, perkembangan CASA, deposito, LDR, biaya dana, pertumbuhan kredit, dan posisi SAL akan menjadi indikator penting untuk melihat seberapa kuat struktur pendanaan Himbara menjelang 2027. Jika pertumbuhan kredit tetap tinggi sementara dana murah tumbuh lebih lambat, kebutuhan pendanaan eksternal dan tekanan terhadap biaya dana akan semakin menjadi perhatian pasar.

