[Medan | 10 Agustus 2026] Harga minyak dunia kembali menguat dan mendekati level US$85 per barel di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan kesepakatan antara Iran dan Oman, sementara meningkatnya risiko serangan di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga minyak Brent diperdagangkan di atas US$84 per barel setelah mencatat kenaikan lebih dari 5% dalam tiga sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$79 per barel.
Kesepakatan Hormuz Belum Berarti Jalur Langsung Dibuka
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada akhir pekan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk membentuk rute pelayaran melalui Selat Hormuz sudah “sangat dekat” untuk tercapai.
Namun, Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak serta-merta berarti Selat Hormuz akan langsung dibuka kembali. Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar kembali berhati-hati karena normalisasi arus pelayaran dan pengiriman energi masih membutuhkan waktu.
Iran juga menutup kemungkinan melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat untuk saat ini. Teheran menilai kesepakatan damai sementara yang dicapai pada Juni telah dilanggar.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap yang lebih lunak. Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu, Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini sedang “mengurangi tekanannya” terhadap Iran setelah sebelumnya berulang kali mengancam akan melancarkan serangan.
Risiko Serangan di Timur Tengah Kembali Jadi Perhatian
Selain ketidakpastian mengenai Hormuz, pasar minyak juga kembali mendapat tekanan dari meningkatnya risiko keamanan di kawasan. Militan Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan di Arab Saudi. Pada saat yang sama, sebuah kapal tanker yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Co. juga dilaporkan menjadi sasaran di kawasan Selat Hormuz pada akhir pekan.
Perkembangan tersebut membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan terhadap infrastruktur dan jalur distribusi energi di Timur Tengah. Sebelumnya, harga minyak sempat turun tajam ke bawah US$80 per barel setelah muncul optimisme bahwa Iran dan Oman dapat mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz. Namun, harapan tersebut kembali berkurang setelah Iran menegaskan bahwa kesepakatan tidak otomatis berarti pembukaan penuh jalur tersebut.
Harga Minyak Berpotensi Tetap Volatil
Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi Iran-Oman dan sejauh mana lalu lintas kapal dapat kembali normal melalui Selat Hormuz.
Apabila kesepakatan benar-benar tercapai dan memberikan kepastian bagi kapal tanker serta perusahaan asuransi, tekanan terhadap harga minyak berpotensi kembali mereda. Normalisasi pengiriman juga akan mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik tajam.
Sebaliknya, apabila proses negosiasi kembali mengalami kebuntuan atau serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker meningkat, harga minyak berpotensi kembali menguji level US$85 per barel atau bahkan lebih tinggi.
Bagi pasar keuangan Indonesia, kenaikan harga minyak perlu dicermati karena dapat meningkatkan tekanan terhadap inflasi dan neraca perdagangan, sekaligus berpotensi membatasi ruang penguatan Rupiah. Sebaliknya, apabila risiko Hormuz mereda dan harga minyak kembali turun, sentimen terhadap aset emerging market, termasuk Rupiah dan obligasi domestik, berpotensi membaik.

