IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Harga Minyak Kembali Dekati US$ 85 per Barel Usai Kesepakatan Iran-Oman Buntu

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image Source : AP/bloombergtechnoz.com
SHARE

[Medan | 10 Agustus 2026] Harga minyak dunia kembali menguat dan mendekati level US$85 per barel di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan kesepakatan antara Iran dan Oman, sementara meningkatnya risiko serangan di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Harga minyak Brent diperdagangkan di atas US$84 per barel setelah mencatat kenaikan lebih dari 5% dalam tiga sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$79 per barel.

Kesepakatan Hormuz Belum Berarti Jalur Langsung Dibuka

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada akhir pekan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk membentuk rute pelayaran melalui Selat Hormuz sudah “sangat dekat” untuk tercapai.

Namun, Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak serta-merta berarti Selat Hormuz akan langsung dibuka kembali. Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar kembali berhati-hati karena normalisasi arus pelayaran dan pengiriman energi masih membutuhkan waktu.

Iran juga menutup kemungkinan melakukan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat untuk saat ini. Teheran menilai kesepakatan damai sementara yang dicapai pada Juni telah dilanggar.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap yang lebih lunak. Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu, Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini sedang “mengurangi tekanannya” terhadap Iran setelah sebelumnya berulang kali mengancam akan melancarkan serangan.

Risiko Serangan di Timur Tengah Kembali Jadi Perhatian

Selain ketidakpastian mengenai Hormuz, pasar minyak juga kembali mendapat tekanan dari meningkatnya risiko keamanan di kawasan. Militan Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan di Arab Saudi. Pada saat yang sama, sebuah kapal tanker yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Co. juga dilaporkan menjadi sasaran di kawasan Selat Hormuz pada akhir pekan.

Perkembangan tersebut membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan terhadap infrastruktur dan jalur distribusi energi di Timur Tengah. Sebelumnya, harga minyak sempat turun tajam ke bawah US$80 per barel setelah muncul optimisme bahwa Iran dan Oman dapat mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz. Namun, harapan tersebut kembali berkurang setelah Iran menegaskan bahwa kesepakatan tidak otomatis berarti pembukaan penuh jalur tersebut.

Harga Minyak Berpotensi Tetap Volatil

Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi Iran-Oman dan sejauh mana lalu lintas kapal dapat kembali normal melalui Selat Hormuz.

Apabila kesepakatan benar-benar tercapai dan memberikan kepastian bagi kapal tanker serta perusahaan asuransi, tekanan terhadap harga minyak berpotensi kembali mereda. Normalisasi pengiriman juga akan mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik tajam.

Sebaliknya, apabila proses negosiasi kembali mengalami kebuntuan atau serangan terhadap fasilitas energi dan kapal tanker meningkat, harga minyak berpotensi kembali menguji level US$85 per barel atau bahkan lebih tinggi.

Bagi pasar keuangan Indonesia, kenaikan harga minyak perlu dicermati karena dapat meningkatkan tekanan terhadap inflasi dan neraca perdagangan, sekaligus berpotensi membatasi ruang penguatan Rupiah. Sebaliknya, apabila risiko Hormuz mereda dan harga minyak kembali turun, sentimen terhadap aset emerging market, termasuk Rupiah dan obligasi domestik, berpotensi membaik.

You Might Also Like

Dirilis Pekan Ini, Data Inflasi AS Juli 2026 Diproyeksikan Naik Tipis

Data NFP AS Turun Signifikan, Positif Untuk Rupiah dan Market?

Catat Rekor, Jepang Jual Dolar US$ 40 Miliar Untuk Intervensi Yen

Trump Tetapkan Tarif 15% dan Batas Harga Minimum Impor Polisilikon

Harga Minyak Naik Lagi Usai RUU Iran Soal Selat Hormuz Jadi Sorotan

TAGGED: Iran, oil, oil-price
Aurelia August 10, 2026 August 10, 2026
Previous Article Catat Rekor, Jepang Jual Dolar US$ 40 Miliar Untuk Intervensi Yen
Next Article Data NFP AS Turun Signifikan, Positif Untuk Rupiah dan Market?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?