[Medan | 25 September 2026] Harga minyak kembali melonjak setelah serangan rudal kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi memicu kekhawatiran baru terhadap gangguan pasokan energi. Namun, kenaikan harga tertahan oleh laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran masih membahas kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November 2026 pada Kamis (24/9) ditutup naik US$3,52 atau 3,4% menjadi US$106,60 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,45 atau 2,7% menjadi US$94,61 per barel. Pada titik tertinggi perdagangan, kedua kontrak sempat melonjak sekitar 5%. Brent mencatat penutupan tertinggi sejak 15 September, sedangkan WTI menghentikan penurunan selama enam sesi berturut-turut yang sebelumnya telah menggerus harga sekitar 13%.
Houthi Serang Saudi, Risiko Pasokan Kembali Naik
Arab Saudi mengatakan telah mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan Houthi dari Yaman. Rudal tersebut disebut mengarah ke wilayah Taif dan kawasan Yanbu di pesisir Laut Merah. Houthi kemudian mengklaim telah melancarkan serangan terhadap target di Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu. Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada konfirmasi langsung dari Arab Saudi mengenai kerusakan di Riyadh maupun fasilitas Aramco.
Serangan ke Yanbu menjadi perhatian pasar karena wilayah tersebut merupakan salah satu jalur alternatif bagi ekspor minyak Saudi ketika pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu. Dengan kondisi Hormuz yang masih terbatas, gangguan terhadap jalur alternatif melalui Laut Merah dapat meningkatkan risiko terhadap kemampuan Saudi menyalurkan minyak ke pasar global.
East-West Pipeline Mulai Pulih
Di tengah eskalasi tersebut, Arab Saudi sebenarnya sedang berupaya meningkatkan kembali aliran minyak melalui East-West Pipeline menuju pusat ekspor Yanbu. Menurut sumber industri, citra satelit dan data pengiriman, volume pemompaan minyak mentah melalui pipa tersebut mulai meningkat. Namun, pemuatan kapal tanker di terminal Yanbu belum kembali sepenuhnya.
East-West Pipeline menjadi semakin penting karena dapat mengalihkan sebagian minyak Saudi dari kawasan Teluk menuju Laut Merah, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Namun, serangan terhadap kawasan Yanbu menambah risiko terhadap jalur alternatif tersebut. Jika gangguan berlanjut, pasar dapat kembali memperhitungkan premi risiko terhadap pasokan minyak Timur Tengah.
AS-Iran Masih Bahas Pembukaan Hormuz
Di sisi lain, kenaikan harga minyak tidak berlangsung lebih tajam karena diplomasi AS-Iran masih berjalan. Negosiator kedua negara di New York disebut sedang membahas kesepakatan bertahap yang dapat mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dan pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran. Namun, kedua pihak masih berbeda mengenai urutan dan syarat pelaksanaannya.
Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik utama dalam negosiasi karena Iran menggunakan akses terhadap jalur tersebut sebagai alat tawar, sementara AS menginginkan kebebasan navigasi bagi kapal yang membawa pasokan energi global. Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak akan membuka kembali jalur tersebut selama sanksi dan blokade AS masih diberlakukan.
Karena itu, pasar kini menghadapi dua perkembangan yang berlawanan: eskalasi serangan Houthi meningkatkan risiko gangguan pasokan, sementara jalur diplomasi AS-Iran berpotensi mengurangi risiko tersebut apabila menghasilkan kesepakatan.
Sanksi AS Perluas Tekanan ke Sektor Energi
Tekanan terhadap Iran juga meningkat setelah Washington memperluas penerapan sanksi terhadap perusahaan di negara ketiga yang melakukan bisnis dengan entitas Iran, yang dikenal sebagai secondary sanctions. Sejumlah maskapai Iran juga terdampak setelah negara-negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab dan Oman, memberlakukan pembatasan terhadap penerbangan Iran menyusul tekanan dari AS.
Teheran kemudian mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara yang mematuhi pembatasan tersebut. Perkembangan ini menambah ketidakpastian terhadap hubungan Iran dengan negara-negara kawasan sekaligus meningkatkan risiko gangguan pada aktivitas perdagangan dan transportasi di Timur Tengah.
Pasar Solar Menghadapi Risiko Baru
Selain minyak mentah, pasar juga menghadapi tekanan pada produk olahan, terutama solar. Harga diesel telah mencapai rekor dalam beberapa pekan terakhir akibat gangguan pasokan dari sejumlah wilayah. Rusia sebelumnya membatasi ekspor bahan bakar setelah serangan Ukraina mengganggu kilang dan infrastruktur energinya. Pada saat yang sama, serangan Iran terhadap kapal dan infrastruktur energi di Timur Tengah semakin memperketat pasokan global.
Pemerintah AS juga dilaporkan sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel untuk menekan harga domestik. Menteri Energi AS Chris Wright membantah laporan bahwa pemerintah telah mempersiapkan larangan ekspor selama 90 hari, tetapi pemerintah disebut sedang berdiskusi dengan sejumlah perusahaan kilang mengenai kemungkinan pembatasan ekspor secara sukarela. Sejumlah analis memperingatkan bahwa pembatasan ekspor AS justru berpotensi memperketat pasokan diesel di pasar internasional dan meningkatkan tekanan harga di luar AS.
Harga Minyak Kembali Sensitif terhadap Diplomasi
Kenaikan Brent ke atas US$106 menunjukkan bahwa pasar minyak kembali memasukkan premi risiko geopolitik setelah sebelumnya harga sempat turun karena optimisme terhadap perundingan AS-Iran. Namun, pergerakan harga yang sangat volatil juga menunjukkan bahwa pasar belum menentukan arah secara penuh. Setiap kemajuan diplomasi dapat menekan harga karena meningkatkan peluang pembukaan Hormuz, sementara serangan baru terhadap fasilitas atau jalur ekspor dapat kembali mendorong harga naik.
Dengan demikian, Selat Hormuz, keamanan jalur alternatif Saudi melalui Laut Merah, perkembangan serangan Houthi, serta hasil perundingan AS-Iran menjadi empat faktor utama yang akan menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek. Bagi pasar global, harga minyak yang kembali di atas US$100 juga menjadi perhatian karena dapat memperpanjang tekanan inflasi dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter. Untuk pasar Indonesia, perkembangan tersebut perlu dicermati melalui dampaknya terhadap inflasi, neraca perdagangan, rupiah, yield SBN, serta ekspektasi kebijakan Bank Indonesia.

