[Medan | 25 September 2026] Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 30 tahun kembali melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kenaikan ini memperpanjang aksi jual di pasar obligasi global, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi, harga energi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta prospek suku bunga The Federal Reserve.
Yield Treasury 30 tahun naik sebanyak 7 basis poin menjadi 5,47%, level tertinggi sejak 2004. Kenaikan tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dan hasil operasi pembelian kembali obligasi atau buyback Departemen Keuangan AS yang berada di bawah batas maksimum yang ditawarkan.
Harga Minyak Kembali Tekan Pasar Obligasi
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama aksi jual Treasury. Harga minyak sempat melonjak sekitar 5% pada Kamis setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar obligasi karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi. Ketika inflasi berpotensi bertahan lebih tinggi, ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan antara harga minyak, inflasi, dan Treasury menjadi semakin kuat. Sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari, yield Treasury 2 tahun telah meningkat lebih dari 150 basis poin, sedangkan yield tenor 30 tahun naik lebih dari 80 basis poin.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Kembali Menguat
Kenaikan yield juga mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed. Pasar kini memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan dalam 12 bulan ke depan.
Kondisi tersebut membuat investor kembali meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang. Selain risiko inflasi, investor juga mempertimbangkan besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS yang dapat meningkatkan pasokan Treasury di pasar. Tekanan semakin terlihat pada tenor menengah. Yield Treasury 5 tahun menembus 5% pada Rabu untuk pertama kalinya sejak 2007. Sementara itu, yield Treasury 10 tahun mengalami kenaikan harian terbesar sejak gejolak tarif pada April 2025.
Buyback Treasury Belum Mampu Meredam Tekanan
Departemen Keuangan AS sebelumnya memperbesar program buyback Treasury untuk membantu menjaga likuiditas dan mengurangi tekanan di pasar obligasi jangka panjang. Treasury menargetkan pembelian hingga US$6 miliar surat utang tenor 20–30 tahun pada operasi Kamis. Namun, pemerintah hanya menerima dan membeli sekitar US$4,08 miliar, sementara dealer menawarkan sekitar US$10,47 miliar surat utang. Hanya 12 dari 35 seri yang memenuhi kriteria akhirnya dibeli.
Sebelumnya, Treasury juga membeli obligasi di bawah jumlah yang ditargetkan dalam operasi buyback pertama dengan skala yang telah diperbesar pada 10 September. Kondisi tersebut membuat pasar mempertanyakan seberapa efektif program buyback dalam meredam aksi jual ketika tekanan terhadap yield sedang tinggi. Treasury sendiri sejak Agustus telah memperbesar ukuran operasi buyback long-end setidaknya dua kali lipat, dengan tujuan memberikan dukungan likuiditas pada obligasi tenor panjang.
Lelang Treasury Ikut Menunjukkan Permintaan yang Lebih Hati-hati
Tekanan tidak hanya datang dari pasar sekunder. Lelang Treasury 7 tahun senilai US$44 miliar pada Kamis menghasilkan yield sekitar 5,085%, level tertinggi sejak tenor tersebut diperkenalkan kembali pada 2009. Permintaan yang berada di bawah ekspektasi menunjukkan investor masih berhati-hati untuk menambah posisi meskipun yield sudah jauh lebih tinggi.
Situasi serupa terlihat pada lelang Treasury 5 tahun sebelumnya. Yield yang tinggi memang membuat valuasi obligasi lebih menarik, tetapi investor juga menghadapi risiko bahwa yield masih dapat bergerak lebih tinggi sehingga harga obligasi kembali turun.
Aksi Jual Menyebar ke Pasar Obligasi Global
Tekanan tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah di sejumlah negara maju juga ikut meningkat, menunjukkan bahwa kenaikan yield Treasury mulai menjadi bagian dari aksi jual obligasi global. Yield surat utang pemerintah Jepang bahkan mencapai level yang terakhir terlihat pada 1996. Secara global, rata-rata yield surat utang pemerintah dalam Bloomberg Global Aggregate Treasuries Index berada mendekati 4%, level tertinggi sejak 2007.
Kondisi ini mencerminkan perubahan besar dibanding era suku bunga rendah sebelumnya. Saat ini investor harus menghadapi kombinasi inflasi energi, ekonomi AS yang relatif kuat, kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar, serta meningkatnya penerbitan utang oleh pemerintah dan perusahaan.
Volatilitas Membuat Investor Enggan Masuk Terlalu Cepat
Kenaikan yield memang membuat obligasi AS semakin menarik dari sisi tingkat imbal hasil. Namun, masalahnya adalah investor belum yakin bahwa yield sudah mencapai titik stabil. Volatilitas pasar obligasi AS yang diukur melalui ICE BofA MOVE Index juga meningkat dan mencapai level tertinggi sejak Maret. Kondisi ini membuat sebagian investor memilih menunggu hingga pergerakan yield lebih stabil sebelum meningkatkan eksposur.
Bagi investor fixed income, persoalannya bukan hanya seberapa tinggi yield yang ditawarkan, tetapi juga apakah yield tersebut sudah cukup mencerminkan risiko inflasi, kebijakan moneter, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Apa Artinya untuk Pasar Obligasi Indonesia?
Kenaikan yield Treasury hingga 5,5% menjadi perhatian besar bagi pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika yield US Treasury meningkat, spread terhadap aset emerging market menjadi lebih kecil apabila yield domestik tidak ikut menyesuaikan.
Dampaknya dapat muncul melalui beberapa jalur. Pertama, kenaikan yield AS dapat membuat aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. Kedua, penguatan dolar dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Ketiga, kenaikan harga minyak dapat menambah risiko inflasi sekaligus memperburuk kebutuhan devisa apabila harga energi tetap tinggi.
Bagi SBN, kondisi tersebut berarti ruang untuk penurunan yield dalam jangka pendek menjadi lebih terbatas selama tekanan dari Treasury, minyak, dan rupiah masih berlangsung. Namun, yield SBN yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan daya tarik carry apabila tekanan global mulai mereda dan investor kembali melihat stabilitas rupiah serta inflasi domestik.
Karena itu, perkembangan Treasury 10 tahun dan 30 tahun, harga minyak, arah The Fed, serta pergerakan rupiah menjadi empat indikator utama yang perlu diperhatikan investor obligasi Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.

