[Medan | 10 Juli 2026] Daya beli masyarakat Indonesia masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel pada Mei 2026 kembali mengalami kontraksi, baik secara tahunan maupun bulanan, meskipun laju penurunannya mulai membaik dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 tercatat sebesar 223,4, turun 3,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) setelah pada April terkontraksi 3,7% yoy. Secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan ritel juga turun 1,5%, namun membaik dibandingkan kontraksi 11,6% mtm pada April.
Penjualan Ritel Masih Tertekan
Bank Indonesia menyebut pelemahan penjualan ritel masih terjadi di sebagian besar kelompok barang. Penurunan terdalam terjadi pada Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi yang terkontraksi 18,4% secara tahunan, diikuti Subkelompok Sandang yang turun 12%, serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang melemah 4,1%.
Meski demikian, beberapa sektor masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif dan menjadi penopang utama kinerja ritel nasional. Kelompok Suku Cadang dan Aksesori tumbuh 11,2% secara tahunan, disusul Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar 0,3% dan Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 0,2%.
Menurut BI, kontraksi secara bulanan yang lebih ringan dibandingkan April dipengaruhi meningkatnya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Hari Raya Waisak.
Juni Diperkirakan Masih Kontraksi
Bank Indonesia memperkirakan pelemahan penjualan ritel masih berlanjut pada Juni 2026. Indeks Penjualan Riil diproyeksikan turun menjadi 221,6, atau terkontraksi 4,4% secara tahunan. Meski demikian, kontraksi bulanan diperkirakan kembali membaik menjadi 0,8%, dibandingkan penurunan 1,5% pada Mei.
Perbaikan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas konsumsi selama musim libur sekolah, terutama pada kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya serta Subkelompok Sandang. Namun sejumlah kelompok seperti Barang Budaya dan Rekreasi, Suku Cadang dan Aksesori, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau masih diperkirakan berada di zona kontraksi.
Apa Artinya bagi Perekonomian?
Data ini menunjukkan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih meskipun tekanan penurunannya mulai mereda. Kontraksi yang terjadi selama dua bulan berturut-turut mengindikasikan konsumsi rumah tangga, kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, masih menghadapi tantangan.
Di sisi lain, membaiknya penjualan secara bulanan menunjukkan masyarakat masih melakukan konsumsi ketika terdapat momentum musiman seperti hari besar keagamaan. Artinya, pelemahan konsumsi belum bersifat menyeluruh, namun masih bergantung pada faktor musiman dan belum didorong oleh peningkatan pendapatan yang lebih kuat.
Dampak bagi Bank Indonesia
Pelemahan konsumsi sebenarnya memberikan ruang bagi tekanan inflasi tetap terkendali. Namun situasi saat ini menjadi lebih kompleks karena Bank Indonesia juga harus menghadapi tekanan dari pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Dengan demikian, BI menghadapi dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan suku bunga atau mempertahankan momentum pemulihan konsumsi domestik. Selama tekanan terhadap rupiah masih dapat diredam melalui intervensi di pasar valuta asing dan didukung cadangan devisa yang memadai, ruang untuk mempertahankan suku bunga tetap terbuka.
Meski demikian, apabila pelemahan rupiah berlanjut bersamaan dengan lonjakan harga minyak dunia yang kembali meningkatkan risiko inflasi impor, ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga akan semakin terbatas.
Tekanan Inflasi Diperkirakan Naik
Bank Indonesia juga melaporkan ekspektasi harga masyarakat untuk Agustus 2026 meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus yang naik menjadi 178 dari 175,8 pada Juli, didorong kenaikan harga bahan baku.
Sementara itu, ekspektasi harga untuk November relatif stabil di level 167,5, hampir tidak berubah dibandingkan proyeksi Oktober sebesar 167,6. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi dalam jangka pendek masih perlu diwaspadai, meskipun permintaan domestik belum sepenuhnya pulih.

