[Medan | 10 Juli 2026] Saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) resmi memulai debut perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/7/2026). Tingginya minat investor selama masa penawaran umum perdana (IPO) membuat saham milik Raffi Ahmad tersebut berpeluang mencatat kenaikan signifikan pada hari pertama perdagangan hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA).
Dalam IPO ini, RANS menawarkan sebanyak 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran Rp170 per saham. Perseroan berhasil menghimpun dana sekitar Rp429,25 miliar.
Antusiasme investor terlihat sangat tinggi. Berdasarkan data Stockbit hingga 7 Juli 2026 pukul 23.00 WIB, lebih dari 1,05 juta single investor identification (SID) mengikuti antrean pemesanan saham RANS, menjadikannya salah satu IPO dengan jumlah peminat terbesar tahun ini. Dengan harga penawaran tersebut, saham RANS berpotensi menyentuh batas ARA di level Rp211. Sebaliknya, saham akan terkena Auto Rejection Bawah (ARB) apabila turun ke level Rp141 per saham.
Dana IPO untuk Ekspansi Bisnis
Dana hasil IPO akan digunakan untuk mempercepat ekspansi berbagai lini usaha RANS. Sekitar 37,6% dana dialokasikan untuk penyelenggaraan tur konser musik berskala besar. Selanjutnya, sekitar 19,8% digunakan untuk mengakuisisi 51% saham PT Rans Kosmetika Indonesia (Slavina), 18,6% untuk pengembangan wahana hiburan keluarga Cipungland, dan 8,2% untuk pembentukan perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) bersama Feedloop. Sisa dana akan digunakan untuk pelunasan pinjaman kepada BNI serta tambahan modal bagi PT Rans Nikmat Sejahtera.
Prospek Didukung Pertumbuhan Ekonomi Digital
Semesta Indovest Sekuritas menilai kekuatan utama RANS terletak pada ekosistem bisnis yang terintegrasi, mulai dari media digital, intellectual property (IP), talent management, production house, event organizer, hingga bisnis makanan dan minuman (F&B), fast moving consumer goods (FMCG), serta kosmetik.
Model bisnis tersebut dinilai memberikan fleksibilitas lebih tinggi dibanding perusahaan media digital yang hanya bergantung pada satu sumber pendapatan. Prospek industri juga dinilai masih sangat menarik. Jumlah pengguna internet Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 235,3 juta orang pada 2026 dengan tingkat penetrasi sekitar 81,7%.
Di sisi lain, belanja iklan digital diproyeksikan mencapai sekitar US$3,23 miliar pada 2025 atau sekitar 52% dari total belanja iklan nasional. Belanja iklan melalui media sosial maupun influencer marketing juga diperkirakan terus tumbuh dua digit setiap tahunnya.
Dalam jangka panjang, pasar iklan digital Indonesia diproyeksikan meningkat menjadi sekitar US$4,51 miliar pada 2031 sehingga membuka peluang pertumbuhan monetisasi konten, sponsorship, maupun bisnis berbasis intellectual property.
Fundamental Masih Perlu Diperhatikan
Meski prospek industrinya menarik, kinerja keuangan RANS sepanjang 2025 masih menunjukkan perlambatan. Pendapatan tercatat sebesar Rp353,4 miliar atau turun 13,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan terutama berasal dari melemahnya pendapatan bisnis brand ambassador dan talent management sebesar 51,5% secara tahunan serta dampak divestasi PT RPKSB pada 2024.
Laba bersih juga turun 38,8% menjadi Rp61 miliar, sementara margin laba bersih menyusut menjadi 16% dari sebelumnya 23,6%. Meski demikian, struktur pendapatan perusahaan dinilai cukup terdiversifikasi. Sekitar 33,5% pendapatan berasal dari monetisasi media sosial, 30,3% dari bisnis berbasis intellectual property, 21,2% dari production house dan penyelenggaraan event, serta 14,7% dari talent management.
Semesta Indovest Sekuritas juga mencatat valuasi RANS masih relatif menarik. Price to Earnings Ratio (PER) berada di kisaran 37,8 kali, lebih rendah dibanding rata-rata perusahaan sejenis sebesar 63,5 kali. Sementara Return on Equity (ROE) mencapai 17,9%, lebih tinggi dibanding rata-rata industri sebesar 11,7%.
Risiko Tetap Perlu Dicermati
Di balik prospeknya, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko. Salah satu risiko terbesar adalah tingginya ketergantungan bisnis terhadap figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang selama ini menjadi daya tarik utama berbagai aktivitas komersial perusahaan.
Selain itu, industri konten digital memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi dan sangat bergantung pada perubahan algoritma platform media sosial serta tren konsumsi masyarakat. Perubahan strategi belanja iklan perusahaan, perlambatan ekonomi, maupun sentimen negatif di media sosial juga berpotensi memengaruhi kinerja perseroan ke depan.
Berpeluang ARA, Namun Volatilitas Tetap Tinggi
Melihat tingginya jumlah investor yang mengikuti IPO, saham RANS memiliki peluang cukup besar untuk menyentuh batas ARA pada perdagangan perdana. Namun demikian, tingginya minat pada hari pertama tidak selalu mencerminkan nilai fundamental perusahaan dalam jangka panjang. Pergerakan harga saham IPO umumnya sangat dipengaruhi sentimen dan aktivitas perdagangan jangka pendek sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Bagi investor jangka panjang, prospek pertumbuhan industri digital dan strategi ekspansi RANS menjadi faktor yang menarik untuk dicermati. Namun keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi, fundamental perusahaan, serta berbagai risiko bisnis yang masih melekat pada perseroan.

