IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS Turun ke 215 Ribu, Kemana Arah The Fed?

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ aljazeera.com
SHARE

[Medan | 10 Juli 2026] Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya tensi geopolitik. Jumlah klaim awal tunjangan pengangguran (initial jobless claims) turun menjadi 215 ribu pada pekan yang berakhir 4 Juli 2026, lebih rendah dibandingkan revisi pekan sebelumnya sebesar 217 ribu dan juga lebih baik dari ekspektasi pasar di level 218 ribu.

Data Departemen Tenaga Kerja AS tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih cenderung mempertahankan tenaga kerjanya meskipun aktivitas ekonomi mulai melambat akibat tingginya suku bunga dan ketidakpastian global.

Pasar Tenaga Kerja Masih Relatif Solid

Rata-rata klaim empat minggu, yang digunakan untuk mengurangi volatilitas data mingguan, juga turun menjadi 218.750 dari sebelumnya 222.500. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih cukup stabil.

Di sisi lain, klaim berkelanjutan (continuing claims) naik sebanyak 8 ribu menjadi 1,814 juta orang. Kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor musiman terkait liburan sekolah dibandingkan memburuknya kondisi pasar kerja secara fundamental. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa meski perekrutan mulai melambat, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar masih belum terjadi.

Sejalan dengan Pandangan The Fed

Data tenaga kerja tersebut sejalan dengan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis sehari sebelumnya. Dalam risalah tersebut, para pejabat Federal Reserve menilai pasar tenaga kerja diperkirakan tetap stabil dalam waktu dekat dengan tingkat pengangguran yang masih berada di kisaran saat ini. Meski demikian, para pembuat kebijakan juga mengakui meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas.

Perbedaan pandangan mengenai arah inflasi membuat pejabat The Fed masih terpecah mengenai langkah kebijakan berikutnya. Sebagian menilai inflasi berpotensi mereda sehingga membuka ruang penurunan suku bunga, sementara sebagian lainnya menilai tekanan harga masih cukup tinggi sehingga suku bunga perlu dipertahankan lebih lama atau bahkan kembali dinaikkan apabila diperlukan.

Kemana Arah Suku Bunga?

Turunnya klaim pengangguran belum cukup menjadi alasan bagi The Fed untuk segera memangkas suku bunga. Selama pasar tenaga kerja masih kuat dan inflasi belum kembali sepenuhnya menuju target 2%, bank sentral AS memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah justru berpotensi memperbesar tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Jika harga energi terus meningkat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama menjadi semakin besar.

Dengan kata lain, kombinasi pasar tenaga kerja yang masih solid dan risiko inflasi energi membuat sikap The Fed tetap cenderung berhati-hati (higher for longer), sembari menunggu data inflasi dan aktivitas ekonomi berikutnya sebelum mengambil keputusan kebijakan.

Dampak ke Pasar Keuangan

Bagi pasar keuangan global, data ketenagakerjaan yang masih kuat memperkuat ekspektasi bahwa pelonggaran moneter The Fed kemungkinan belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi tetap berada pada level tinggi sehingga menopang penguatan dolar AS. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sekaligus membatasi ruang penguatan aset berisiko seperti saham dan obligasi emerging markets.

Pelaku pasar kini akan mencermati data inflasi AS berikutnya sebagai indikator utama untuk menilai apakah tekanan harga mulai mereda atau justru kembali meningkat akibat kenaikan harga energi.

 

You Might Also Like

Daya Beli Masih Belum Pulih, Penjualan Ritel RI Mei 2026 Turun 3,9%

Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Tunggu Negosiasi AS-Iran

Bahlil Sebut India Tertarik Masuk Industri Migas RI

Iran Balas AS, Serang Pangkalan Militer di Bahrain dan Kuwait

Risalah Terbaru: Pejabat The Fed Terpecah Soal Arah Suku Bunga

TAGGED: data klaim pengangguran AS, suku bunga AS
Aurelia July 10, 2026 July 10, 2026
Previous Article Daya Beli Masih Belum Pulih, Penjualan Ritel RI Mei 2026 Turun 3,9%
Next Article ARTO dan BFIN Dikabarkan Bakal Merger, Kapitalisasi Pasar Berpotensi Tembus Rp 25 T
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?