[Medan | 10 Juli 2026] Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya tensi geopolitik. Jumlah klaim awal tunjangan pengangguran (initial jobless claims) turun menjadi 215 ribu pada pekan yang berakhir 4 Juli 2026, lebih rendah dibandingkan revisi pekan sebelumnya sebesar 217 ribu dan juga lebih baik dari ekspektasi pasar di level 218 ribu.
Data Departemen Tenaga Kerja AS tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih cenderung mempertahankan tenaga kerjanya meskipun aktivitas ekonomi mulai melambat akibat tingginya suku bunga dan ketidakpastian global.
Pasar Tenaga Kerja Masih Relatif Solid
Rata-rata klaim empat minggu, yang digunakan untuk mengurangi volatilitas data mingguan, juga turun menjadi 218.750 dari sebelumnya 222.500. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih cukup stabil.
Di sisi lain, klaim berkelanjutan (continuing claims) naik sebanyak 8 ribu menjadi 1,814 juta orang. Kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor musiman terkait liburan sekolah dibandingkan memburuknya kondisi pasar kerja secara fundamental. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa meski perekrutan mulai melambat, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar masih belum terjadi.
Sejalan dengan Pandangan The Fed
Data tenaga kerja tersebut sejalan dengan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis sehari sebelumnya. Dalam risalah tersebut, para pejabat Federal Reserve menilai pasar tenaga kerja diperkirakan tetap stabil dalam waktu dekat dengan tingkat pengangguran yang masih berada di kisaran saat ini. Meski demikian, para pembuat kebijakan juga mengakui meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas.
Perbedaan pandangan mengenai arah inflasi membuat pejabat The Fed masih terpecah mengenai langkah kebijakan berikutnya. Sebagian menilai inflasi berpotensi mereda sehingga membuka ruang penurunan suku bunga, sementara sebagian lainnya menilai tekanan harga masih cukup tinggi sehingga suku bunga perlu dipertahankan lebih lama atau bahkan kembali dinaikkan apabila diperlukan.
Kemana Arah Suku Bunga?
Turunnya klaim pengangguran belum cukup menjadi alasan bagi The Fed untuk segera memangkas suku bunga. Selama pasar tenaga kerja masih kuat dan inflasi belum kembali sepenuhnya menuju target 2%, bank sentral AS memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah justru berpotensi memperbesar tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Jika harga energi terus meningkat, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama menjadi semakin besar.
Dengan kata lain, kombinasi pasar tenaga kerja yang masih solid dan risiko inflasi energi membuat sikap The Fed tetap cenderung berhati-hati (higher for longer), sembari menunggu data inflasi dan aktivitas ekonomi berikutnya sebelum mengambil keputusan kebijakan.
Dampak ke Pasar Keuangan
Bagi pasar keuangan global, data ketenagakerjaan yang masih kuat memperkuat ekspektasi bahwa pelonggaran moneter The Fed kemungkinan belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi tetap berada pada level tinggi sehingga menopang penguatan dolar AS. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sekaligus membatasi ruang penguatan aset berisiko seperti saham dan obligasi emerging markets.
Pelaku pasar kini akan mencermati data inflasi AS berikutnya sebagai indikator utama untuk menilai apakah tekanan harga mulai mereda atau justru kembali meningkat akibat kenaikan harga energi.

