[Medan | 6 Agustus 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibanding konsensus Bloomberg sebesar 5,14%. Meski melambat dari pertumbuhan 5,61% pada kuartal sebelumnya, capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih cukup solid di tengah ketidakpastian global.
Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Tinggi dari Ekspektasi
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, mengatakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp3.576,2 triliun. Secara kuartalan (qtq), ekonomi tumbuh 3,73% setelah sebelumnya terkontraksi 0,77% pada kuartal I-2026. Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi semester I-2026 mencapai 5,45%.
Aktivitas Domestik Masih Jadi Penopang Utama
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif, kecuali sektor pertambangan. Beberapa sektor dengan pertumbuhan tertinggi antara lain:
- Pengadaan listrik dan gas tumbuh 10,81%, didorong meningkatnya konsumsi listrik rumah tangga, bisnis, dan industri.
- Akomodasi dan makan minum naik 10,60%, seiring meningkatnya okupansi hotel dan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Informasi dan komunikasi juga terus tumbuh berkat meningkatnya pemanfaatan layanan digital di berbagai sektor.
Di sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Meski Solid, Laju Pertumbuhan Mulai Melambat
Walaupun hasilnya melampaui ekspektasi pasar, laju pertumbuhan ekonomi tetap lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh mulai berakhirnya faktor musiman seperti Ramadan dan Idulfitri yang sebelumnya mendorong konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah pada kuartal I-2026.
Kondisi ini menunjukkan fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat, namun ruang akselerasi pertumbuhan mulai terbatas sehingga diperlukan dorongan baru dari investasi maupun sektor eksternal.
IHSG Langsung Merespons Positif
Sentimen positif dari data PDB langsung tercermin di pasar saham. IHSG menguat sekitar 0,68% pada perdagangan Rabu (5/8/2026) dan bergerak di kisaran 6.316–6.363 hingga menjelang penutupan sesi pertama. Sebanyak 420 saham menguat, 189 saham melemah, sedangkan 177 saham bergerak stagnan. Indeks LQ45 juga naik sekitar 0,2% ke level 636,45. Penguatan tersebut menunjukkan investor menyambut positif data pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.
IHSG Berpeluang Uji Level 6.400
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Analis memperkirakan indeks bergerak dengan: Resistance: 6.400, Pivot: 6.350, dan Support: 6.300.
Menurut Phintraco, sentimen positif berasal dari kombinasi membaiknya indikator ekonomi domestik, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta optimisme terhadap kinerja emiten. Selain itu, penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,65%, penurunan tingkat kemiskinan menjadi 8,07%, serta keputusan pemerintah menunda implementasi pajak marketplace turut memberikan sentimen positif bagi pasar.
Prospek Pasar Tetap Positif, Namun Waspadai Perlambatan
Data pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi memperkuat keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif tangguh. Hal ini menjadi katalis positif bagi pasar saham, khususnya sektor perbankan, konsumsi, dan infrastruktur yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati perlambatan konsumsi dan belanja pemerintah dibanding kuartal sebelumnya. Selama pertumbuhan ekonomi mampu bertahan di atas 5%, inflasi tetap terkendali, serta ketegangan geopolitik global terus mereda, peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan menuju area 6.370–6.400 masih terbuka. Namun, mendekati area resistance tersebut, potensi aksi ambil untung (profit taking) juga perlu diwaspadai.


