[Medan | 24 September 2026] Pasar obligasi Amerika Serikat kembali mengalami aksi jual besar pada Rabu (23/9), setelah data ekonomi AS yang kuat, kenaikan harga minyak, serta lelang Treasury yang lemah mendorong imbal hasil atau yield ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun melonjak hampir 17 basis poin ke sekitar 5,13%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield Treasury 5 tahun untuk pertama kalinya sejak 2007 menembus 5% setelah lelang US$70 miliar menghasilkan yield 5,033%.
Tekanan tersebut terjadi setelah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas bisnis yang semakin kuat. S&P Global mencatat Composite PMI AS naik dari 56,0 pada Agustus menjadi 58,4 pada September, level ekspansi tertinggi dalam lebih dari lima tahun. Pada saat yang sama, tekanan biaya input meningkat ke level tertinggi dalam hampir empat tahun, sebagian dipicu kenaikan harga energi.
Data Ekonomi AS Kuat, Ekspektasi Suku Bunga Naik
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan tekanan inflasi membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kenaikan PMI menunjukkan permintaan di sektor bisnis AS masih kuat. New orders meningkat dan pertumbuhan tenaga kerja juga menguat. Namun, persoalannya bukan hanya pertumbuhan ekonomi. Biaya input perusahaan juga meningkat, terutama karena kenaikan harga minyak dan keterbatasan kapasitas. Kondisi ini berpotensi membuat tekanan harga lebih sulit turun.
Gubernur The Fed Michael Barr juga mengatakan inflasi masih berada di atas target 2% dan belum menunjukkan tren penurunan yang cukup cepat. Dalam pandangan dasarnya, penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan agar inflasi kembali ke target. Dengan demikian, pasar kini tidak hanya menghadapi risiko higher for longer, tetapi juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Lelang Treasury 5 Tahun Jadi Pemicu Aksi Jual
Tekanan semakin besar setelah Departemen Keuangan AS melelang Treasury tenor lima tahun senilai US$70 miliar. Yield yang harus dibayarkan mencapai 5,033%, lebih dari 3 basis poin di atas yield indikatif sebelum lelang. Bid-to-cover ratio hanya 2,21 kali, turun dari 2,37 kali pada lelang Agustus dan menjadi salah satu indikator lemahnya permintaan investor.
Hasil lelang tersebut menjadi sinyal bahwa investor membutuhkan yield yang lebih tinggi untuk menyerap pasokan Treasury. Yield Treasury 5 tahun kemudian melonjak hingga sekitar 20 basis poin dalam perdagangan Rabu dan menembus level 4,99% yang sebelumnya terlihat pada puncak siklus kenaikan suku bunga The Fed pada 2023. Kondisi ini kemudian menyebar ke tenor lainnya. Yield 10 tahun naik ke sekitar 5,13%, sedangkan yield 30 tahun bergerak di sekitar 5,4%.
Minyak Ikut Menambah Tekanan Inflasi
Kenaikan yield Treasury juga terjadi bersamaan dengan kembali naiknya harga minyak di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga energi menjadi perhatian karena kenaikan minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, kemudian mendorong harga barang dan jasa. Hal tersebut terlihat dalam data PMI September, ketika biaya input perusahaan meningkat ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.
Bagi The Fed, kombinasi pertumbuhan kuat + harga energi tinggi + inflasi yang belum kembali ke 2% membuat ruang untuk pelonggaran moneter menjadi semakin terbatas. Pasar swap bahkan telah memperhitungkan tiga kenaikan suku bunga masing-masing 25 basis poin dalam satu tahun ke depan, dengan posisi lindung nilai yang cukup besar terhadap kenaikan tambahan. Jika seluruh kenaikan tersebut terealisasi, suku bunga acuan AS dapat bergerak ke kisaran 4,75%-5%.
Apa Artinya untuk Obligasi Indonesia?
Kenaikan yield Treasury AS menjadi perhatian besar bagi pasar obligasi Indonesia karena Treasury merupakan salah satu acuan utama investor global dalam menentukan tingkat imbal hasil yang dibutuhkan ketika berinvestasi di negara berkembang. Ketika yield Treasury naik, investor biasanya meminta kompensasi yield yang lebih tinggi dari aset emerging market. Artinya, SBN Indonesia berpotensi ikut menghadapi tekanan harga, terutama jika kenaikan yield AS disertai penguatan dolar AS dan arus keluar dana asing.
Dampaknya paling terasa pada obligasi tenor panjang. Ketika yield global naik, harga obligasi dengan durasi panjang biasanya lebih sensitif sehingga pergerakan harganya dapat lebih besar dibandingkan obligasi tenor pendek. Untuk pasar SBN, kondisi ini membuat ruang untuk rally menjadi lebih terbatas dalam jangka pendek. Investor juga akan lebih selektif terhadap tenor karena risiko kenaikan yield global masih terbuka.
Rupiah dan Arus Modal Ikut Jadi Perhatian
Tekanan dari Treasury juga dapat merambat ke pasar valuta asing. Jika yield aset AS meningkat, aset berdenominasi dolar menjadi relatif lebih menarik. Kondisi tersebut dapat mendorong permintaan terhadap dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Bagi Indonesia, kombinasi yield Treasury tinggi, dolar AS kuat, dan harga minyak tinggi menjadi perhatian karena ketiganya dapat meningkatkan tekanan eksternal secara bersamaan. Namun, dampaknya terhadap SBN tidak selalu berarti investor harus keluar dari pasar obligasi. Pergerakan yield juga sangat bergantung pada kondisi domestik, termasuk kebijakan Bank Indonesia, inflasi Indonesia, stabilitas rupiah, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Apakah Ini Berarti SBN Harus Dijauhi?
Belum tentu. Yang berubah adalah tingkat risiko dan timing. Dengan Treasury 10 tahun kembali di atas 5%, investor SBN perlu lebih berhati-hati terhadap obligasi dengan durasi panjang karena kenaikan yield AS dapat memberikan tekanan tambahan terhadap yield domestik.
Sebaliknya, jika investor ingin masuk ke SBN dalam kondisi seperti sekarang, strategi bertahap menjadi lebih relevan dibandingkan langsung mengambil posisi besar. Tenor menengah dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin tetap mendapatkan yield tetapi tidak terlalu agresif mengambil risiko durasi.
Untuk investor yang sudah memegang SBN, kenaikan Treasury AS juga tidak otomatis berarti harus melakukan panic selling. Perlu dilihat apakah kenaikan yield AS hanya merupakan repricing sementara akibat data ekonomi dan lelang, atau mulai menjadi tren yang didorong oleh perubahan ekspektasi kebijakan The Fed.
Treasury Buyback Belum Mampu Meredam Aksi Jual
Departemen Keuangan AS sebenarnya telah memperluas program buyback Treasury untuk membantu menjaga fungsi pasar obligasi. Operasi kedua dari program yang diperluas dijadwalkan menyasar surat utang dengan jatuh tempo 20 hingga 30 tahun. Nilai buyback ditetapkan sebesar US$6 miliar, sama dengan operasi pertama pada 10 September.
Namun, sejauh ini ukuran buyback tersebut belum mampu membalikkan tekanan di pasar Treasury. Kenaikan yield bahkan kembali melampaui level yang menjadi perhatian pemerintah ketika program tersebut diperluas pada Agustus. Artinya, persoalan pasar saat ini bukan semata-mata masalah likuiditas. Investor juga sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebutuhan penerbitan utang, dan arah suku bunga The Fed.
Pasar Masih Menunggu Titik Stabil Yield
Aksi jual Treasury pada Rabu menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap setiap data yang dapat mengubah ekspektasi suku bunga The Fed. Jika data ekonomi AS terus kuat sementara harga energi tetap tinggi, tekanan terhadap yield dapat berlanjut. Sebaliknya, jika pertumbuhan mulai melambat atau tekanan inflasi kembali mereda, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat berkurang dan memberikan ruang bagi yield Treasury untuk stabil.
Untuk pasar Indonesia, perkembangan Treasury menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan bersama rupiah, harga minyak dan kebijakan Bank Indonesia. Dalam kondisi saat ini, Treasury 10 tahun di atas 5% bukan hanya berita mengenai pasar obligasi AS. Level tersebut menjadi sinyal bahwa biaya uang global sedang kembali meningkat, sehingga arah SBN, rupiah dan arus modal asing Indonesia perlu dicermati lebih ketat.

