[Medan | 5 Agustus 2026] Minat investor terhadap Surat Utang Negara (SUN) tetap kuat pada lelang yang digelar Selasa (5/8/2026). Hal ini tercermin dari meningkatnya total penawaran yang masuk meskipun pemerintah mempertahankan target penerbitan pada level yang sama seperti lelang sebelumnya.
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan total penawaran mencapai Rp70,72 triliun, naik sekitar 4,16% dibandingkan lelang sebelumnya yang sebesar Rp67,89 triliun. Meski permintaan meningkat, pemerintah tetap menerbitkan SUN sebesar Rp32 triliun, sehingga rasio bid-to-cover naik dari 2,12 kali menjadi 2,21 kali, mencerminkan tingginya persaingan investor untuk memperoleh alokasi.
Pemerintah Fokus pada Benchmark Baru
Dalam lelang kali ini, pemerintah mengubah komposisi penerbitan dengan menjadikan FR0110 sebagai seri utama. Seri benchmark baru yang jatuh tempo pada 15 Mei 2032 memenangkan dana sebesar Rp15,8 triliun, atau hampir separuh dari total penerbitan. Sementara itu, alokasi pada sejumlah seri reopening mengalami penyesuaian.
Pemerintah meningkatkan penyerapan FR0107 (jatuh tempo 2045) menjadi Rp3,05 triliun dari sebelumnya Rp1,75 triliun, serta menaikkan penerbitan FR0102 (jatuh tempo 2054) menjadi Rp400 miliar dari Rp350 miliar. Sebaliknya, alokasi pada FR0108 (2036) dipangkas menjadi Rp3,8 triliun dari sebelumnya Rp9,75 triliun, sementara FR0106 (2040) turun menjadi Rp1,2 triliun dari Rp4,7 triliun. Penerbitan FR0105 (2064) juga dikurangi menjadi Rp750 miliar dari Rp1,65 triliun.
Perubahan tersebut menunjukkan pemerintah lebih memprioritaskan pembentukan likuiditas pada benchmark baru sekaligus menjaga biaya penerbitan utang tetap efisien.
Yield Bergerak Stabil
Dari sisi harga, pergerakan yield SUN relatif terbatas. Yield rata-rata tertimbang FR0108 naik menjadi 7,31% dari 7,28%, sedangkan FR0106 meningkat menjadi 7,34% dari 7,29%. Yield FR0107 juga naik tipis menjadi 7,34% dari 7,32%. Di sisi lain, tenor panjang justru menunjukkan penurunan yield. Yield FR0102 turun menjadi 7,36% dari 7,38%, sementara FR0105 turun tipis ke sekitar 7,38%. Pergerakan tersebut mengindikasikan investor masih memiliki keyakinan terhadap prospek obligasi pemerintah Indonesia, terutama untuk tenor jangka panjang.
Permintaan Tinggi, Pemerintah Tetap Selektif
Salah satu sorotan datang dari seri FR0106 bertenor 14 tahun. Seri ini mencatat permintaan lebih dari Rp8 triliun, namun pemerintah hanya memenangkan Rp1,2 triliun, sehingga rasio bid-to-cover melonjak dari 2,19 kali menjadi 6,68 kali. Langkah tersebut menunjukkan pemerintah sengaja membatasi penyerapan meskipun permintaan tinggi guna memperoleh biaya pendanaan yang lebih efisien.
Dampak ke Pasar Obligasi
Hasil lelang SUN kali ini kembali menunjukkan kondisi pasar obligasi domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Meningkatnya jumlah penawaran, naiknya rasio bid-to-cover, serta pergerakan yield yang relatif stabil mencerminkan kepercayaan investor terhadap aset berdenominasi rupiah masih terjaga.
Di sisi lain, strategi pemerintah yang memusatkan penerbitan pada seri benchmark baru tanpa menambah total penerbitan menunjukkan upaya menjaga cost of fund tetap efisien sekaligus memperkuat likuiditas di pasar obligasi sekunder.

