[Medan | 6 November 2026] Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (6/11/2026), mendekati level US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi militer baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dapat mengancam pasokan minyak dari Timur Tengah.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent berjangka naik 1,67% menjadi US$99,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,43% menjadi US$91,69 per barel. Investor tengah mencermati apakah berakhirnya pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) di AS akan membuka jalan bagi tindakan baru Washington terhadap Iran. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Risiko Konflik AS-Iran Kembali Meningkat
Pendiri sekaligus Presiden Rapidan Energy Group Bob McNally memperkirakan terdapat peluang sebesar 80% bagi terjadinya kembali pertempuran militer antara AS dan Iran. Ia juga menilai harga minyak global berpotensi kembali menembus US$100 per barel.
Risiko tersebut diperkuat oleh laporan Iran mengenai tiga serangan tambahan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz pada Kamis (5/11/2026). Data UK Maritime Trade Operations (UKMTO) juga menunjukkan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut masih berlangsung dengan tingkat yang mendekati rekor tertinggi.
McNally menilai perbedaan mendasar antara AS dan Iran terkait program nuklir masih menjadi sumber ketegangan. Di sisi lain, pemerintah Iran disebut tidak bersedia memenuhi tuntutan tersebut. Menurut McNally, selama perbedaan tersebut belum terselesaikan, risiko eskalasi konflik akan tetap terbuka.
Jalur Diplomasi Masih Terbuka
Meski risiko konflik meningkat, peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik belum sepenuhnya tertutup. Iran dilaporkan telah mengirimkan proposal terkait program nuklir kepada Washington melalui Qatar.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati investor di tengah ketidakpastian mengenai arah hubungan kedua negara. Keberhasilan diplomasi berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak, sedangkan kegagalan negosiasi dapat meningkatkan risiko kenaikan harga energi.
Hasil Pemilu AS Tambah Ketidakpastian Pasar
Di luar ketegangan geopolitik, hasil pemilihan umum sela AS juga menjadi perhatian pasar. Mengutip The Guardian, kekalahan Partai Republik dari Partai Demokrat dinilai menambah ketidakpastian terhadap perekonomian global, termasuk pergerakan pasar saham dan harga minyak.
Peralihan kendali Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan Senat ke tangan Partai Demokrat berpotensi membatasi ruang gerak Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda pemerintahannya selama dua tahun terakhir masa jabatan.
Sejumlah analis menilai perubahan peta politik di Washington dapat memengaruhi arah kebijakan ekonomi, inflasi, biaya pinjaman pemerintah, hingga stabilitas iklim bisnis internasional.
Kepala Ekonom Berenberg Holger Schmieding menilai hasil pemilu tersebut menunjukkan adanya penolakan pemilih terhadap kepemimpinan Trump dan kecenderungannya pada kapitalisme kroni yang otoriter.
“Kekalahan ini menunjukkan pemilih AS menolak Trump dan kecenderungannya pada kapitalisme kroni yang otoriter. Hal itu memperlihatkan bahwa lembaga-lembaga di AS beserta mekanisme check and balances berjalan baik. Menurut pandangan saya, ini adalah hal yang positif,” ujar Schmieding.
Bagi pasar energi, arah harga minyak selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan hubungan AS-Iran. Risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak kembali naik, sementara kemajuan negosiasi diplomatik berpotensi meredakan tekanan tersebut.

