[Medan | 29 Mei 2026] Tekanan inflasi di Amerika Serikat masih membebani konsumen pada April 2026, memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Data terbaru Departemen Perdagangan AS yang dirilis Kamis (29/5) menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit Federal Reserve, naik 0,4% secara bulanan dan 3,8% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Inflasi Inti Masih Tinggi
Sementara itu, inflasi inti (core PCE), yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, naik 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan. Angka tahunan tersebut sesuai dengan ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones.
Meski laju kenaikan bulanan mulai melambat dibanding bulan sebelumnya, level inflasi tahunan masih menunjukkan tekanan harga yang cukup tinggi.
Inflasi PCE tahunan sebesar 3,8% menjadi level tertinggi sejak Mei 2023, sedangkan inflasi inti 3,3% merupakan yang tertinggi sejak November 2023.
Federal Reserve selama ini menggunakan indikator PCE sebagai acuan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter karena dianggap lebih mencerminkan pola konsumsi masyarakat dibanding CPI.
Ekonomi AS Mulai Kehilangan Momentum
Selain data inflasi, Departemen Perdagangan AS juga merevisi turun pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026.
Produk Domestik Bruto (PDB) AS kini tercatat hanya tumbuh 1,6% secara tahunan, lebih rendah dari estimasi awal sebesar 2% dan di bawah ekspektasi pasar.
Pelemahan tersebut dipicu melambatnya konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis, menandakan dampak suku bunga tinggi mulai menekan aktivitas ekonomi.
Di pasar tenaga kerja, klaim pengangguran mingguan naik menjadi 215.000, sedikit lebih tinggi dari estimasi 213.000. Meski belum menunjukkan pelemahan signifikan, data tersebut memperlihatkan pasar tenaga kerja mulai kehilangan sebagian momentum kuatnya.
Konsumsi Tetap Kuat, Tapi Ditopang Penurunan Tabungan
Belanja konsumen AS tercatat masih naik 0,5% pada April sesuai proyeksi pasar. Namun, pendapatan masyarakat stagnan dan berada di bawah ekspektasi kenaikan 0,4%.
Kondisi tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat mulai lebih banyak ditopang oleh penurunan tingkat tabungan dibanding pertumbuhan pendapatan riil.
Dilansir CNBC, rasio tabungan pribadi turun menjadi 2,6%, level terendah sejak Juni 2022. Hal ini mengindikasikan daya tahan konsumsi rumah tangga mulai menghadapi tekanan di tengah tingginya biaya hidup dan suku bunga.
Harga Energi dan Perumahan Jadi Pendorong Inflasi
Dari sisi komponen, harga barang naik 0,7% pada April, dipimpin kenaikan harga bensin sebesar 5,5%.
Sementara itu, harga jasa meningkat 0,3%, termasuk lonjakan biaya perumahan dan utilitas sebesar 0,6%.
Harga perumahan secara keseluruhan naik 0,5%, menjadi kenaikan bulanan terbesar setidaknya sejak Januari 2025. Kenaikan biaya hunian tersebut menjadi perhatian utama The Fed karena sektor perumahan memiliki kontribusi besar terhadap inflasi jasa.
The Fed Berpotensi Pertahankan Suku Bunga Tinggi
Meski inflasi bulanan mulai menunjukkan moderasi, pasar masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.
Pelaku pasar bahkan mulai mempertimbangkan kemungkinan langkah kebijakan berikutnya justru berupa kenaikan suku bunga tambahan apabila inflasi kembali meningkat akibat faktor geopolitik dan tarif perdagangan.
Perang Iran serta kebijakan tarif perdagangan AS disebut menjadi faktor utama yang menghambat penurunan inflasi menuju target 2% The Fed.
Ketua baru Federal Reserve Kevin Warsh sebelumnya sempat memberi sinyal peluang penurunan suku bunga. Namun pandangan tersebut diperkirakan akan menghadapi resistensi dari anggota Federal Open Market Committee (FOMC) lainnya yang masih khawatir terhadap risiko inflasi jangka panjang.
Dampak ke Pasar Keuangan Global
Ekspektasi suku bunga tinggi AS dalam waktu lebih lama berpotensi menjaga yield obligasi Treasury tetap tinggi dan memperkuat dolar AS terhadap mayoritas mata uang global.
Bagi emerging markets seperti Indonesia, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap arus modal asing, nilai tukar rupiah, serta pasar obligasi domestik.
Namun di sisi lain, revisi turun pertumbuhan ekonomi AS juga meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Kondisi tersebut membuat pasar berada dalam dilema antara risiko inflasi tinggi dan potensi pelemahan pertumbuhan ekonomi atau stagflasi ringan.
Untuk pasar obligasi Indonesia, kondisi ini membuat volatilitas yield SBN masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek. Meski demikian, langkah agresif Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 bps menjadi 5,25% dinilai dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan meredam tekanan di pasar keuangan domestik.

