IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Iran Ingin Kendali Penuh Atas Selat Hormuz

By Aurelia Tanu 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ asei.co.id
SHARE

[Medan | 30 Juni 2026] Iran kembali menegaskan keinginannya untuk mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, memperbesar tantangan menjelang dimulainya kembali perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) di Doha, Qatar.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Teheran tetap berupaya mencapai kesepakatan dengan Oman untuk bersama-sama mengelola jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, apabila Oman tidak bersedia, Iran menegaskan siap menjalankan pengelolaan Selat Hormuz secara mandiri. Menurutnya, Iran juga tengah menyiapkan skema jalur transit baru bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari rencana pengelolaan tersebut.

Iran Tidak Ingin Kembali ke Status Sebelum Perang

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Iran tidak berniat mengembalikan kondisi Selat Hormuz seperti sebelum pecahnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, ketika kapal-kapal dapat melintas secara bebas tanpa pengawasan maupun pungutan tambahan.

Dalam nota kesepahaman (MoU) yang disepakati awal Juni, Iran memang berkomitmen untuk tidak mengenakan biaya transit selama masa transisi selama 60 hari. Namun, setelah periode tersebut berakhir, kesepakatan tersebut membuka ruang bagi lahirnya mekanisme baru, termasuk kemungkinan penerapan biaya atas layanan navigasi maupun keamanan kapal. Isu tersebut diperkirakan menjadi salah satu agenda paling sensitif dalam putaran negosiasi berikutnya antara Iran dan Amerika Serikat.

AS Tolak Segala Bentuk Tarif Selat Hormuz

Pemerintah Amerika Serikat tetap menolak keras setiap rencana penerapan tarif maupun pungutan atas kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional harus tetap terbuka tanpa biaya tambahan karena dapat menciptakan preseden bagi jalur perdagangan strategis lainnya di dunia.

Sementara itu, Presiden Donald Trump juga menyatakan bahwa hasil perundingan di Doha masih penuh ketidakpastian. Meski Gedung Putih telah mengonfirmasi kehadiran utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dalam perundingan tersebut, Iran sendiri belum mengonfirmasi akan melakukan pertemuan langsung dengan delegasi Amerika Serikat.

Oman Pertahankan Kebebasan Navigasi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Oman kembali menegaskan komitmennya terhadap prinsip kebebasan navigasi internasional. Dalam pertemuan Sultan Haitham bin Tariq dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, kedua negara menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi seluruh kapal sesuai ketentuan hukum laut internasional tanpa pembatasan maupun pungutan. Sikap Oman tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan dengan Iran mengenai masa depan pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

Aktivitas Pelayaran Masih Berlangsung

Meskipun ketidakpastian masih tinggi, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terus berjalan. Data pelacakan kapal Bloomberg menunjukkan sejumlah kapal tanker minyak masih memasuki maupun meninggalkan Teluk Persia. Bahkan beberapa kapal yang sebelumnya sempat membatalkan pelayaran mulai kembali melanjutkan perjalanan setelah situasi keamanan sedikit membaik. Meski demikian, volume pelayaran masih berada di bawah kondisi normal karena sebagian perusahaan pelayaran tetap menerapkan langkah mitigasi risiko.

Dampak terhadap Pasar Keuangan

Pernyataan Iran memperlihatkan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda meskipun proses diplomasi kembali dimulai. Keinginan Teheran untuk mengendalikan Selat Hormuz berpotensi menjadi hambatan utama dalam negosiasi dengan Amerika Serikat karena bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi yang didukung negara-negara Barat maupun negara Teluk.

Bagi pasar energi, ketidakpastian mengenai mekanisme pengelolaan Selat Hormuz berpotensi mempertahankan premi risiko (geopolitical risk premium) pada harga minyak. Setiap indikasi munculnya tarif pelayaran, pembatasan lalu lintas kapal, ataupun eskalasi militer baru dapat mendorong kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran terganggunya distribusi energi global.

Sementara itu, pasar obligasi global diperkirakan masih akan bergerak hati-hati. Apabila harga minyak kembali meningkat dan mendorong inflasi global, ekspektasi suku bunga tinggi di negara-negara maju berpotensi bertahan lebih lama sehingga menekan obligasi, khususnya di emerging markets.

 

You Might Also Like

Iran-AS Siap Lanjutkan Negosiasi Lagi di Doha

Pemerintah Turunkan Harga LNG Industri Jadi US$ 13 per MMBTU

Kemenkeu Perpanjang Penempatan Dana Rp 281T di Himbara hingga Akhir Tahun 2026

Purbaya Kucurkan Rp 1,96 T ke 3 Lembaga Internasional, Buat Apa?

Pemerintah Bakal Pangkas 1.000 BUMN Jadi Cuma 250 Perusahaan

TAGGED: selat hormuz
Aurelia Tanu June 30, 2026 June 30, 2026
Previous Article Iran-AS Siap Lanjutkan Negosiasi Lagi di Doha
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?