[Medan | 13 Agustus 2026] Inflasi Amerika Serikat (AS) pada Juli 2026 bergerak sesuai ekspektasi pasar dan menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan Federal Reserve (The Fed) sekaligus membuka ruang bagi bank sentral AS untuk mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga ketika pertumbuhan tenaga kerja mulai melambat.
Indeks harga konsumen (IHK) inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,2% secara bulanan pada Juli. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,5%, menyamai laju terendah sejak Maret 2021. Sementara itu, IHK secara keseluruhan naik 0,1% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Data tersebut sesuai dengan proyeksi pasar dan menjadi kabar yang relatif positif bagi investor setelah sebelumnya muncul tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS.
Inflasi Memberi Ruang bagi The Fed
Data Juli menunjukkan tekanan harga mulai lebih terkendali setelah kejutan harga energi akibat konflik Iran mulai mereda. Harga energi dan bensin turun untuk bulan kedua berturut-turut, meskipun harga bensin sempat kembali menembus US$4 per galon setelah gencatan senjata AS-Iran runtuh.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan perkembangan inflasi bersamaan dengan pelemahan pasar tenaga kerja. Bank sentral AS masih memiliki laporan ketenagakerjaan dan inflasi tambahan sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September.
“Ini kabar baik bagi pejabat The Fed yang ingin bersabar dalam situasi ini,” kata Oscar Munoz, Kepala Ekonomi AS di TD Securities. Menurutnya, laporan tersebut menjadi indikasi disinflasi untuk kedua kalinya secara berturut-turut.
Pasar pun langsung merespons dengan menurunkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada September. Saham AS dibuka menguat, sementara yield Treasury turun karena investor mengurangi taruhan terhadap skenario The Fed kembali bersikap hawkish.
Namun, ruang pelonggaran kebijakan belum sepenuhnya terbuka lebar. Inflasi jasa masih meningkat, sementara harga sejumlah barang teknologi justru menunjukkan kenaikan tajam. Harga perangkat lunak dan aksesori komputer melonjak 21,2% secara tahunan, sedangkan harga komputer dan perangkat pendukung meningkat dengan laju tercepat dalam lebih dari empat tahun.
Investor juga masih perlu menunggu data indeks harga produsen (IHP) AS yang akan dirilis Kamis (13/8). Data tersebut penting karena sejumlah komponennya digunakan dalam perhitungan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed.
Rupiah Berpeluang Menguat, tetapi Terbatas
Bagi pasar Indonesia, data inflasi AS memberikan katalis positif bagi rupiah. Inflasi yang sesuai ekspektasi, ditambah tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS, mengurangi tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 40%, lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Penurunan ekspektasi tersebut mengurangi tekanan dari interest rate differential atau selisih suku bunga antara AS dan negara lain.
Sentimen tersebut turut tercermin dari pergerakan mata uang Asia. Baht Thailand menguat 0,23%, won Korea Selatan naik 0,21%, sementara yen Jepang dan yuan offshore juga bergerak menguat. Indeks dolar AS turut melemah 0,08% ke 99,94. Rupiah pun berpotensi memperoleh tenaga dari kombinasi tersebut. Namun, penguatannya diperkirakan masih terbatas karena risiko eksternal belum sepenuhnya hilang.
Secara teknikal, rupiah berpeluang menguat menuju Rp17.840/US$, dengan resistance berikutnya di sekitar Rp17.800/US$. Jika penguatan berlanjut, level Rp17.700/US$ menjadi target yang lebih optimistis. Sebaliknya, jika rupiah kembali tertekan, level Rp17.900/US$ menjadi support terdekat. Penembusan level tersebut berpotensi membuka ruang pelemahan menuju Rp17.950-Rp18.000/US$.
Harga Minyak Masih Jadi Risiko Utama
Katalis positif dari inflasi AS masih dibayangi oleh risiko harga energi. Harga Brent memang turun 0,76% menjadi sekitar US$88,27 per barel, tetapi pasar minyak global masih menghadapi risiko defisit pasokan. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasar minyak mengalami defisit sekitar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini. Kondisi tersebut membuat harga minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan konflik AS-Iran dan keberlanjutan gangguan di Selat Hormuz.
Perundingan antara Washington dan Teheran juga belum memberikan kepastian. Pakistan sebagai mediator menyebut proses perdamaian yang lebih luas telah terhenti, meskipun tenggat penyusunan nota kesepahaman masih dapat diperpanjang.
Bagi Indonesia, risiko ini penting karena kenaikan harga minyak dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi domestik dan memperbesar kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Dengan demikian, apabila harga minyak kembali melonjak, manfaat dari melemahnya dolar AS dan turunnya ekspektasi suku bunga The Fed terhadap rupiah dapat dengan cepat terhapus.
Pergantian Pimpinan BI Jadi Perhatian Berikutnya
Dari dalam negeri, pasar juga mulai mencermati proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI). Presiden Prabowo Subianto telah mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI. Selain Destry, terdapat dua kandidat Deputi Gubernur BI, yakni Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori. Salah satu dari keduanya akan dipilih untuk mengisi posisi Deputi Gubernur, sementara Aida S. Budiman diusulkan untuk menjadi Deputi Gubernur Senior BI.
DPR dijadwalkan memproses ketiga kandidat tersebut melalui uji kelayakan dan kepatutan pada pekan depan. Pergantian kepemimpinan BI menjadi katalis penting bagi pasar karena investor tidak hanya akan melihat siapa yang terpilih, tetapi juga kombinasi kepemimpinan yang nantinya menentukan arah kebijakan moneter. Kredibilitas, independensi, komunikasi kebijakan, serta respons BI terhadap rupiah dan inflasi akan menjadi perhatian utama.
Dampak ke Pasar
Secara keseluruhan, data inflasi AS Juli memberikan sentimen positif bagi aset berisiko dan obligasi, karena mengurangi tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi. Untuk rupiah, arah pergerakan cenderung positif tetapi belum cukup kuat untuk menghasilkan penguatan agresif. USD yang melemah dan ekspektasi The Fed yang lebih dovish menjadi katalis utama, sementara harga minyak dan risiko geopolitik menjadi penahan.
Ruang penguatan masih terbuka menuju Rp17.840-Rp17.800/US$, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah tren secara agresif. Kunci berikutnya adalah apakah pelemahan inflasi AS benar-benar diikuti oleh data ekonomi yang cukup lemah untuk mendorong The Fed memangkas suku bunga, tanpa disertai lonjakan baru harga minyak akibat konflik AS-Iran.

