[Medan | 14 Agustus 2026] Presiden Prabowo Subianto menargetkan produksi massal mobil listrik nasional dapat dimulai paling lambat pada 2028. Target tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk membangun industri kendaraan listrik nasional sekaligus memperkuat rantai pasok dan mengurangi ketergantungan terhadap produk otomotif impor.
Target tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). “Kita berharap paling lambat tahun 2028 sudah produksi besar-besaran,” kata Prabowo.
Dari Ekosistem Motor Listrik ke Mobil Nasional
Pemerintah tidak hanya mendorong penggunaan kendaraan listrik, tetapi juga ingin membangun ekosistem industri dari sisi produksi hingga rantai pasok. Dalam pengembangan mobil listrik nasional, PT Pindad menjadi salah satu perusahaan yang dipersiapkan untuk menjalankan program tersebut. Sebelumnya, Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa menyatakan perusahaan telah menyiapkan lahan di Subang, Jawa Barat, sebagai lokasi produksi mobil nasional.
Pabrik tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 500 ribu unit per tahun. Pada tahap awal, produksi pada 2028 ditargetkan mencapai sekitar 100 ribu unit sebelum kapasitas produksi ditingkatkan secara bertahap. Artinya, pemerintah tidak hanya ingin Indonesia menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga menjadi basis produksi kendaraan listrik dalam negeri.
Kenapa 2028 Jadi Penting?
Target 2028 memberikan waktu sekitar dua tahun bagi pemerintah dan pelaku industri untuk membangun fondasi produksi. Tantangannya bukan hanya membangun pabrik kendaraan, tetapi juga memastikan ketersediaan komponen, baterai, teknologi, charging infrastructure, sumber bahan baku, tenaga kerja, hingga jaringan distribusi dan pembiayaan.
Karena itu, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat ekosistem tersebut terbentuk. Pemerintah sebelumnya telah menempatkan pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan ketahanan energi. Semakin banyak kendaraan yang menggunakan listrik, semakin kecil ketergantungan transportasi terhadap BBM dalam jangka panjang.
Dampak ke Industri Otomotif
Jika target produksi 100 ribu unit pada tahap awal dapat terealisasi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen kendaraan. Rantai industri yang lebih luas berpotensi ikut berkembang, mulai dari komponen otomotif, baterai, logistik, charging station, manufaktur, hingga industri bahan baku.
Program tersebut juga dapat meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri apabila pemerintah berhasil mendorong penggunaan komponen domestik. Namun, investor tetap perlu membedakan antara target produksi dan realisasi produksi. Industri otomotif membutuhkan skala ekonomi yang besar agar biaya produksi dapat kompetitif. Tantangan berikutnya adalah memastikan mobil listrik nasional mampu bersaing dari sisi harga, kualitas, teknologi, dan after-sales service dengan produk yang sudah lebih dulu menguasai pasar.
Dampak ke Rupiah dan Neraca Perdagangan
Dalam jangka panjang, peningkatan produksi kendaraan listrik domestik dapat membantu mengurangi kebutuhan impor kendaraan dan komponen tertentu. Jika rantai pasok domestik semakin kuat, nilai tambah industri juga lebih banyak tercipta di dalam negeri.
Namun, pada tahap awal, pembangunan ekosistem kendaraan listrik justru dapat meningkatkan kebutuhan impor mesin, teknologi, baterai, maupun komponen tertentu sebelum kapasitas produksi lokal terbentuk. Karena itu, dampak positif terhadap neraca perdagangan kemungkinan baru terlihat setelah tingkat kandungan domestik dan kapasitas produksi meningkat secara signifikan.

