[Medan | 3 Agustus 2026] Jepang dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menghentikan pelemahan yen yang sempat menyentuh level terendah dalam hampir 40 tahun. Langkah tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya koordinasi kedua negara dalam menjaga stabilitas pasar keuangan global.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi Washington membantu Jepang menopang nilai tukar yen sebagai bentuk kerja sama bilateral sekaligus untuk menjaga stabilitas perekonomian global. “Jepang memiliki yen yang melemah dan mereka membutuhkan sedikit bantuan. Kami selalu ada untuk Jepang. Hal ini juga baik bagi perekonomian dunia,” ujar Trump. Pernyataan tersebut langsung mendorong penguatan yen. Dolar AS melemah sekitar 0,2% terhadap mata uang Jepang ke level 157,07 yen per dolar.
Intervensi Bersama Pertama dalam 15 Tahun
Menurut Reuters, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dijadwalkan mengumumkan bahwa Tokyo dan Washington melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing pada pekan lalu untuk menahan pelemahan yen yang dinilai sudah berlebihan. Apabila dikonfirmasi, langkah tersebut akan menjadi intervensi bersama pertama antara Jepang dan AS dalam 15 tahun terakhir.
Sejumlah pejabat pemerintah Jepang menyebut operasi pembelian yen masih berlangsung. Berdasarkan estimasi Bank of Japan (BOJ), Jepang diperkirakan telah menggelontorkan dana hingga US$58,97 miliar untuk membeli yen di pasar valuta asing. Di sisi lain, Departemen Keuangan AS juga dikabarkan telah memberi sinyal kepada sejumlah bank mengenai kemungkinan keterlibatan Washington dalam operasi stabilisasi tersebut.
Pelemahan Yen Jadi Ancaman Ekonomi Jepang
Selama beberapa bulan terakhir, yen terus berada di bawah tekanan akibat perbedaan suku bunga yang lebar antara Jepang dan Amerika Serikat. Melemahnya yen memang menguntungkan sektor ekspor Jepang, tetapi di sisi lain meningkatkan biaya impor energi dan bahan baku sehingga mendorong inflasi domestik serta menekan daya beli masyarakat.
Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya hidup. Untuk memperkuat nilai tukar yen, Bank of Japan juga mulai memberikan sinyal yang lebih hawkish. Meski mempertahankan suku bunga pada pertemuan terakhir, BOJ mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila inflasi tetap bertahan.
Dampaknya ke Pasar
Intervensi bersama Jepang dan Amerika Serikat menunjukkan kedua negara tidak menginginkan pelemahan yen berlangsung terlalu dalam karena berpotensi mengganggu stabilitas pasar keuangan global. Bagi pasar valuta asing, langkah tersebut berpotensi menopang penguatan yen dalam jangka pendek sekaligus membatasi penguatan dolar AS apabila intervensi terus berlanjut.
Di pasar obligasi global, penguatan yen dan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan dapat mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang. Kondisi ini berpotensi memicu sebagian investor global mengalihkan dana dari pasar obligasi negara berkembang kembali ke Jepang.
Sementara itu, bagi pasar saham Asia, penguatan yen dapat menjadi sentimen negatif bagi eksportir Jepang karena berpotensi mengurangi daya saing produk mereka di pasar internasional. Sebaliknya, stabilitas nilai tukar dinilai positif bagi sektor domestik yang selama ini terbebani tingginya biaya impor.
Untuk Indonesia, perkembangan tersebut perlu dicermati karena pergerakan yen, dolar AS, dan yield obligasi global dapat memengaruhi arus modal asing, nilai tukar rupiah, serta pasar obligasi domestik dalam beberapa waktu ke depan.

