[Medan | 3 Agustus 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis data inflasi Juli 2026 serta neraca perdagangan Juni 2026. Data tersebut menunjukkan tekanan harga domestik semakin mereda dengan Indonesia kembali mengalami deflasi, sementara kondisi perdagangan luar negeri mulai membaik meski masih mencatat defisit.
Ringkasan Data Ekonomi
Inflasi Indonesia (Juli 2026)
| Indikator | Aktual | Sebelumnya | Konsensus |
| Inflasi MoM | -0.14% | 0.44% | 0.10% |
| Inflasi YoY | 2.88% | 3.34% | 3.20% |
| Inflasi Inti YoY | 2.76% | 2.76% | 2.80% |
Neraca Perdagangan Indonesia (Juni 2026)
| Indikator | Aktual | Sebelumnya | Konsensus |
| Neraca Dagang | -US$0.45 miliar | -US$1.61 miliar | -US$0.79 miliar |
| Ekspor YoY | 8.84% | -5.73% | 0.25% |
| Impor YoY | 34.27% | 22.16% | 25.30% |
Inflasi Melandai Tajam, Jauh di Bawah Ekspektasi
Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14% (MoM) pada Juli 2026, berbalik dari inflasi 0,44% pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,10%. Secara tahunan, inflasi juga melambat menjadi 2,88% YoY, sementara inflasi inti tetap stabil di 2,76% YoY.
Deflasi merupakan kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, kondisi ini tidak selalu menjadi sinyal pelemahan ekonomi karena dapat dipengaruhi oleh faktor pasokan maupun kebijakan harga. Berdasarkan penjelasan BPS, deflasi Juli terutama didorong oleh penurunan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, serta turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah seiring meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Di sisi lain, inflasi inti yang tetap stabil di 2,76% YoY menunjukkan bahwa tekanan inflasi dari sisi permintaan masih relatif terjaga. Dengan demikian, deflasi kali ini lebih mencerminkan normalisasi harga akibat membaiknya pasokan, dibandingkan pelemahan daya beli masyarakat.
Defisit Neraca Dagang Mengecil, tetapi Belum Kembali Surplus
BPS juga melaporkan Indonesia masih mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$0,45 miliar pada Juni 2026. Meskipun masih berada di zona negatif, angka tersebut lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya maupun ekspektasi pasar.
Perbaikan ini didorong oleh ekspor yang tumbuh 8,84% YoY, berbalik dari kontraksi pada Mei. Namun, impor yang melonjak 34,27% YoY membuat Indonesia belum kembali membukukan surplus perdagangan.
Jika kenaikan impor didominasi oleh barang modal dan bahan baku, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal meningkatnya aktivitas investasi dan produksi. Sebaliknya, jika didorong oleh barang konsumsi, tekanan terhadap sektor eksternal berpotensi berlanjut.
Apa Artinya?
Secara keseluruhan, data hari ini memberikan sinyal yang mixed namun cenderung positif.
Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga, sementara penyempitan defisit perdagangan menunjukkan tekanan terhadap sektor eksternal mulai berkurang meski belum sepenuhnya pulih.
Dampak terhadap Pasar
- Obligasi: Positif, karena inflasi yang lebih rendah mengurangi tekanan kenaikan suku bunga dan berpotensi menurunkan yield SBN.
- Saham: Cenderung positif, terutama bagi sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Namun sentimen masih dibatasi oleh defisit perdagangan yang belum kembali surplus.
- Rupiah: Netral hingga positif. Penyempitan defisit perdagangan mendukung fundamental rupiah, tetapi arah pergerakannya masih akan dipengaruhi dolar AS dan arus modal asing.

