[Medan | 3 Agustus 2026] Defisit neraca perdagangan Indonesia diperkirakan menyempit pada Juni 2026 seiring mulai meredanya tekanan dari impor migas akibat penurunan harga minyak dunia. Meski demikian, tingginya impor barang modal dan bahan baku diperkirakan masih membuat neraca perdagangan berada di zona defisit.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data neraca perdagangan Juni 2026 pada Senin (3/8/2026). Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, memproyeksikan defisit neraca perdagangan mencapai US$1,463 miliar, membaik dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Dari sisi ekspor, nilai pengiriman barang ke luar negeri diperkirakan tumbuh 3,30% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan meningkat 4,33% secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara itu, impor diperkirakan masih tumbuh jauh lebih tinggi, yakni 32,79% (yoy) dan 3,46% (mtm).
Impor Masih Jadi Tantangan
David menjelaskan, pelemahan harga minyak dunia sepanjang Juni memang membantu menekan nilai impor migas. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk mengembalikan neraca perdagangan Indonesia ke zona surplus. Menurutnya, defisit masih terjadi karena permintaan impor, khususnya barang modal dan bahan baku industri, tetap tinggi.
“Walau harga minyak turun di Juni, trade balance diproyeksikan masih defisit disebabkan oleh kenaikan impor yang cukup tinggi,” ujar David. Ia menambahkan, peningkatan impor terutama berasal dari China, khususnya untuk kebutuhan mesin, produk elektronik, dan furnitur. Kenaikan impor tersebut mencerminkan aktivitas investasi dan kebutuhan industri yang masih kuat, namun pada saat yang sama memberikan tekanan terhadap keseimbangan perdagangan Indonesia.
Harga Minyak Turun, Defisit Mulai Berkurang
Turunnya harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang membantu memperkecil defisit perdagangan karena mengurangi nilai impor energi Indonesia. Meski demikian, besarnya kebutuhan impor nonmigas membuat perbaikan neraca perdagangan diperkirakan masih berlangsung secara bertahap. Dengan demikian, kinerja perdagangan Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan meskipun tekanan dari impor migas mulai berkurang.
Dampaknya ke Pasar
Apabila defisit neraca perdagangan tercatat lebih kecil dari perkiraan, sentimen pasar berpotensi membaik karena menunjukkan tekanan terhadap sektor eksternal mulai mereda. Kondisi tersebut dapat membantu menopang nilai tukar rupiah, meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik, serta menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi dan IHSG.
Sebaliknya, apabila defisit justru melebar akibat impor yang meningkat lebih tinggi dari ekspektasi, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali meningkat karena kebutuhan devisa untuk impor semakin besar. Kondisi tersebut juga dapat mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah serta membatasi penguatan pasar saham dalam jangka pendek.
Meski demikian, pelaku pasar juga akan mencermati komposisi impor. Apabila kenaikan impor didominasi oleh barang modal dan mesin untuk investasi, dampaknya dapat dipandang lebih positif karena mencerminkan aktivitas ekonomi dan ekspansi kapasitas produksi yang masih berlangsung.

