[Medan | 14 September 2026] Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendesak The Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan suku bunga. Desakan tersebut muncul menjelang pertemuan kebijakan moneter pekan ini, ketika tekanan inflasi justru kembali meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga.
Trump Ingin Suku Bunga AS Jadi yang Terendah
Trump mengatakan AS seharusnya memiliki biaya pinjaman paling rendah di dunia karena kondisi ekonominya yang dinilai kuat. “Kita seharusnya membayar suku bunga terendah di dunia, terlepas dari rumus-rumus yang mereka gunakan,” ujar Trump kepada wartawan pada Minggu waktu setempat di Irlandia, saat menghadiri turnamen Irish Open. Ketika ditanya apakah ia memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini, Trump memilih tidak memberikan kepastian.
Inflasi AS Justru Dorong Ekspektasi Kenaikan Bunga
Pernyataan Trump muncul setelah data inflasi AS yang dirilis Jumat menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) Agustus meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Data tersebut membuat pasar meningkatkan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan The Fed. Probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini mencapai sekitar 86%, dengan pasar juga memperkirakan terdapat dua kali kenaikan hingga akhir tahun. Kondisi ini berbanding terbalik dengan keinginan Trump yang terus mendorong biaya pinjaman lebih rendah.
Harga Energi dan Tarif Jadi Tantangan Inflasi
Tekanan terhadap inflasi AS semakin kompleks akibat kenaikan harga energi di tengah perang AS-Iran yang telah memasuki bulan ketujuh. Di sisi lain, kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan pemerintahan Trump juga berpotensi meningkatkan biaya barang impor. Kombinasi harga energi dan tarif tersebut dapat membuat tekanan inflasi lebih sulit dikendalikan, sehingga membatasi ruang The Fed untuk menurunkan suku bunga.
Trump Kembali Kritik Kebijakan The Fed
Desakan terhadap The Fed bukan hal baru bagi Trump. Sebelumnya, Trump berulang kali mengkritik mantan Gubernur The Fed Jerome Powell karena dinilai terlalu lambat dalam menurunkan biaya pinjaman.
Kini, meskipun Gubernur The Fed Kevin Warsh belum menghadapi tekanan dengan intensitas yang sama, Trump kembali menunjukkan ketidakpuasannya terhadap arah kebijakan bank sentral. Trump bahkan menyebut dewan gubernur The Fed sebagai lembaga yang sangat politis dan mengisyaratkan bahwa ruang Warsh dalam menentukan kebijakan dapat terbatas oleh struktur tersebut.
Trump Ancam Negara dengan Defisit Perdagangan
Tekanan Trump terhadap kebijakan moneter juga disertai ancaman terhadap sejumlah negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. Awal September, Trump mengatakan kemungkinan memutus hubungan perdagangan dengan beberapa negara yang mencatatkan defisit perdagangan terhadap AS jika The Fed tidak menurunkan suku bunga. Ia kembali menegaskan pada Minggu bahwa langkah tersebut dapat dilakukan secara bertahap terhadap sejumlah negara. Trump beralasan AS memiliki biaya kredit yang sangat baik, tetapi justru membuat negara lain diuntungkan melalui biaya pembiayaan yang lebih rendah.
Suku Bunga Jadi Perhatian Jelang Pemilu
Dorongan Trump untuk menurunkan suku bunga juga tidak terlepas dari tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat AS. Kenaikan biaya hidup, terutama untuk energi, perumahan, layanan kesehatan, dan bahan makanan, menjadi salah satu persoalan utama bagi pemilih menjelang pemilihan sela pada November.
Di sisi lain, The Fed harus tetap mempertimbangkan stabilitas harga dalam menentukan kebijakan. Dengan inflasi yang kembali lebih tinggi dari perkiraan dan harga energi yang melonjak akibat konflik AS-Iran, ruang untuk melakukan pelonggaran agresif menjadi semakin terbatas.
Karena itu, keputusan The Fed pekan ini tidak hanya akan menentukan arah suku bunga AS, tetapi juga menjadi perhatian pasar global karena dapat memengaruhi yield Treasury, dolar AS, arus modal, dan appetite investor terhadap aset berisiko.

