[Medan | 17 Juli 2026] Penjualan ritel Amerika Serikat (AS) tumbuh sesuai ekspektasi pada Juni 2026, menunjukkan konsumsi rumah tangga masih relatif solid meski tekanan biaya hidup belum sepenuhnya mereda. Kenaikan ini terutama ditopang oleh belanja kebutuhan pokok dan berbagai program diskon ritel, sementara turunnya harga bensin membantu meningkatkan daya beli konsumen.
Penjualan Ritel Sesuai Ekspektasi
Berdasarkan data Biro Sensus Departemen Perdagangan AS, penjualan ritel naik 0,2% (month-on-month) pada Juni, melambat dibandingkan kenaikan 1,0% pada Mei yang telah direvisi lebih tinggi. Angka tersebut sejalan dengan konsensus pasar. Sementara itu, core retail sales, yang tidak memasukkan penjualan kendaraan bermotor, bensin, bahan bangunan, dan jasa makanan, naik 0,5%, setelah meningkat 0,8% pada Mei. Indikator ini menjadi perhatian pasar karena merupakan komponen utama dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) AS.
Harga Bensin Turun, Daya Beli Membaik
Salah satu faktor utama yang menopang konsumsi adalah penurunan harga energi. Harga rata-rata bensin turun menjadi US$4,18 per galon dari US$4,61 per galon pada Mei, seiring meredanya harga minyak dunia selama periode gencatan senjata sementara antara AS dan Iran.
Turunnya pengeluaran untuk bahan bakar membuat masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk membelanjakan uang pada kebutuhan lainnya. Namun, kondisi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara karena konflik di Timur Tengah kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir sehingga harga minyak mulai meningkat lagi.
Konsumen Makin Sensitif terhadap Harga
Meski konsumsi masih tumbuh, pola belanja masyarakat menunjukkan perubahan. Konsumen semakin aktif mencari produk yang lebih murah serta memanfaatkan berbagai program promosi. Momentum Amazon Prime Day serta berbagai diskon yang ditawarkan peritel lain diperkirakan turut mendorong penjualan sepanjang Juni. Selain itu, penyelenggaraan Piala Dunia FIFA juga memberikan tambahan permintaan pada sektor restoran, bar, dan hiburan.
Di sisi lain, laporan Bank of America Institute menunjukkan rumah tangga berpendapatan rendah masih menjadi kelompok yang paling terdampak kenaikan biaya hidup. Mereka semakin banyak berbelanja di toko diskon dan supermarket berbiaya rendah sebagai upaya menekan pengeluaran.
Konsumsi Masih Ditopang Kelompok Berpendapatan Tinggi
Kenaikan pengeluaran rumah tangga hingga saat ini masih banyak ditopang oleh kelompok berpendapatan tinggi yang menikmati peningkatan kekayaan akibat reli pasar saham. Sebaliknya, rumah tangga berpendapatan rendah masih cenderung menekan konsumsi karena terdampak kenaikan harga akibat tarif impor dan kembali meningkatnya harga energi. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat belum pulih secara merata.
Apa Artinya bagi Ekonomi AS?
Data ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat, yang menyumbang lebih dari dua pertiga perekonomian AS, masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2026. Namun, laju pertumbuhan konsumsi mulai melambat dan semakin bergantung pada faktor-faktor sementara seperti diskon ritel dan turunnya harga bensin. Dengan harga minyak kembali naik akibat konflik Timur Tengah, tekanan terhadap daya beli masyarakat berpotensi meningkat pada paruh kedua tahun ini.
Bagi Federal Reserve, data ini memberikan sinyal bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh sehingga belum ada urgensi untuk segera melonggarkan kebijakan moneter. Namun, apabila konsumsi mulai melemah dalam beberapa bulan ke depan bersamaan dengan perlambatan inflasi, peluang perubahan arah kebijakan suku bunga akan semakin terbuka.
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan konsumsi AS masih bertahan, tetapi kualitas pertumbuhannya mulai berubah. Masyarakat tetap berbelanja, namun semakin selektif dan sensitif terhadap harga, mencerminkan bahwa tekanan biaya hidup masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian AS.

