[Medan | 30 April 2026] Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya fase kedua proyek hilirisasi strategis nasional di Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu, 29 April 2026. Program ini mencakup 13 proyek dengan total nilai investasi mencapai Rp116 triliun.
Fokus ke Sektor Energi, Mineral, dan Pertanian
Proyek hilirisasi tersebut tersebar di sektor-sektor kunci, yakni lima proyek di bidang energi, lima proyek di sektor mineral dan pertambangan, serta tiga proyek di sektor pertanian. Alokasi ini mencerminkan fokus pemerintah dalam memperkuat rantai nilai industri berbasis sumber daya alam.
Peran Danantara dalam Pendanaan dan Konsolidasi
Seluruh proyek dikelola melalui Danantara sebagai instrumen pembiayaan dan konsolidasi aset negara. Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu mempercepat realisasi investasi sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan proyek strategis.
Hilirisasi Jadi Strategi Utama Ekonomi
Prabowo Subianto menegaskan bahwa hilirisasi merupakan pilar utama dalam mendorong transformasi ekonomi Indonesia, khususnya untuk meningkatkan nilai tambah komoditas domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Pemerintah juga menilai program ini sebagai kelanjutan dari fondasi kebijakan industri yang telah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya.
Perkuat Kedaulatan Industri Nasional
Melalui proyek-proyek ini, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas industri dalam negeri, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ketahanan ekonomi nasional. Hilirisasi diharapkan mampu menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai eksportir bahan baku, tetapi juga produsen barang bernilai tambah tinggi.
Kesimpulan: Akselerasi Industrialisasi Berbasis SDA
Secara keseluruhan, peluncuran 13 proyek hilirisasi senilai Rp116 triliun ini menandai percepatan agenda industrialisasi nasional. Dengan dukungan Danantara, pemerintah berupaya memperkuat daya saing global melalui pengolahan sumber daya alam yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

