[Medan | 15 Juni 2026] Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat (19/6) setelah penandatanganan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut akan diawali dengan proses pembersihan ranjau sebelum aktivitas pengiriman energi kembali normal.
Trump menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz akan memungkinkan arus minyak kembali mengalir ke pasar global setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
Tiga Poin Utama Kesepakatan AS-Iran
Wakil Presiden AS JD Vance menjelaskan bahwa kesepakatan damai yang dicapai memiliki tiga elemen utama:
- Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade maritim terhadap Iran.
- Komitmen Iran untuk tidak mengembangkan maupun memperoleh senjata nuklir.
- Kepatuhan penuh kedua pihak terhadap seluruh isi perjanjian.
Meski demikian, Vance menegaskan implementasi seluruh kesepakatan tetap bergantung pada kepatuhan Iran terhadap komitmen yang telah disepakati.
Harga Minyak Berpotensi Melanjutkan Penurunan
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kabar positif bagi pasar energi global. Jalur tersebut selama kondisi normal menampung sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Dengan berkurangnya risiko gangguan pasokan, harga minyak dunia berpotensi tetap berada dalam tren menurun setelah Brent anjlok ke kisaran US$84 per barel dan WTI turun mendekati US$81 per barel.
Normalisasi distribusi energi juga berpotensi menekan tekanan inflasi global yang sebelumnya meningkat akibat lonjakan harga minyak selama konflik berlangsung.
Dampak ke Pasar Keuangan
Meredanya tensi geopolitik memberikan sentimen positif bagi aset berisiko:
- Bursa saham global berpotensi melanjutkan penguatan.
- Yield obligasi pemerintah dapat turun seiring meredanya ekspektasi inflasi.
- Dolar AS cenderung melemah karena berkurangnya permintaan aset safe haven.
- Harga minyak berpotensi turun lebih lanjut jika implementasi kesepakatan berjalan lancar.
Implikasi untuk Indonesia
Bagi Indonesia, pembukaan Selat Hormuz menjadi sentimen positif karena:
- Mengurangi tekanan pada harga energi dan subsidi pemerintah.
- Membantu menahan laju inflasi impor.
- Mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
- Menjadi katalis positif bagi pasar obligasi dan IHSG.
Namun demikian, pelaku pasar masih akan mencermati proses implementasi kesepakatan hingga penandatanganan resmi pada Jumat mendatang, mengingat beberapa kali sebelumnya proses perdamaian AS-Iran sempat mengalami hambatan pada tahap akhir negosiasi.

