[Medan | 15 Juni 2026] Harga minyak dunia anjlok setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan pasar bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akan segera kembali beroperasi normal, sehingga mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah Brent turun lebih dari 3% ke kisaran US$84 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah mendekati US$81 per barel. Penurunan ini memperpanjang koreksi harga energi yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya optimisme terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Trump Umumkan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya telah memberikan otorisasi untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade terhadap Iran. Menurutnya, jalur pelayaran tersebut akan kembali beroperasi setelah kesepakatan resmi ditandatangani pada akhir pekan ini.
Trump menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz akan memungkinkan arus perdagangan energi global kembali normal setelah berbulan-bulan mengalami gangguan akibat konflik.
Iran Konfirmasi Kesepakatan Damai
Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa kesepakatan memang telah dicapai. Ia mengatakan dokumen resmi akan dipublikasikan setelah proses penandatanganan yang dijadwalkan berlangsung di Swiss.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan kesiapannya menghadiri penandatanganan tersebut. Kehadiran Trump sendiri masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Konflik yang Mengguncang Pasar Energi
Sejak pecah pada akhir Februari, konflik AS–Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan harga energi global. Ketegangan meningkat setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran yang ditujukan untuk membatasi program nuklir Teheran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan di kawasan Teluk Persia dan menutup Selat Hormuz, jalur yang pada kondisi normal dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Gangguan tersebut memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Harga Minyak Mulai Kehilangan Premi Risiko
Meski sempat melonjak tajam pada fase awal konflik, harga minyak mulai terkoreksi dalam beberapa minggu terakhir. Pasar semakin yakin bahwa kedua negara bergerak menuju penyelesaian diplomatik setelah beberapa kali muncul sinyal positif dari proses negosiasi.
Selain itu, sebagian pengiriman energi melalui Selat Hormuz mulai kembali berlangsung, sementara negara-negara maju memanfaatkan cadangan minyak strategis mereka untuk menjaga pasokan dan menekan gejolak harga.
Tantangan Pemulihan Selat Hormuz
Meski kesepakatan damai menjadi perkembangan positif, proses normalisasi Selat Hormuz diperkirakan tidak berlangsung instan. Sejumlah hambatan masih harus diselesaikan, termasuk pembersihan ranjau laut, pemulihan keamanan jalur pelayaran, serta kejelasan aturan yang akan diterapkan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas.
Pasar juga akan mencermati implementasi kesepakatan tersebut untuk memastikan tidak ada gangguan baru yang dapat menghambat arus perdagangan energi.
Gas Alam Eropa Ikut Turun
Meredanya ketegangan geopolitik juga berdampak pada pasar energi lainnya. Kontrak berjangka gas alam Eropa tercatat turun hingga 5,8% karena berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Pergerakan Harga Terakhir
- Brent kontrak Agustus turun 3,4% menjadi US$84,32 per barel.
- WTI kontrak Juli melemah 4,0% menjadi US$81,46 per barel.

