[Medan | 2 Juni 2026] Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis tekanan inflasi Indonesia hanya bersifat sementara dan akan mulai mereda dalam beberapa bulan ke depan seiring penurunan harga minyak dunia serta normalisasi harga komoditas pangan yang bergejolak.
Menurut Purbaya, lonjakan inflasi Juni 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas pangan yang bersifat musiman, bukan akibat meningkatnya permintaan masyarakat secara berlebihan. “Harga minyak sekarang sudah turun. Harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan mengikuti harga minyak dunia. Jadi tekanan terhadap inflasi akan segera berkurang,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (2/7).
Ia menilai kondisi tersebut tercermin dari inflasi inti (core inflation) yang masih relatif terkendali, sehingga kenaikan inflasi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor yang bersifat sementara. “Core inflation masih 2,76 persen, relatif terkendali. Jadi kenaikan inflasi bukan karena permintaan yang terlalu kuat, melainkan karena harga BBM dan pangan yang bergejolak. Tekanan itu seharusnya akan hilang dalam beberapa bulan ke depan,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% (YoY) atau meningkat dari 3,08% pada Mei. Secara bulanan, inflasi mencapai 0,44%, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,28%.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 2,29% dan memberikan andil 0,28% terhadap inflasi nasional. Komoditas bensin menjadi kontributor utama dengan andil 0,21%, diikuti tarif angkutan udara sebesar 0,05% serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01%.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,20% dengan andil 0,06%, yang terutama dipicu kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras.
Pernyataan Purbaya memperkuat pandangan pemerintah bahwa lonjakan inflasi saat ini masih didominasi oleh volatile food dan administered prices, bukan akibat menguatnya permintaan domestik. Hal tersebut juga tercermin dari inflasi inti yang masih berada di level 2,76%, sehingga tekanan inflasi dinilai belum bersifat struktural.
Apabila harga minyak dunia terus bergerak turun dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi berlanjut, tekanan inflasi diperkirakan akan mereda pada semester II 2026. Namun demikian, inflasi yang saat ini telah mencapai 3,34%, mendekati batas atas target Bank Indonesia sebesar 3,5%, tetap membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas dalam jangka pendek.
Bagi pasar keuangan, prospek meredanya inflasi berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi apabila terealisasi dalam beberapa bulan ke depan. Namun, untuk saat ini pelaku pasar masih cenderung menunggu konfirmasi bahwa tekanan harga benar-benar mulai menurun sebelum kembali meningkatkan ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Bank Indonesia.

