[Medan | 2 Juli 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Realisasi tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan Indonesia masih mampu membukukan surplus sekitar US$1 miliar.
Defisit ini menjadi yang pertama sejak Mei 2020, sekaligus mengakhiri tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Sebelumnya, pada April 2026 neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus tipis sebesar US$89,1 juta.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan defisit tersebut terutama dipicu oleh membengkaknya defisit sektor migas yang mencapai US$3,76 miliar, terutama berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah.
Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar US$2,15 miliar, yang ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati (CPO), serta besi dan baja.
Secara kumulatif sepanjang Januari–Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$4,03 miliar, ditopang surplus nonmigas sebesar US$16,31 miliar, meskipun defisit migas telah mencapai US$12,28 miliar.
Sebelumnya, konsensus Bloomberg terhadap 21 ekonom memperkirakan ekspor Indonesia tumbuh 3,75% (YoY), sementara impor diproyeksikan meningkat 18,26% (YoY). Konsensus juga memperkirakan surplus perdagangan melebar menjadi sekitar US$1,01 miliar, sehingga realisasi defisit menjadi kejutan negatif bagi pasar.
Defisit neraca perdagangan menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sektor eksternal mulai meningkat. Pelemahan ekspor di tengah tingginya impor, khususnya impor energi, berpotensi mengurangi pasokan devisa sehingga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila kondisi tersebut berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi pasar keuangan, data ini cenderung menjadi sentimen negatif karena mempersempit ruang penguatan rupiah dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keseimbangan eksternal Indonesia. Kondisi tersebut juga dapat mendorong investor tetap berhati-hati terhadap aset domestik, termasuk pasar saham dan obligasi, terutama apabila defisit perdagangan kembali berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

