[Medan | 17 Juni 2026] Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan FOMC yang berakhir Rabu malam waktu setempat. Namun, fokus pasar kali ini bukan lagi pada keputusan suku bunga itu sendiri, melainkan pada bagaimana Gubernur baru The Fed, Kevin Warsh, memberikan panduan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Pertemuan ini menjadi debut Warsh sebagai pimpinan The Fed di tengah situasi yang tidak mudah. Inflasi AS masih berada di atas target, sementara Presiden Donald Trump terus mendorong bank sentral untuk segera menurunkan biaya pinjaman guna menopang pertumbuhan ekonomi.
The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Mayoritas ekonom dan pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan Fed Funds Rate pada pertemuan kali ini. Meskipun inflasi masih relatif tinggi, penurunan tajam harga minyak setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran telah mengurangi sebagian risiko inflasi yang sebelumnya menjadi perhatian utama pasar.
Sebelumnya, lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah sempat mendorong pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun. Namun, setelah harga minyak Brent turun dari kisaran US$96 menjadi mendekati US$84 per barel, ekspektasi tersebut mulai berkurang.
Fokus Utama Ada di Dot Plot
Perhatian terbesar investor akan tertuju pada pembaruan Summary of Economic Projections (SEP), khususnya dot plot yang menunjukkan proyeksi suku bunga para pejabat The Fed.
Pertanyaan yang kini menjadi fokus pasar adalah apakah median dot plot masih menunjukkan adanya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026 atau justru mulai bergeser ke arah yang lebih dovish setelah meredanya tekanan energi.
Jika median proyeksi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan suku bunga pada 2026, pasar kemungkinan akan menilainya sebagai kejutan positif. Yield US Treasury berpotensi turun lebih lanjut dan memberikan ruang penguatan bagi aset pendapatan tetap, termasuk obligasi negara berkembang seperti Indonesia.
Sebaliknya, apabila mayoritas pejabat masih mempertahankan proyeksi kenaikan suku bunga, pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan sehingga mendorong kenaikan yield obligasi global.
Revisi Inflasi Akan Menjadi Petunjuk Penting
Selain dot plot, investor juga akan mencermati revisi proyeksi inflasi yang dirilis The Fed.
Penurunan harga energi dalam beberapa hari terakhir berpotensi membuat The Fed menurunkan proyeksi inflasi untuk 2026 dan 2027. Jika hal tersebut terjadi, pasar akan semakin yakin bahwa siklus pengetatan moneter AS telah mendekati akhir.
Namun jika The Fed tetap mempertahankan proyeksi inflasi yang tinggi, hal tersebut mengindikasikan bahwa para pejabat masih khawatir tekanan harga dapat meluas ke sektor lain di luar energi.
Debut Kevin Warsh Jadi Sorotan
Konferensi pers Warsh setelah rapat akan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan pasar.
Secara historis, Warsh dikenal memiliki reputasi lebih hawkish dibanding pendahulunya. Namun kondisi saat ini berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Harga minyak telah turun signifikan, risiko inflasi energi mulai mereda, dan pasar tengah mencari konfirmasi bahwa The Fed tidak perlu kembali agresif menaikkan suku bunga.
Karena itu, nada komunikasi Warsh akan menjadi faktor penting.
Apabila ia menegaskan pendekatan yang pragmatis dan berbasis data (data-dependent), pasar berpotensi merespons positif. Namun jika Warsh tetap menekankan risiko inflasi dan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat, sentimen pasar dapat kembali tertekan.
Dampak ke Pasar Indonesia
Bagi Indonesia, hasil rapat The Fed akan menjadi salah satu faktor penting menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pada pekan yang sama.
Skenario paling positif bagi pasar domestik adalah apabila The Fed mempertahankan suku bunga, merevisi turun proyeksi inflasi, dan menunjukkan sikap yang lebih netral. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penurunan yield US Treasury, memperkuat arus modal ke emerging markets, serta memberikan ruang bagi penguatan obligasi pemerintah Indonesia.
Namun jika dot plot tetap hawkish dan Warsh memberikan sinyal bahwa risiko kenaikan suku bunga masih terbuka, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi domestik berpotensi kembali meningkat.

