[Medan | 30 Juli 2026] Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings menilai pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) berpotensi meningkatkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Meski demikian, S&P menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan tersebut belum memengaruhi peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia.
Mengutip Bloomberg Technoz, Sovereign Analyst S&P Global Ratings Rain Yin mengatakan pergantian gubernur BI memang meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter, khususnya terkait bagaimana bank sentral akan merespons perkembangan inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga dinamika ekonomi global.
Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan
Menurut S&P, pergantian pimpinan bank sentral terjadi pada saat sentimen terhadap aset-aset Indonesia sedang melemah. Dalam kondisi tersebut, pasar cenderung menunggu kepastian mengenai siapa Gubernur BI definitif dan apakah kebijakan moneter akan tetap konsisten dengan pendekatan yang selama ini diterapkan.
Ketidakpastian tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan, terutama pada nilai tukar rupiah dan pasar obligasi pemerintah, karena investor biasanya membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan suku bunga, stabilitas inflasi, serta independensi bank sentral. Meski demikian, S&P menilai situasi serupa pernah terjadi sebelumnya tanpa menimbulkan perubahan fundamental terhadap perekonomian Indonesia.
Sebagai contoh, saat Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat mengundurkan diri beberapa tahun lalu, pasar juga mempertanyakan kesinambungan kebijakan fiskal pemerintah. Namun pada akhirnya pemerintah tetap mempertahankan disiplin fiskal dan menjaga defisit anggaran sesuai batas yang telah ditetapkan.
Rating Indonesia Tetap Dipertahankan
Di tengah meningkatnya ketidakpastian tersebut, S&P tetap mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil.
Menurut S&P, keputusan tersebut mencerminkan keyakinan bahwa tekanan terhadap kondisi fiskal maupun sektor eksternal Indonesia diperkirakan akan mereda dalam beberapa bulan ke depan seiring membaiknya kepastian kebijakan pemerintah.
Namun, S&P juga mengingatkan bahwa apabila kondisi fiskal maupun eksternal memburuk secara permanen, bukan hanya bersifat sementara, maka risiko penurunan peringkat utang Indonesia dapat meningkat di masa mendatang.
Apa Artinya bagi Pasar?
Pernyataan S&P menunjukkan bahwa yang menjadi perhatian utama pasar saat ini bukanlah pergantian sosok Gubernur BI semata, melainkan kepastian arah kebijakan moneter setelah pergantian tersebut. Selama pemerintah mampu menunjuk gubernur baru yang kredibel serta menjaga independensi Bank Indonesia, tekanan terhadap pasar kemungkinan hanya bersifat sementara.
Bagi rupiah, ketidakpastian kepemimpinan BI dapat membuat nilai tukar tetap berfluktuasi dalam jangka pendek karena investor asing cenderung menahan masuknya dana hingga arah kebijakan lebih jelas.
Di pasar obligasi, ketidakpastian tersebut berpotensi mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), terutama jika investor meminta premi risiko yang lebih tinggi. Namun apabila gubernur baru dinilai memiliki kredibilitas yang kuat dan melanjutkan kebijakan yang konsisten, yield berpotensi kembali stabil.
Sementara itu, IHSG berpotensi bergerak lebih volatil karena investor akan mencermati perkembangan proses pemilihan Gubernur BI definitif. Saham-saham perbankan dan sektor keuangan kemungkinan menjadi sektor yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga maupun arah kebijakan moneter.
Secara keseluruhan, penegasan S&P bahwa rating Indonesia tetap dipertahankan menjadi sinyal positif karena menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai cukup kuat. Namun, dalam jangka pendek pasar diperkirakan tetap akan bergerak hati-hati hingga terdapat kepastian mengenai kepemimpinan baru Bank Indonesia dan arah kebijakan moneternya.

