[Medan | 31 Juli 2026] Presiden Prabowo Subianto memberi sinyal kuat bahwa Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, berpeluang menjadi calon Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri acara penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Dalam sambutannya, Prabowo sempat mengoreksi penyebutan jabatan Destry yang sebelumnya disebut masih sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Presiden menegaskan bahwa saat ini Destry telah menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.
Prabowo kemudian melontarkan candaan yang dinilai sebagai sinyal politik mengenai peluang Destry menjadi gubernur definitif. “Ibu Destry sekarang adalah Pejabat Gubernur Sementara. Kayaknya gimana? Oke? Terserah DPR nanti ya kira-kira.”
Sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia, setelah gubernur mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir, jabatan tersebut diisi sementara oleh Deputi Gubernur Senior. Selanjutnya, Presiden mengajukan calon Gubernur BI kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Dalam beberapa periode terakhir, Presiden umumnya hanya mengusulkan satu nama kepada DPR.
Kredibilitas Jadi Faktor Utama
Ekonom Core Indonesia Dipo Satria Ramli menilai sosok Gubernur BI tidak hanya harus memiliki pengalaman teknis, tetapi juga keberanian serta integritas dalam menjalankan kebijakan moneter. Menurutnya, kemampuan menyampaikan kondisi ekonomi secara objektif menjadi sangat penting, terutama ketika rupiah berada di bawah tekanan.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafni menyebut terdapat beberapa figur yang dinilai layak memimpin Bank Indonesia, yakni Destry Damayanti, Muliaman Hadad, dan Aida S. Budiman. Ketiganya dinilai memiliki pengalaman panjang di sektor moneter dan keuangan serta kredibilitas yang cukup baik di mata pelaku pasar.
Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menegaskan bahwa calon Gubernur BI ideal harus memenuhi empat kriteria utama, yaitu memiliki rekam jejak teknokratik yang kuat, memahami operasi moneter secara mendalam, mampu menjaga independensi dari kepentingan politik, serta memperoleh kepercayaan pasar.
Menurutnya, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia memang penting, tetapi independensi bank sentral tetap harus dijaga agar kebijakan moneter tetap berorientasi pada stabilitas harga, nilai tukar, dan sistem keuangan.
Dampak ke Pasar
Kode yang diberikan Presiden terhadap Destry Damayanti berpotensi mengurangi ketidakpastian yang sempat muncul setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Sebagai Deputi Gubernur Senior BI yang telah lama terlibat dalam penyusunan kebijakan moneter, Destry dipandang sebagai figur yang mampu menjaga kesinambungan kebijakan Bank Indonesia.
Bagi rupiah, peluang penguatan terbuka apabila pasar menilai proses transisi kepemimpinan berlangsung mulus dan independensi BI tetap terjaga. Berkurangnya ketidakpastian juga dapat membantu menurunkan volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Di pasar obligasi, prospek kesinambungan kebijakan moneter berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut dapat mendorong permintaan obligasi dan membantu menekan imbal hasil (yield), khususnya apabila arus dana asing kembali masuk.
Sementara itu, bagi IHSG, kepastian arah kepemimpinan Bank Indonesia menjadi sentimen positif karena mengurangi risiko kebijakan (policy risk). Saham sektor perbankan dan keuangan berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan apabila pasar menilai koordinasi antara kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan tetap berjalan baik.
Meski begitu, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada proses fit and proper test di DPR. Selain nama yang dipilih, pasar juga akan mencermati komitmen calon Gubernur BI dalam menjaga independensi bank sentral, mengendalikan inflasi, serta menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

