IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Rilis Hari Ini (2/6): Inflasi Mei Diproyeksi Naik, Surplus Dagang Menyempit

By Aurelia Tanu 1 hour ago Ekonomi
Image source: AP/ letsbloom.com
SHARE

[Medan | 2 Juni 2026] Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan inflasi Indonesia pada Mei 2026 masih berada dalam tren terkendali, meskipun mulai menunjukkan peningkatan dibanding bulan sebelumnya. Inflasi bulanan diproyeksikan mencapai 0,14% secara month-to-month (mtm), sedikit lebih tinggi dibanding April 2026 yang tercatat sebesar 0,13%.

Contents
Tekanan Inflasi Mulai Berasal dari Sisi BiayaRisiko Inflasi Masih Condong ke AtasSurplus Neraca Dagang Diperkirakan MenyempitEkspor Mulai Membaik, Namun Permintaan Global Masih LemahKenaikan Impor Jadi Tekanan Baru bagi Rupiah

Sementara itu, secara tahunan inflasi diperkirakan meningkat menjadi 2,94% year-on-year (YoY), dibanding posisi April yang berada di level 2,42%. Menurut Josua, arah inflasi Mei bukan mengarah pada pelemahan atau deflasi, melainkan mulai mencerminkan kenaikan tekanan biaya yang diteruskan ke konsumen.

Tekanan Inflasi Mulai Berasal dari Sisi Biaya

Josua menjelaskan kenaikan inflasi Mei lebih banyak dipengaruhi faktor pasokan dan kenaikan biaya produksi dibanding lonjakan permintaan masyarakat. Pelemahan rupiah yang meningkatkan harga bahan baku impor, tingginya harga energi global, serta kenaikan biaya input produksi menjadi faktor utama yang mendorong tekanan harga.

Selain itu, momentum menjelang Idul Adha juga diperkirakan meningkatkan permintaan bahan pangan sehingga mendorong inflasi pada komponen volatile food. Harga pangan bergejolak diperkirakan kembali mengalami kenaikan, terutama pada komoditas bahan makanan pokok.

Dari sisi administered prices, tekanan inflasi juga berpotensi muncul akibat kenaikan harga BBM non subsidi, energi, serta tarif angkutan udara yang terdorong mahalnya harga avtur di pasar global. Josua juga memperkirakan inflasi inti meningkat dari 2,44% YoY pada April menjadi sekitar 2,50% YoY pada Mei. Kenaikan tersebut terutama dipicu inflasi pangan inti seperti minyak goreng serta meningkatnya biaya input non pangan akibat depresiasi rupiah.

Meski demikian, penurunan harga emas dinilai dapat menjadi faktor penahan sehingga tekanan inflasi inti tidak meningkat terlalu agresif. Secara keseluruhan, inflasi Mei masih diperkirakan berada dalam rentang target Bank Indonesia, meskipun kualitas tekanannya mulai bergeser dari faktor musiman menuju tekanan biaya produksi dan impor.

Risiko Inflasi Masih Condong ke Atas

Ke depan, Josua menilai risiko inflasi masih cenderung meningkat. Dari sisi domestik, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif berpotensi mendorong peningkatan uang beredar dan permintaan masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diperkirakan dapat meningkatkan permintaan pangan apabila tidak diimbangi kenaikan produksi dan perbaikan rantai pasok. Risiko cuaca seperti potensi El Niño juga menjadi perhatian karena dapat mengganggu produksi pertanian dan mendorong kenaikan harga pangan nasional.

Sementara dari sisi eksternal, tensi geopolitik di Timur Tengah dinilai masih berpotensi menjaga harga minyak dunia tetap tinggi. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah dan meningkatkan risiko imported inflation. Meski demikian, Josua menilai tekanan inflasi masih memiliki faktor penahan berupa output gap ekonomi yang masih negatif. Artinya, permintaan agregat domestik dinilai belum cukup kuat untuk menciptakan inflasi berbasis permintaan secara berlebihan.

Dengan asumsi harga BBM subsidi tetap dipertahankan pemerintah, inflasi umum hingga akhir 2026 diperkirakan berada di sekitar 2,72%. Namun, apabila tekanan rupiah, harga minyak, pangan, dan risiko cuaca memburuk secara bersamaan, inflasi berpotensi meningkat lebih tinggi dan membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan tambahan kenaikan suku bunga.

Meski demikian, skenario dasar Permata Bank masih memperkirakan BI Rate bertahan di level 5,25% setelah kenaikan agresif 50 basis poin sebelumnya dinilai sudah cukup antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

Surplus Neraca Dagang Diperkirakan Menyempit

Selain inflasi, Josua juga memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih akan berlanjut, namun mengalami penyempitan cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya. Permata Bank memperkirakan surplus neraca dagang April turun menjadi sekitar US$1,43 miliar, lebih rendah dibanding surplus Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.

Menurut Josua, arah neraca dagang saat ini bukan menuju defisit, melainkan surplus yang semakin tipis. Faktor utama penyempitan surplus berasal dari impor yang meningkat lebih cepat dibanding ekspor, terutama setelah normalisasi aktivitas ekonomi pasca libur Idul Fitri. Kenaikan harga energi global juga meningkatkan biaya impor minyak sehingga menambah tekanan terhadap neraca perdagangan.

Ekspor Mulai Membaik, Namun Permintaan Global Masih Lemah

Dari sisi ekspor, Permata Bank memperkirakan terjadi perbaikan secara tahunan. Ekspor April 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 9,10% YoY setelah pada Maret sebelumnya terkontraksi 3,10%. 

Namun secara bulanan, pertumbuhan ekspor diperkirakan relatif terbatas dengan kenaikan hanya sekitar 0,46%. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbaikan tahunan lebih banyak dipengaruhi basis pembanding yang rendah pada April 2025 akibat efek libur Idul Fitri, bukan karena lonjakan permintaan global yang sangat kuat.

Josua juga mengingatkan bahwa data perdagangan China menunjukkan impor dari Indonesia mulai menurun pada April 2026 setelah sempat meningkat tajam pada Maret. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan eksternal masih perlu dicermati secara hati-hati.

Kenaikan Impor Jadi Tekanan Baru bagi Rupiah

Sementara itu, impor April 2026 diperkirakan tumbuh 2,98% YoY dan melonjak sekitar 10,37% secara bulanan. Lonjakan tersebut mencerminkan normalisasi aktivitas ekonomi domestik, dorongan kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, serta kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Josua, kondisi ini menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih bergerak cukup baik, namun di sisi lain kebutuhan impor, terutama energi dan bahan baku, mulai mempersempit ruang surplus perdagangan Indonesia. 

Secara makro, surplus perdagangan masih menjadi bantalan penting bagi stabilitas rupiah. Namun, bantalan tersebut mulai menipis seiring impor yang tumbuh lebih cepat dibanding ekspor.

Permata Bank juga memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2026 berpotensi melebar menjadi sekitar 1,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dibanding defisit 0,11% PDB pada 2025. Risiko tersebut terutama muncul apabila kebijakan pro-pertumbuhan mendorong impor lebih tinggi sementara pemulihan permintaan global masih berjalan lambat.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga stabilitas pasokan pangan dan energi, memastikan impor produktif tidak berubah menjadi tekanan berlebihan terhadap transaksi berjalan, serta menjaga stabilitas rupiah agar kenaikan biaya impor tidak semakin diteruskan ke harga konsumen.

 

You Might Also Like

Demi Negosiasi Damai dengan Iran, Trump Minta Israel Stop Serang Lebanon

Harga Minyak Kembali Naik Usai Israel Serang Lebanon

Waspada, Hari Ini Ada Rilis Data Inflasi dan Neraca Dagang Indonesia!

Rusia Terbitkan Obligasi Yuan Usai Kunjungan Putin ke China

Inflasi Tokyo Turun, BoJ Bakal Tahan Suku Bunga?

TAGGED: inflasi hari ini, neraca dagang hari ini
Aurelia Tanu June 2, 2026 June 2, 2026
Previous Article Ini 3 Skenario Pergerakan IHSG di Juni 2026!
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?