[Medan | 1 Juni 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan sejumlah indikator ekonomi penting pada Rabu (1/7/2026), meliputi inflasi Juni 2026, neraca perdagangan Mei 2026, serta berbagai indikator sektoral seperti Nilai Tukar Petani (NTP), perkembangan pariwisata, transportasi, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), hingga produksi padi dan jagung.
Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada data inflasi dan neraca perdagangan yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan domestik, termasuk rupiah, obligasi, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Inflasi Diperkirakan Meningkat
Berdasarkan hasil BIG Consensus Insights, inflasi Juni 2026 diperkirakan mencapai 0,41% secara bulanan (mtm), dengan inflasi tahunan (year-on-year) meningkat menjadi sekitar 3,29%, lebih tinggi dibandingkan realisasi Mei yang sebesar 3,08%.
Kenaikan inflasi diperkirakan didorong oleh pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi, harga pangan bergejolak (volatile food), serta penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered prices). Meski meningkat, inflasi masih diproyeksikan berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%, sehingga belum diperkirakan mengubah arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Surplus Neraca Dagang Berpotensi Melebar
Selain inflasi, pasar juga menunggu data neraca perdagangan Mei 2026. Setelah surplus perdagangan anjlok menjadi hanya US$89 juta pada April, konsensus pasar memperkirakan surplus kembali meningkat seiring normalisasi aktivitas impor pasca-Lebaran.
Sejumlah ekonom memperkirakan surplus berada di kisaran US$700 juta hingga US$2 miliar, meski terdapat sebagian proyeksi yang memperkirakan Indonesia justru mengalami defisit akibat perlambatan ekspor yang lebih dalam dibandingkan impor.
Pelebaran surplus diperkirakan lebih disebabkan oleh normalisasi impor secara bulanan, sementara secara tren surplus perdagangan Indonesia masih diperkirakan terus menyempit sepanjang 2026 akibat pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor.
Analisis
Rilis kedua data tersebut berpotensi menjadi katalis utama bagi pasar keuangan hari ini. Inflasi yang masih berada dalam target Bank Indonesia akan memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini, sehingga cenderung netral bagi pasar obligasi.
Sementara itu, apabila surplus neraca perdagangan kembali meningkat di atas ekspektasi, sentimen terhadap rupiah berpotensi membaik karena menunjukkan masih kuatnya fundamental sektor eksternal Indonesia. Sebaliknya, apabila surplus kembali menyusut atau berubah menjadi defisit, tekanan terhadap rupiah dan IHSG berpotensi meningkat di tengah masih besarnya arus keluar dana asing dari pasar domestik.

