[Medan | 6 Oktober 2026] Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor panjang kembali meningkat pada perdagangan Senin (5/10/2026). Yield Treasury 10 tahun menembus level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, seiring investor mencermati perkembangan ekonomi AS dan menunggu risalah rapat Federal Reserve (The Fed).
Yield Treasury 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,307%. Dalam perdagangan intraday, imbal hasil tersebut bahkan sempat melonjak sekitar 7 basis poin ke 5,349%, level tertinggi sejak 3 April 2002. Sementara itu, yield Treasury 30 tahun meningkat sekitar 3 basis poin menjadi 5,661%, setelah sempat menyentuh 5,703%, level tertinggi sejak Mei 2002.
Yield AS Masih Berpotensi Naik
Pendiri sekaligus CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, mengatakan kenaikan yield Treasury terjadi di tengah aksi jual yang didorong momentum pasar. Menurutnya, secara historis yield Treasury 10 tahun biasanya berada sekitar 100 basis poin di atas tingkat suku bunga akhir The Fed. Dengan acuan tersebut, yield Treasury 10 tahun masih memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi.
“Biasanya obligasi tenor 10 tahun diperdagangkan sekitar 100 basis poin di atas tingkat suku bunga akhir The Fed. Berdasarkan itu, imbal hasil masih bisa naik lebih tinggi,” ujar Hatfield kepada CNBC.
Data ISM Kembali Soroti Tekanan Inflasi
Pergerakan pasar obligasi AS juga dipengaruhi data ekonomi terbaru. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks aktivitas sektor jasa AS meningkat menjadi 54,9 pada September, sesuai dengan ekspektasi pasar meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan Agustus.
Yang menjadi perhatian pasar adalah subindeks harga dalam survei ISM. Indikator tersebut naik 1,4 poin menjadi 74 dan mencatat rata-rata 12 bulan tertinggi sejak Maret 2023. Data tersebut menunjukkan tekanan harga di sektor jasa masih cukup kuat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat investor tetap memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Pasar Menunggu Risalah Rapat The Fed
Investor selanjutnya mengalihkan perhatian pada risalah rapat The Fed September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Dokumen tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap perkembangan inflasi, kondisi perekonomian, serta arah kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Tekanan di pasar obligasi sendiri telah berlangsung selama enam pekan terakhir. Namun, laporan ketenagakerjaan September yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat lalu sempat membantu menekan yield sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada pertemuan Oktober.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang sekitar 82% bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Meski demikian, level yield Treasury yang masih tinggi menunjukkan investor tetap memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS bertahan pada level tinggi untuk periode yang lebih panjang.
Yield AS 5,3% Jadi Tantangan bagi Lelang Sukuk RI
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pemerintah kembali menggelar lelang sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Selasa (6/10/2026). Pemerintah menetapkan target indikatif lelang sebesar Rp10 triliun dengan delapan seri yang ditawarkan, terdiri dari tiga SPN-S dan lima PBS. Seluruh seri merupakan sukuk reopening dengan jatuh tempo mulai November tahun ini hingga Desember 2049.
Pada lelang sukuk dua pekan sebelumnya, Selasa (22/9/2026), minat investor tercatat meningkat. Total penawaran yang masuk atau incoming bids mencapai Rp26,9 triliun, naik Rp756 miliar atau sekitar 2,89% dibandingkan lelang sebelumnya sebesar Rp26,14 triliun. Saat itu, kondisi pasar obligasi relatif lebih kondusif. Rupiah berada di sekitar Rp17.838/US$, sementara yield SUN tenor 10 tahun berada di level 7,11%.
Namun, lelang kali ini berlangsung ketika tekanan di pasar obligasi meningkat seiring lonjakan yield US Treasury hingga 5,3%. Kenaikan yield tersebut turut diikuti aksi jual obligasi oleh investor di berbagai negara.
Rupiah dan Yield SUN Ikut Tertekan
Tekanan di pasar global turut menjalar ke aset domestik. Rupiah kembali melemah dan diperkirakan menguji kembali area Rp18.000/US$ di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Pada saat yang sama, yield SUN tenor 10 tahun naik 2,2 basis poin menjadi 7,18%. Yield obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS juga meningkat hingga 6,29%, level tertinggi sejak Oktober 2009.
Yield INDON tenor 10 tahun tercatat naik hingga 6,26%. Kondisi tersebut membuat lelang sukuk kali ini tidak hanya menjadi ukuran kemampuan pemerintah menyerap dana dari pasar. Di tengah kenaikan yield obligasi global, lelang juga akan mencerminkan seberapa mahal biaya pendanaan yang harus dibayar pemerintah.
Risiko Indonesia Ikut Mengalami Kenaikan
Yield Treasury AS yang telah berada di level 5,3% membuat obligasi pemerintah AS semakin kompetitif bagi investor global. Ketika imbal hasil aset bebas risiko AS meningkat, investor cenderung meminta kompensasi lebih tinggi saat berinvestasi pada aset yang memiliki risiko pasar dan nilai tukar, seperti SUN maupun sukuk Indonesia.
Peningkatan persepsi risiko tersebut juga tercermin pada Credit Default Swap (CDS) INDON tenor lima tahun yang kembali naik menjadi 95,69. Pada lelang sukuk sebelumnya, CDS INDON 5 tahun masih berada di sekitar 88,2.
Kenaikan CDS menunjukkan premi yang diminta pasar untuk menanggung risiko kredit Indonesia ikut meningkat. Dengan demikian, tekanan terhadap pasar obligasi domestik tidak hanya berasal dari kenaikan benchmark yield global, tetapi juga dari meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia.
Incoming Bids Berpotensi Turun
Pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati di tengah ekspektasi terhadap sikap hawkish The Fed. Selain itu, investor masih menunggu risalah rapat FOMC yang akan dirilis Rabu untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS berikutnya. Dengan kondisi tersebut, penawaran yang masuk dalam lelang sukuk kali ini berpotensi lebih rendah, sementara yield yang diminta investor diperkirakan lebih tinggi. Untuk seri PBS bertenor panjang, yield berpotensi berada di kisaran 7,1%-7,2%.
Namun, potensi penurunan minat dalam lelang tersebut tidak serta-merta menunjukkan investor meninggalkan pasar obligasi domestik. Berdasarkan data Bloomberg, pasar obligasi Indonesia masih mencatat arus modal masuk per 2 Oktober sebesar US$225,6 juta secara harian dan US$255,1 juta secara mingguan.

