[Medan | 5 Agustus 2026] Harga minyak dunia kembali melemah ke level terendah dalam lebih dari tiga pekan setelah meningkatnya optimisme bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Harga minyak Brent turun 5,3% dan ditutup di level US$79,36 per barel, terendah sejak 10 Juli. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 5,7% ke US$75,77 per barel.
Optimisme Kesepakatan AS-Iran Tekan Harga Minyak
Sentimen utama yang mendorong penurunan harga minyak datang dari meningkatnya harapan bahwa Washington dan Teheran segera mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memutuskan menunda rencana serangan terhadap Iran guna memberi ruang bagi proses diplomasi. Di saat yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz dapat terjadi “hari ini atau besok”.
Qatar juga mengungkapkan bahwa rancangan resolusi de-eskalasi saat ini tengah diedarkan kepada seluruh pihak yang terlibat, meski belum ada kesepakatan final. Jika kesepakatan tercapai, lalu lintas kapal komersial melalui Selat Hormuz diperkirakan akan kembali normal sehingga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global mulai mereda.
Selat Hormuz Masih Beroperasi di Bawah Normal
Selama konflik berlangsung, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan akibat serangan terhadap kapal-kapal komersial serta meningkatnya risiko keamanan. CEO American Petroleum Institute (API), Mike Sommers, mengatakan hanya sekitar 7 juta barel minyak per hari yang saat ini melewati Selat Hormuz, jauh di bawah volume sebelum konflik pecah.
Iran juga dikabarkan mulai mempertimbangkan untuk mengizinkan negara-negara Eropa membantu proses pembersihan ranjau laut di kawasan tersebut. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan kepercayaan industri pelayaran dan perusahaan asuransi bahwa jalur tersebut kembali aman dilalui. Meski demikian, pasar masih menyadari bahwa kesepakatan jangka pendek belum tentu mengakhiri konflik secara permanen maupun menyelesaikan isu program nuklir Iran.
Trader Mulai Kurangi Posisi Beli
Penurunan harga minyak juga diperparah oleh aksi jual dari investor berbasis algoritma. Data Bridgeton Research Group menunjukkan porsi posisi beli (long position) untuk kontrak Brent turun drastis menjadi 36%, dari sebelumnya 73% pada awal perdagangan Selasa.
Rebecca Babin dari CIBC Private Wealth Group mengatakan pelaku pasar kini lebih memilih menjual ketika harga naik dibanding kembali membeli saat harga turun. Menurutnya, pasar masih terus menyesuaikan harga berdasarkan perubahan risiko geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait peluang normalisasi arus pengiriman minyak.
Risiko Pasokan Belum Sepenuhnya Hilang
Di tengah optimisme tersebut, sejumlah risiko terhadap pasokan energi global masih membayangi. Arab Saudi melalui Saudi Aramco tengah mempertimbangkan peningkatan kapasitas pipa minyak timur-barat menuju Pelabuhan Yanbu sebagai jalur alternatif selain Selat Hormuz.
Sementara itu, konflik Rusia-Ukraina juga masih berpotensi mengganggu pasokan global. Selama Juli, berbagai fasilitas energi Rusia, termasuk kilang minyak, terminal ekspor, kapal tanker, hingga jaringan pipa, menjadi sasaran lebih dari 30 serangan, menjadikannya salah satu periode dengan intensitas serangan tertinggi sejak invasi Rusia pada 2022. Greg Sharenow dari Pacific Investment Management Co. (PIMCO) bahkan menilai pasar minyak global masih mengalami kondisi defisit pasokan meskipun harga sedang mengalami koreksi.
Dampak ke Pasar
Turunnya harga minyak memberikan sentimen positif bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia karena berpotensi menekan tekanan inflasi, mengurangi beban impor migas, serta membantu menjaga stabilitas fiskal apabila tren pelemahan harga berlanjut.
Namun, arah harga minyak selanjutnya masih akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Apabila kesepakatan benar-benar tercapai dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan masih dapat berlanjut. Sebaliknya, kegagalan diplomasi atau kembali memanasnya konflik berpotensi memicu lonjakan harga energi dalam waktu singkat.

