[Medan | 5 Agustus 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 pada Rabu (5/8/2026). Data ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar karena memberikan gambaran mengenai kondisi terkini perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.
Konsensus Bloomberg memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026, melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal sebelumnya. Sementara secara kuartalan (quarter-to-quarter/qoq), ekonomi diperkirakan kembali tumbuh 3,51% setelah mengalami kontraksi 0,77% pada kuartal I-2026.
Pertumbuhan Diperkirakan Melambat
Proyeksi Bloomberg Economics bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,42% yoy. Meski lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar, angka tersebut tetap menunjukkan perlambatan dibandingkan kuartal pertama tahun ini.
Apabila proyeksi tersebut terealisasi, kondisi ini mengindikasikan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih relatif kuat karena mampu mempertahankan pertumbuhan di atas level psikologis 5%. Namun di sisi lain, laju pertumbuhan mulai kehilangan momentum sehingga ruang untuk akselerasi ekonomi dinilai semakin terbatas.
Pertumbuhan yang tinggi pada kuartal pertama sebelumnya didorong oleh meningkatnya belanja pemerintah di awal tahun serta faktor musiman seperti Ramadan dan Idulfitri. Memasuki kuartal kedua, dorongan tersebut mulai mereda sehingga pertumbuhan ekonomi kembali mencerminkan kondisi fundamental yang lebih normal.
Konsumsi Rumah Tangga Mulai Kehilangan Tenaga
Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB Indonesia diperkirakan masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Namun, sejumlah indikator menunjukkan daya beli masyarakat mulai melemah. Salah satunya tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia yang turun menjadi 117,8 pada Juni, lebih rendah dibandingkan 120,9 pada Mei, sekaligus menjadi level terendah dalam sembilan bulan terakhir.
Menurut Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson, perlambatan ekonomi pada kuartal II juga dipengaruhi melemahnya investasi serta melandainya belanja pemerintah. Belanja pemerintah diperkirakan tidak lagi tumbuh setinggi kuartal pertama yang sempat melonjak 21,8% secara tahunan. Di sisi lain, sejumlah indikator aktivitas ekonomi menunjukkan investasi mulai melambat. Henderson juga menilai kepercayaan pelaku usaha masih tertekan akibat sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk pengaturan ekspor beberapa komoditas strategis.
Ekonomi Diproyeksikan Tetap Bertahan di Kisaran 5%
Meski pertumbuhan diperkirakan melambat pada kuartal II, survei Bloomberg Economics edisi Juli 2026 masih memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5% hingga 2028. Rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diproyeksikan sebesar 5,1%, meskipun laju pertumbuhan diperkirakan melambat pada akhir tahun. Bloomberg memperkirakan pertumbuhan kuartal IV-2026 sebesar 4,58%, sebelum turun ke sekitar 4,5% pada kuartal I-2027.
Perlambatan tersebut diperkirakan terjadi seiring inflasi yang masih relatif tinggi. Survei Bloomberg kini memperkirakan rata-rata inflasi Indonesia sepanjang 2026 mencapai 3,4%, mencerminkan masih adanya tekanan harga akibat kenaikan harga energi serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Pemerintah Tetap Optimistis
Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 masih berada pada kisaran 5,6%–6%.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap ditopang oleh konsumsi masyarakat yang kuat serta peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Purbaya menyebut hingga akhir kuartal II-2026, realisasi belanja negara mencapai Rp1.655 triliun, meningkat 17,8% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, belanja pemerintah tercatat sebesar Rp1.298,6 triliun, atau tumbuh 29,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

