[Medan | 3 Agustus 2026] Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (3/8/2026) diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan. Namun, arah pasar hari ini akan sangat ditentukan oleh rilis dua data ekonomi domestik, yakni inflasi Juli 2026 dan neraca perdagangan Indonesia.
Pelaku pasar akan mencermati apakah tekanan inflasi mulai mereda dan apakah surplus perdagangan Indonesia masih mampu menopang stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar juga mulai membaik setelah harga minyak dunia terkoreksi tajam menyusul meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak Brent yang sempat melonjak hampir 25% sepanjang Juli kini turun ke kisaran US$81,55 per barel setelah Presiden Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran dan membuka kembali peluang perundingan dengan Teheran.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mewaspadai perkembangan geopolitik karena sewaktu-waktu dapat kembali memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Selain itu, investor juga menantikan laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat serta musim laporan keuangan perusahaan teknologi, termasuk SpaceX dan AMD, yang diperkirakan akan memengaruhi sentimen terhadap saham-saham teknologi global.
Inflasi Diperkirakan Melandai
Di dalam negeri, perhatian utama tertuju pada rilis inflasi Juli 2026 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi, inflasi diperkirakan sebesar 0,11% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi Juni yang mencapai 0,44%.
Secara tahunan, inflasi diproyeksikan turun menjadi 3,20%, dari sebelumnya 3,34%, sementara inflasi inti diperkirakan berada di 2,77%. Perlambatan inflasi terutama didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai merah dan bawang merah, seiring memasuki musim panen. Di sisi lain, penurunan harga BBM nonsubsidi sejak awal Juli juga diperkirakan membantu meredakan tekanan harga pada kelompok transportasi.
Meski demikian, sejumlah komoditas seperti beras, daging ayam, dan bawang putih masih mengalami kenaikan harga. Pelemahan nilai tukar rupiah juga mulai meningkatkan biaya barang impor sehingga inflasi inti diperkirakan tetap bertahan.
Neraca Dagang Jadi Penentu Arah Rupiah
Selain inflasi, pasar juga menunggu data neraca perdagangan Indonesia. Surplus perdagangan yang tetap kuat akan menjadi sinyal positif karena menunjukkan ekspor masih mampu menopang masuknya devisa ke dalam negeri. Kondisi tersebut dapat memperkuat rupiah sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik.
Sebaliknya, apabila surplus menyusut lebih besar dari perkiraan atau bahkan berubah menjadi defisit, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi meningkat sehingga dapat memengaruhi arus modal asing di pasar saham maupun obligasi.
IHSG Berpeluang Lanjut Menguat
Phintraco Sekuritas menilai IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan setelah berhasil mencatat kenaikan sepanjang Juli, mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung selama enam bulan berturut-turut. “IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.300–6.380 pada pekan ini,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Sementara itu, analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai struktur teknikal IHSG masih menunjukkan tren bullish setelah indeks mampu bertahan di atas moving average 20 hari (MA-20). Menurutnya, IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area 6.352–6.545, meskipun investor tetap perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek apabila indeks kembali bergerak ke area 6.108–6.187.
Dampaknya ke Pasar
Apabila inflasi dan neraca perdagangan dirilis lebih baik dari ekspektasi, sentimen terhadap pasar keuangan domestik diperkirakan akan semakin positif. Inflasi yang melandai memberi ruang lebih besar bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneternya, sementara surplus perdagangan yang kuat dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.
Kombinasi kedua data tersebut berpotensi mendorong penguatan IHSG, menopang pasar obligasi melalui penurunan imbal hasil (yield), serta meningkatkan minat investor asing terhadap aset Indonesia.
Sebaliknya, apabila inflasi lebih tinggi dari perkiraan atau surplus perdagangan mengecil secara signifikan, pelaku pasar kemungkinan akan lebih berhati-hati. Kondisi tersebut dapat memicu aksi ambil untung di pasar saham, mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah, serta memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

