[Medan | 3 Agustus 2026] Harga minyak dunia jatuh tajam pada awal perdagangan pekan ini setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran dan membuka kembali jalur diplomasi dengan Teheran. Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent untuk kontrak Oktober sempat merosot hingga 7,3% ke level US$81,55 per barel, setelah sebelumnya melonjak hampir 25% sepanjang Juli, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$80 per barel.
Trump mengatakan pembicaraan baru dengan Iran akan dimulai pada Senin setelah dirinya memutuskan membatalkan rencana serangan besar-besaran terhadap Republik Islam tersebut. Menurut Trump, keputusan itu diambil setelah sejumlah sekutu utama AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, mendesak Washington untuk memberi kesempatan bagi penyelesaian diplomatik.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menegaskan dirinya bersedia menunda operasi militer dengan syarat tercapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz secepat mungkin. “Saya setuju membatalkan serangan tersebut dengan syarat kita dapat segera mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz,” tulis Trump.
Harapan Pasokan Energi Kembali Normal
Optimisme terhadap dimulainya kembali negosiasi mendorong investor mengurangi premi risiko geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir mengangkat harga minyak. Sepanjang Juli, harga Brent sempat bergerak dalam rentang lebih dari US$30 per barel seiring eskalasi konflik antara AS dan Iran yang meluas hingga Laut Merah dan Yordania setelah gencatan senjata sebelumnya runtuh.
Meski peluang diplomasi kembali terbuka, pasar masih berhati-hati karena situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya stabil. Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia, masih menghadapi risiko gangguan. Pada akhir pekan lalu, sebuah kapal tanker LNG yang mengangkut muatan dari Qatar dilaporkan terkena proyektil saat melintasi kawasan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pembicaraan dengan Oman telah memasuki tahap akhir. Kedua negara disebut sedang membahas jalur pelayaran baru di Selat Hormuz, meskipun belum ada kepastian mengenai mekanisme operasional maupun status pembukaan jalur tersebut.
OPEC+ Tambah Pasokan
Sentimen negatif terhadap harga minyak juga datang dari keputusan negara-negara utama OPEC+ yang kembali menyetujui kenaikan kuota produksi. Langkah tersebut secara efektif menyelesaikan pemulihan produksi yang sebelumnya dipangkas sejak 2023 dan membuka peluang peningkatan pasokan lebih lanjut apabila konflik di Timur Tengah benar-benar mereda. Bertambahnya pasokan di tengah potensi normalisasi distribusi energi membuat pasar memperkirakan tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut dalam jangka pendek.
Dampaknya ke Pasar
Penurunan harga minyak menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan global karena mengurangi tekanan inflasi yang selama ini dipicu lonjakan biaya energi. Bagi pasar saham, harga minyak yang lebih rendah cenderung menguntungkan sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi seperti transportasi, manufaktur, consumer goods, dan maskapai penerbangan. Sebaliknya, saham-saham sektor energi berpotensi mengalami tekanan akibat prospek pendapatan yang melemah jika harga minyak bertahan rendah.
Di pasar obligasi, turunnya harga minyak dapat menurunkan ekspektasi inflasi sehingga memperbesar peluang bank sentral mempertahankan suku bunga. Kondisi tersebut umumnya mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi dan menjadi sentimen positif bagi pasar fixed income.
Bagi Indonesia, koreksi harga minyak juga berpotensi mengurangi tekanan terhadap inflasi domestik, memperbaiki neraca perdagangan migas, serta mengurangi risiko pelebaran subsidi energi apabila tren penurunan harga berlanjut. Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah maupun IHSG, meskipun perkembangan negosiasi AS-Iran tetap menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa pekan ke depan.

