IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

AS Ancam Sanksi Ekonomi Untuk Iran, Harga Minyak Naik Lagi

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ aa.com.tr
SHARE

[Medan | 21 Agustus 2026] Harga minyak mentah kembali menguat dan berada di jalur kenaikan mingguan yang signifikan setelah Amerika Serikat (AS) memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Ancaman sanksi baru tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama di tengah ketegangan yang masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 diperdagangkan di kisaran US$86 per barel dan berada di jalur kenaikan sekitar 6% sepanjang pekan ini. Sementara itu, harga minyak Brent sebagai acuan global ditutup di level US$93,78 per barel, setelah sebelumnya menguat selama lima sesi perdagangan berturut-turut. Pergerakan tersebut membuat Brent kembali berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump akan memberikan rincian mengenai paket sanksi baru terhadap Iran pada Senin mendatang. Sebelumnya, Trump menyebut langkah tersebut sebagai “economic D-Day”, dengan ancaman konsekuensi ekonomi terhadap negara maupun entitas yang membantu Iran.

Tekanan tersebut berpotensi meluas ke negara-negara yang masih memiliki hubungan perdagangan dengan Teheran, termasuk China yang merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran. AS sebelumnya juga menyatakan akan menerapkan sanksi paling keras terhadap Iran untuk menekan Teheran mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan.

Selat Hormuz Jadi Kunci Pergerakan Minyak

Pasar kini tidak hanya mencermati sanksi terhadap Iran, tetapi juga dampaknya terhadap aliran minyak melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat langsung meningkatkan risk premium pada harga minyak.

Bessent mengatakan AS menguasai jalur perairan tersebut dan kapal masih dapat keluar melalui jalur selatan. Pernyataan ini sedikit mengurangi kekhawatiran mengenai penghentian total arus minyak, tetapi belum menghilangkan risiko gangguan pasokan. Artinya, pasar saat ini menghadapi dua skenario. Jika tekanan ekonomi berhasil mendorong Iran kembali ke meja perundingan dan lalu lintas minyak tetap berjalan normal, sebagian geopolitical premium pada harga minyak dapat kembali hilang.

Namun, apabila sanksi justru memicu respons Iran atau memperburuk ketegangan di Selat Hormuz, harga minyak berpotensi kembali bergerak lebih tinggi.

Dampak ke Indonesia: Rupiah dan Inflasi Jadi Perhatian

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak merupakan sentimen yang perlu diperhatikan karena Indonesia masih merupakan net importer minyak. Harga minyak yang lebih tinggi berarti biaya impor energi meningkat dan berpotensi memperlebar kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap rupiah, terutama jika kenaikan minyak berlangsung bersamaan dengan penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen risk-off global.

Dampak berikutnya adalah inflasi. Kenaikan harga minyak dunia tidak selalu langsung diteruskan ke harga BBM domestik karena pemerintah masih memiliki ruang untuk mengatur harga dan subsidi. Namun, apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan dapat muncul melalui biaya transportasi, logistik, energi, dan berbagai komponen produksi.

Hal ini menjadi semakin penting karena Bank Indonesia baru saja mempertahankan BI Rate di 5,75%. Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga minyak yang persisten dapat mempersempit ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter apabila tekanan terhadap rupiah dan inflasi kembali meningkat.

 

You Might Also Like

Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 juta Per Unit

Menko Airlangga Targetkan 360 Ton Emas WNI Masuk Bank Emas

Yield Obligasi AS Kembali Naik, Buyback Gagal Tahan Kenaikan Yield

Harga Emas Naik 4% Tembus US$4.500, Ada Apa?

Defisit Melebar, Utang Pemerintah AS Tembus US$ 40 Triliun

TAGGED: trump iran ekonomi
Aurelia August 21, 2026 August 21, 2026
Previous Article Harga Emas Naik 4% Tembus US$4.500, Ada Apa?
Next Article Yield Obligasi AS Kembali Naik, Buyback Gagal Tahan Kenaikan Yield
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?