IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Yield Obligasi AS Kembali Naik, Buyback Gagal Tahan Kenaikan Yield

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ theedgemalaysia.com
SHARE

[Medan | 21 Agustus 2026] Langkah mengejutkan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) untuk memperbesar pembelian kembali atau buyback surat utang ternyata belum mampu menghentikan kenaikan imbal hasil US Treasury. Setelah sempat memberikan sentimen positif pada Rabu (19/8), yield kembali bergerak naik pada Kamis (20/8).

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan di pasar obligasi AS tidak hanya berasal dari persoalan likuiditas. Investor juga masih mengkhawatirkan inflasi, defisit fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta besarnya pasokan utang yang harus diserap pasar.

Departemen Keuangan AS pada Rabu menggandakan ukuran operasi buyback untuk surat utang tenor panjang menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi, dari sebelumnya US$2 miliar. Kebijakan tersebut berlaku untuk Treasury bertenor 10 hingga 30 tahun mulai September hingga awal November 2026.

Langkah tersebut diambil setelah yield Treasury tenor panjang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun. Yield Treasury 30 tahun bahkan sempat menyentuh 5,34% pada Selasa (18/8), level tertinggi sejak 2007. Pengumuman buyback awalnya mendapat respons positif. Investor melihat kebijakan tersebut sebagai tambahan dukungan likuiditas dari pemerintah sehingga yield Treasury langsung turun.

Namun, efek tersebut ternyata tidak bertahan lama. Pada Kamis, yield Treasury 10 tahun kembali naik 4,7 basis poin menjadi 4,70%, sedangkan yield Treasury 30 tahun meningkat 5,5 basis poin menjadi 5,249%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar mulai melihat persoalan Treasury secara lebih fundamental. Dukungan likuiditas memang dapat membantu meredakan tekanan sementara, tetapi tidak menghilangkan persoalan defisit dan kebutuhan pembiayaan pemerintah AS.

Buyback Bukan Berarti Utang AS Berkurang

Secara mekanisme, buyback dapat membantu memperbaiki likuiditas dan mengurangi tekanan pada segmen obligasi tertentu. Ketika pemerintah membeli kembali surat utang yang sudah beredar, permintaan terhadap obligasi meningkat. Harga obligasi kemudian berpotensi naik sehingga yield turun. Namun, terdapat satu hal penting yang perlu diperhatikan. Buyback tidak mengurangi kebutuhan pembiayaan pemerintah secara keseluruhan.

Pemerintah AS tetap harus menerbitkan surat utang baru untuk membiayai defisit anggaran maupun membayar utang yang jatuh tempo. Dengan kata lain, buyback lebih berfungsi sebagai alat manajemen likuiditas, bukan solusi terhadap persoalan fiskal AS. Hal tersebut menjelaskan mengapa yield kembali naik setelah efek awal pengumuman mereda.

Utang AS Tembus US$40 Triliun

Tekanan terhadap Treasury semakin besar setelah total utang pemerintah AS menembus US$40 triliun untuk pertama kalinya pada pekan ini. Besarnya utang membuat investor semakin memperhatikan kemampuan pemerintah AS menjaga keseimbangan antara penerimaan, belanja, defisit, dan kebutuhan penerbitan utang.

Semakin besar kebutuhan pembiayaan pemerintah, semakin besar pula pasokan Treasury yang harus diserap investor. Jika permintaan tidak tumbuh sebanding dengan pasokan, pemerintah harus menawarkan yield yang lebih tinggi untuk menarik pembeli. Inilah salah satu alasan mengapa kenaikan yield jangka panjang tidak mudah dihentikan hanya dengan intervensi buyback.

Bukan Hanya Pemerintah, Korporasi Juga Berebut Dana Investor

Tekanan terhadap pasar Treasury juga datang dari meningkatnya penerbitan obligasi korporasi. Perusahaan-perusahaan AS, terutama yang membutuhkan dana besar untuk membiayai investasi di sektor kecerdasan buatan atau AI, semakin aktif masuk ke pasar obligasi. Kondisi tersebut menciptakan persaingan dalam memperoleh dana investor.

Ketika perusahaan menawarkan yield yang menarik, Treasury juga harus memberikan kompensasi yang cukup agar tetap menarik bagi investor. Akibatnya, kenaikan credit spread dan kebutuhan pembiayaan korporasi dapat ikut memberikan tekanan terhadap yield Treasury.

Inflasi dan The Fed Masih Menjadi Risiko

Kenaikan yield juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan inflasi. Harga energi yang terus meningkat akibat konflik AS-Iran berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap inflasi AS. Jika harga minyak bertahan tinggi, pasar akan semakin berhati-hati terhadap kemungkinan inflasi kembali meningkat.

Risiko tersebut menjadi semakin penting setelah risalah FOMC Juli menunjukkan bahwa sejumlah pejabat The Fed masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak kembali menuju target 2%. Artinya, kenaikan yield jangka panjang AS saat ini tidak hanya mencerminkan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed.

Investor juga meminta term premium yang lebih tinggi untuk mengompensasi risiko inflasi, defisit fiskal, serta ketidakpastian mengenai jumlah utang yang harus diterbitkan pemerintah. Dengan demikian, meskipun The Fed nantinya tidak menaikkan suku bunga, yield Treasury 10 tahun dan 30 tahun tetap dapat berada di level tinggi apabila risiko fiskal dan inflasi masih menjadi perhatian.

Mengapa Buyback Tidak Cukup?

Masalah utama yang dihadapi Treasury saat ini adalah skala. Nilai operasi buyback yang ditingkatkan menjadi US$4 miliar memang cukup besar untuk memberikan dukungan terhadap likuiditas dalam transaksi tertentu. Namun, jumlah tersebut tetap sangat kecil dibandingkan ukuran pasar Treasury yang mencapai sekitar US$32,2 triliun.

Artinya, pemerintah memiliki kemampuan untuk meredam tekanan jangka pendek, tetapi sulit mengubah tren yield secara permanen jika faktor fundamentalnya masih sama. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan membuka kemungkinan peningkatan volume buyback lebih lanjut untuk menjaga likuiditas pasar, terutama ketika penerbitan obligasi korporasi sedang tinggi.

Namun, semakin aktif Treasury melakukan intervensi untuk menekan yield, semakin besar pula perhatian pasar terhadap batas antara pengelolaan pasar oleh Treasury dan kebijakan moneter The Fed. Jika Treasury berusaha menekan yield jangka panjang sementara The Fed masih fokus menjaga inflasi, pasar dapat menghadapi sinyal kebijakan yang kurang selaras.

Dolar Sempat Melemah, Kemudian Pulih

Pergerakan Treasury juga berdampak terhadap dolar AS. Dolar sempat melemah tajam setelah pengumuman buyback, karena sebagian investor melihat kebijakan tersebut sebagai sinyal bahwa pemerintah AS semakin khawatir terhadap tekanan di pasar obligasi dan kondisi fiskalnya.

Namun, pada Kamis dolar mulai pulih. Indeks DXY naik tipis ke sekitar 98,88, setelah sehari sebelumnya turun hampir 1%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar valuta asing juga masih mencari keseimbangan antara risiko fiskal AS, arah kebijakan The Fed, dan status dolar sebagai aset safe haven.

Dampak ke Market Global

Pergerakan yield Treasury menjadi perhatian global karena US Treasury merupakan salah satu acuan utama biaya pendanaan dunia. Ketika yield Treasury naik, biaya pendanaan global ikut meningkat. Perusahaan harus membayar bunga lebih tinggi ketika menerbitkan utang baru, sementara pemerintah negara berkembang dapat menghadapi tekanan untuk menawarkan yield yang lebih kompetitif agar tetap menarik bagi investor asing.

Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko seperti saham, terutama saham dengan valuasi tinggi yang sangat sensitif terhadap perubahan discount rate. Sebaliknya, jika yield Treasury kembali turun secara berkelanjutan, kondisi finansial global dapat menjadi lebih longgar dan memberikan ruang bagi saham serta obligasi emerging market untuk menguat.

Dampak ke SBN Indonesia

Bagi pasar obligasi Indonesia, perkembangan Treasury menjadi salah satu faktor penting yang perlu dipantau. Jika yield UST 10 tahun kembali naik menuju level yang lebih tinggi, tekanan dapat muncul pada SBN karena investor global akan membandingkan imbal hasil aset Indonesia dengan aset safe haven AS.

Namun, jika kenaikan yield AS disebabkan terutama oleh faktor fiskal AS sementara rupiah tetap stabil dan BI mampu menjaga stabilitas pasar, tekanan terhadap SBN dapat lebih terbatas. Sebaliknya, kombinasi yield UST naik + dolar menguat + rupiah melemah akan menjadi skenario yang lebih negatif bagi SBN. Kondisi tersebut dapat membuat investor asing meminta yield premium yang lebih tinggi untuk memegang obligasi Indonesia.

Prospek Yield ke Depan

Dalam jangka pendek, yield Treasury masih berpotensi bergerak volatil. Buyback kemungkinan tetap memberikan support terhadap likuiditas, terutama pada tenor panjang. Namun, selama defisit AS tetap besar, kebutuhan penerbitan utang tinggi, inflasi belum sepenuhnya terkendali, dan pasar masih meragukan arah kebijakan The Fed, ruang penurunan yield secara berkelanjutan akan terbatas.

Karena itu, level 5% pada Treasury 30 tahun menjadi perhatian penting pasar. Jika yield tetap bertahan di atas level tersebut, tekanan terhadap aset berisiko global masih dapat berlangsung. Sebaliknya, apabila data inflasi dan tenaga kerja AS terus melemah sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga menghilang, yield Treasury dapat kembali turun meskipun persoalan fiskal belum terselesaikan.

 

You Might Also Like

Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 juta Per Unit

Menko Airlangga Targetkan 360 Ton Emas WNI Masuk Bank Emas

AS Ancam Sanksi Ekonomi Untuk Iran, Harga Minyak Naik Lagi

Harga Emas Naik 4% Tembus US$4.500, Ada Apa?

Defisit Melebar, Utang Pemerintah AS Tembus US$ 40 Triliun

TAGGED: Buyback, yield obligasi AS
Aurelia August 21, 2026 August 21, 2026
Previous Article AS Ancam Sanksi Ekonomi Untuk Iran, Harga Minyak Naik Lagi
Next Article Menko Airlangga Targetkan 360 Ton Emas WNI Masuk Bank Emas
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?