[Medan | 20 Agustus 2026] Keputusan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) untuk menggandakan ukuran pembelian kembali atau buyback Treasury menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan global. Kebijakan tersebut terutama ditujukan untuk meredam kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor panjang yang sebelumnya melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Departemen Keuangan AS akan meningkatkan buyback Treasury tenor 10 hingga 30 tahun dari sebelumnya US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Program tersebut akan berlangsung mulai 9 September hingga 4 November 2026. Kebijakan ini langsung memberikan respons positif di pasar obligasi. Yield Treasury 30 tahun yang sebelumnya sempat mencapai 5,34% turun menjadi sekitar 5,18%, sementara yield Treasury 10 tahun turun sekitar 6 basis poin ke level 4,66%.
Buyback Treasury Dorong Yield Turun
Secara sederhana, buyback berarti pemerintah AS masuk ke pasar dan membeli kembali obligasinya sendiri. Ketika pemerintah menjadi pembeli tambahan, permintaan terhadap Treasury meningkat. Jika permintaan meningkat, harga obligasi naik dan yield turun. Kondisi tersebut menjadi penting karena Treasury merupakan benchmark utama bagi pasar obligasi global. Dengan demikian, penurunan yield Treasury dapat mengurangi tekanan terhadap yield obligasi negara lain, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
Namun, kebijakan tersebut bukan berarti pemerintah AS mengurangi total kebutuhan pembiayaannya. “Jika Anda membeli kembali obligasi tenor panjang, Anda tetap perlu menerbitkan surat utang,” ujar Dan Gottlander dari Citi. Artinya, Treasury buyback lebih tepat dipandang sebagai upaya mengatur struktur dan likuiditas pasar obligasi, bukan menyelesaikan persoalan utang dan defisit AS.
Positif untuk Bonds Indonesia
Bagi pasar obligasi Indonesia, penurunan yield Treasury menjadi sentimen yang cukup positif. Selama yield UST turun dan rupiah tetap stabil, tekanan eksternal terhadap yield SBN dapat berkurang. Investor global juga memiliki ruang lebih besar untuk kembali mencari yield di emerging markets.
Secara sederhana:
UST yield turun → tekanan global terhadap yield SUN berkurang → harga SUN berpotensi naik.
Dampaknya terutama terasa pada SUN tenor menengah hingga panjang, karena obligasi dengan durasi lebih panjang lebih sensitif terhadap perubahan yield global. Namun, investor tetap perlu memperhatikan kebutuhan pembiayaan pemerintah AS. Buyback tambahan sebesar US$2 miliar relatif kecil dibandingkan ukuran pasar Treasury yang mencapai sekitar US$32,2 triliun. Jika defisit dan penerbitan Treasury tetap besar, tekanan terhadap yield dapat kembali muncul.
Saham Berpotensi Mendapat Angin Segar
Penurunan yield Treasury juga berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Yield obligasi pemerintah merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan tingkat imbal hasil yang diminta investor. Ketika yield turun, biaya modal dan discount rate dapat ikut turun sehingga valuasi saham menjadi lebih menarik.
Saham teknologi dan growth menjadi salah satu kelompok yang biasanya paling sensitif terhadap pergerakan yield karena valuasinya banyak bergantung pada ekspektasi arus kas di masa depan. Di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dampaknya juga dapat terasa melalui arus modal.
Jika yield Treasury turun dan tekanan terhadap dolar AS berkurang, aset emerging market dapat menjadi lebih menarik bagi investor global. Dengan demikian:
UST yield ↓ → daya tarik aset berisiko ↑ → potensi capital inflow ke emerging market ↑ → saham Indonesia berpotensi mendapat katalis positif. Namun, efek tersebut tetap bergantung pada kondisi rupiah, foreign flow, serta sentimen domestik.
Emas Ikut Mendapat Dukungan
Harga emas juga berpotensi memperoleh sentimen positif dari penurunan yield Treasury. Emas tidak memberikan bunga atau kupon. Karena itu, ketika yield aset safe haven seperti Treasury tinggi, investor memiliki opportunity cost yang lebih besar ketika memegang emas. Sebaliknya, ketika yield Treasury turun, opportunity cost memegang emas menjadi lebih rendah.
Selain itu, apabila kebijakan buyback meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS dan besarnya utang pemerintah, emas dapat kembali dilirik sebagai aset lindung nilai. Kombinasi yield Treasury yang lebih rendah, potensi pelemahan dolar AS, dan kekhawatiran fiskal AS dapat menjadi katalis positif bagi emas.
Tetapi Buyback Tidak Menyelesaikan Masalah Fiskal AS
Meskipun memberikan ruang bernapas bagi pasar obligasi, buyback Treasury tidak menyelesaikan persoalan fundamental AS. Total utang pemerintah AS telah menembus US$40 triliun, sementara pemerintah masih menghadapi kebutuhan pembiayaan defisit dan utang jatuh tempo yang besar.
Artinya, Treasury memang membeli kembali obligasi tenor panjang, tetapi pemerintah tetap harus menerbitkan surat utang baru untuk membiayai kebutuhan fiskalnya. Karena itu, dalam jangka panjang investor masih akan memperhatikan defisit AS, inflasi, jumlah penerbitan Treasury, kebijakan The Fed, serta permintaan investor terhadap surat utang AS.

