[Medan | 20 Agustus 2026] Harga minyak mentah kembali melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (20/8/2026) pagi, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah Presiden Donald Trump mengumumkan langkah-langkah baru untuk menekan perekonomian Iran.
Pada pukul 07.26 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September 2026 tercatat sebesar US$85,88 per barel, naik tipis 0,06% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$85,83 per barel. Penguatan tersebut memperpanjang reli WTI menjadi empat hari perdagangan berturut-turut.
Mengutip Bloomberg, Trump menyatakan melalui unggahan di media sosial bahwa AS akan menerapkan langkah ekonomi dan isolasi terhadap Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Trump juga meminta negara-negara sekutu AS untuk ikut mendukung langkah tersebut. Negara yang memberikan bantuan kepada Iran melalui lembaga keuangan, perusahaan, bandara, maupun entitas pemerintah disebut akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang besar.
Selain itu, Trump menargetkan berbagai aktivitas yang dinilai membantu perekonomian Iran, termasuk penyelundupan, transfer uang tunai, transaksi valuta asing, hingga aktivitas pendaftaran kapal.
Ketegangan Selat Hormuz Jadi Perhatian
Penguatan harga minyak tidak terlepas dari meningkatnya risiko geopolitik setelah konflik antara Washington dan Teheran terus berlanjut. Kedua negara juga masih terlibat dalam konfrontasi terkait Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Selama konflik berlangsung, harga minyak mentah telah mengalami kenaikan signifikan sepanjang tahun.
Langkah terbaru Trump untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran berpotensi kembali meningkatkan ketidakpastian di pasar energi, terutama apabila kebijakan tersebut memicu respons dari Iran maupun negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan dengan Teheran.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah China, yang merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran. Peningkatan tekanan AS terhadap Iran berpotensi memperumit hubungan Washington dengan Beijing sekaligus meningkatkan risiko gangguan terhadap perdagangan minyak Iran.
Dengan demikian, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek, terutama apabila ketegangan AS-Iran kembali meningkat atau mulai mengganggu arus minyak melalui kawasan Timur Tengah.

