[Medan | 19 Agustus 2026] Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Selain itu, BI juga memutuskan untuk menahan suku bunga deposit facility di level 4,75% dan lending facility di level 6,50%.
Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar yang menilai BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan tingkat suku bunga di tengah rupiah yang mulai menguat dan inflasi domestik yang tetap terkendali. Di sisi lain, ketidakpastian pasar keuangan global dan risiko terhadap stabilitas nilai tukar membuat ruang untuk penurunan suku bunga masih terbatas.
BI Andalkan Instrumen Non-Suku Bunga
Salah satu faktor yang memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan BI-Rate adalah semakin efektifnya penggunaan instrumen moneter selain suku bunga, khususnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa mencatat penyerapan SRBI BI meningkat 300% secara week on week (WoW) menjadi Rp20 triliun dari sebelumnya Rp5 triliun. Sementara itu, permintaan terhadap SRBI mencapai Rp80,7 triliun, dengan mayoritas terkonsentrasi pada tenor 12 bulan sebesar Rp71,7 triliun.
Di tengah tingginya permintaan, yield hasil lelang SRBI justru menurun menjadi 7,06% untuk tenor 6 bulan, 7,21% untuk tenor 9 bulan, dan 7,37% untuk tenor 12 bulan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa BI masih dapat menggunakan SRBI untuk mengelola likuiditas sekaligus meningkatkan daya tarik aset rupiah, tanpa harus mengandalkan kenaikan BI-Rate sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Asing Masih Menunjukkan Minat terhadap SRBI
Arus modal asing memang mengalami perlambatan. Inflow portofolio asing tercatat turun 79% WoW menjadi sekitar Rp900 miliar pada pekan lalu. Namun, komposisi aliran dana tersebut menunjukkan investor asing masih memiliki minat terhadap instrumen berbasis rupiah.
Pada periode tersebut, dana asing yang masuk ke SRBI mencapai Rp2,7 triliun, sementara saham mengalami outflow sekitar Rp1 triliun dan SBN mencatat outflow sekitar Rp820 miliar. Dalam dua minggu pertama Agustus 2026, total inflow asing mencapai sekitar Rp9,6 triliun, dengan sekitar Rp9,5 triliun di antaranya mengalir ke SRBI. Hal ini mengindikasikan investor asing masih tertarik pada instrumen rupiah yang menawarkan yield relatif menarik dengan risiko yang dinilai lebih terukur.
Rupiah Mulai Mendapatkan Ruang
Kuatnya permintaan terhadap SRBI serta berbagai kebijakan stabilisasi BI turut memberikan ruang bagi penguatan rupiah. Secara month to date (MTD), rupiah telah menguat sekitar 1% menuju level Rp17.800 per dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja relatif baik di kawasan.
Risiko Indonesia juga menunjukkan perbaikan. Credit Default Swap (CDS) 5 tahun turun ke sekitar 84 basis poin, sementara aliran modal asing selama dua pekan pertama Agustus masih tercatat positif. Jessica menilai perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan BI masih dapat mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. “Dengan spread SRBI tenor 12 bulan – BI-Rate menyempit menjadi 162 bps dari 189 bps, instrumen non-suku bunga BI terlihat semakin efektif,” ujar Jessica dalam risetnya, Rabu (19/8/2026).
BI-Rate Berpotensi Bertahan hingga Akhir Tahun
Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Menurutnya, mempertahankan BI-Rate di level 5,75% merupakan opsi paling rasional untuk merespons kondisi ekonomi saat ini, dengan kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Inflasi domestik yang relatif rendah serta pemulihan rupiah ke kisaran Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS menjadi faktor yang mengurangi kebutuhan untuk menaikkan suku bunga. Namun, risiko pelebaran defisit transaksi berjalan serta ketidakpastian imbal hasil global membuat ruang penurunan suku bunga masih belum aman. “Kondisi-kondisi tersebut menghasilkan titik keseimbangan yang cukup jelas pada 5,75%,” ujar Josua.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, BI-Rate diperkirakan masih akan bertahan di level 5,75% hingga akhir 2026. Arah kebijakan moneter baru berpotensi lebih longgar apabila arus modal asing mulai beralih secara konsisten ke Surat Berharga Negara (SBN) dan investasi langsung.
Sebaliknya, risiko kenaikan suku bunga tetap terbuka apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat secara persisten, terutama jika nilai tukar melemah melewati level Rp18.300 per dolar AS. “Namun dalam skenario dasar Agustus, menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi dan daya tarik instrumen rupiah memberikan perbandingan manfaat dan biaya yang lebih baik dibandingkan menaikkan ataupun menurunkan BI-Rate,” terang Josua.

