[Medan | 8 Juni 2026] Bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya pada Mei 2026, memperpanjang tren akumulasi emas selama 19 bulan berturut-turut di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global dan tekanan terhadap sistem keuangan internasional berbasis dolar AS.
Berdasarkan data resmi yang dirilis pada Minggu (7/6/2026), cadangan emas milik People’s Bank of China (PBOC) bertambah sekitar 320.000 troy ons sepanjang Mei. Dengan tambahan tersebut, aksi pembelian emas oleh bank sentral China kini mencatat rekor terpanjang setidaknya sejak 2015, periode ketika PBOC mulai secara rutin mempublikasikan data cadangan emas mereka.
Langkah agresif China menambah kepemilikan emas terjadi di tengah pelemahan harga logam mulia sepanjang Mei. Harga emas global tercatat mengalami penurunan bulanan untuk tiga bulan berturut-turut setelah sempat menyentuh rekor tertinggi pada akhir Januari lalu.
Tekanan terhadap harga emas terutama berasal dari meningkatnya ekspektasi suku bunga global yang akan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer), seiring inflasi yang masih persisten akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga energi dunia. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memperkuat dolar AS, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Meski demikian, pembelian emas oleh bank-bank sentral global tetap menjadi penopang utama harga logam mulia dalam beberapa tahun terakhir. Tren ini mencerminkan meningkatnya dorongan diversifikasi cadangan devisa di tengah fragmentasi geopolitik global serta kekhawatiran terhadap dominasi dolar AS dalam sistem keuangan internasional.
Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan permintaan emas dari bank sentral masih akan tetap kuat dalam jangka menengah. Menurut bank investasi tersebut, eskalasi geopolitik dan meningkatnya risiko sanksi finansial global membuat banyak negara mulai memperbesar alokasi aset safe haven seperti emas dalam cadangan devisa mereka.
Bagi China, akumulasi emas juga dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat stabilitas cadangan devisa serta mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar AS di tengah meningkatnya tensi geopolitik dengan Amerika Serikat.
Secara pasar, aksi pembelian berkelanjutan oleh PBOC menjadi sinyal bahwa permintaan institusional terhadap emas masih tetap solid meskipun harga sedang terkoreksi. Hal ini berpotensi membatasi penurunan harga emas lebih dalam, terutama apabila ketegangan geopolitik global kembali meningkat atau ekspektasi penurunan suku bunga global mulai muncul kembali pada paruh kedua tahun ini.

