IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

OPEC+ Tambah Produksi 188.000 Barel per Hari Mulai Juli 2026

By Aurelia Tanu 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ investor.id
SHARE

[Medan | 8 Juni 2026] Kelompok produsen minyak OPEC+ kembali menyepakati peningkatan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari (bpd) mulai Juli 2026. Keputusan ini menandai kenaikan produksi selama empat bulan berturut-turut meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah masih mengganggu distribusi energi global, terutama akibat penutupan Selat Hormuz.

Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan tujuh anggota inti OPEC+ pada Minggu (7/6/2026), yang terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman. Kenaikan produksi Juli memiliki besaran yang sama seperti Juni, namun lebih rendah dibanding penambahan produksi pada April dan Mei yang sempat mencapai sekitar 206.000 bpd per bulan.

Meski secara nominal OPEC+ terus meningkatkan kuota produksi, pasar menilai dampaknya terhadap pasokan global masih sangat terbatas selama jalur distribusi utama energi dunia di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah menyebabkan gangguan besar terhadap pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Situasi tersebut memicu salah satu krisis pasokan energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir dan membuat sejumlah anggota OPEC+ kesulitan memenuhi permintaan pelanggan sejak akhir Februari.

Data resmi OPEC menunjukkan produksi kelompok tersebut justru turun signifikan menjadi 33,19 juta bpd pada April 2026 dibandingkan 42,77 juta bpd pada Februari sebelum eskalasi konflik meningkat.

“Kenaikan produksi OPEC+ memiliki arti yang sangat kecil selama Selat Hormuz masih tertutup,” ujar analis Rystad Energy sekaligus mantan pejabat OPEC, Jorge Leon.

Menurutnya, ketika jalur distribusi energi kembali dibuka normal, pasar justru berpotensi menghadapi perubahan sentimen yang cepat dari kekhawatiran kekurangan pasokan menjadi risiko kelebihan pasokan global.

Pasar minyak sendiri masih bergerak sangat volatil. Harga minyak Brent pada Jumat lalu ditutup di level US$93,09 per barel, turun 2,04%, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$90,54 per barel atau melemah 2,69%. Penurunan tersebut dipicu meningkatnya harapan pasar bahwa konflik AS-Iran tidak akan berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

Namun demikian, harga minyak tetap jauh lebih tinggi dibanding level sekitar US$72 per barel sebelum konflik Timur Tengah kembali memanas.

Selain tekanan geopolitik, OPEC+ juga menghadapi tantangan internal setelah Uni Emirat Arab (UEA) resmi keluar dari OPEC setelah hampir 60 tahun menjadi anggota. Keluarnya UEA memaksa kelompok tersebut melakukan penyesuaian ulang terhadap kuota dan baseline produksi jangka panjang.

Peningkatan produksi saat ini merupakan bagian dari proses bertahap pemulihan pemotongan output sebesar 1,65 juta bpd yang disepakati OPEC+ sejak 2023. Berdasarkan perhitungan Reuters, mulai Juli 2026 kelompok tersebut masih memiliki sisa sekitar 567.000 bpd pemangkasan produksi yang belum dikembalikan ke pasar.

Jika OPEC+ mempertahankan kenaikan produksi sekitar 188.000 bpd pada Agustus dan September mendatang, maka seluruh pemotongan produksi 2023 diperkirakan akan sepenuhnya dipulihkan pada akhir kuartal III-2026.

Dalam pertemuan terpisah yang melibatkan seluruh anggota OPEC+, para menteri energi juga sepakat untuk mempertahankan kebijakan produksi utama hingga akhir 2026 tanpa perubahan tambahan. Pada saat yang sama, OPEC+ masih melakukan peninjauan kapasitas produksi masing-masing anggota yang nantinya akan menjadi dasar penetapan kuota produksi tahun 2027.

Secara pasar, keputusan OPEC+ menambah produksi memberikan sinyal bahwa kelompok produsen minyak tersebut mulai bersiap menghadapi normalisasi pasokan global pascakonflik. Namun selama ketegangan di Timur Tengah dan gangguan distribusi di Selat Hormuz masih berlangsung, dampak tambahan produksi terhadap penurunan harga minyak diperkirakan tetap terbatas.

Bagi Indonesia, harga minyak yang masih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan impor energi, memperbesar defisit migas, dan menekan stabilitas nilai tukar Rupiah. Kondisi ini juga dapat mempersempit ruang penurunan suku bunga Bank Indonesia dalam jangka pendek karena risiko imported inflation masih tetap tinggi.

 

You Might Also Like

Bank of China Lanjut Borong Emas 19 Bulan Beruntun

Siap-siap! Hari Ini Ada Rilis Cadangan Devisa RI Mei 2026

Harga Minyak Kembali Naik Usai Iran Tembak Rudal ke Israel

Istana Gelar Pelantikan Hari Ini, Bakal Ada Reshuffle Kabinet?

AS Siapkan Sanksi Untuk Presiden Kuba

TAGGED: harga minyak, OPEC+
Aurelia Tanu June 8, 2026 June 8, 2026
Previous Article Bank of China Lanjut Borong Emas 19 Bulan Beruntun
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?